Sudah lewat tengah malam, Aku belum juga bisa tertidur. Aku merasa gelisah memikirkan betapa banyak rakyat yang terdampak akibat hama itu. Pangeran juga mengatakan kalau itu adalah 'kekacauan lainnya'. Berarti ada begitu banyak kekacauan di wilayah Arendelle atau bahkan kerajaan-kerajaan di bawah kekaisaran Arendelle. Aku tidak akan bisa tertidur sebelum tahu apa yang benar-benar terjadi. Aku bangkit dari ranjang kami. Eve sudah tertidur pulas. Aku membuka pintu balkon. Aku ingin sekali berbicara dengan pangeran.
Muffin, naga biru-merah muda milik Pangeran bertengger manis di pagar balkon. Dia menguap dan terbatuk asap merah muda. Aku perlahan mendekat. Naga kecil itu mengedip dan mengusap usap kepalanya ke jemariku. Aku tersenyum, "Kamu juga tidak bisa tidur muffin?" Muffin mencuit lagi. Tampaknya Muffin senasib denganku. "Aku ingin berbicara dengan pangeran, Muffin," keluhku padanya. "Apa kamu tahu di mana aku bisa menjumpai pangeran?"
Muffin mengangkat kepalanya, sepertinya dia senang mengetahui di mana pemiliknya. Aku tertawa dan mengelus kepala mungilnya. "Tidak sekarang, Muffin." Aku menundukkan pandanganku dan mengelus hidungku ke moncong muffin. "Sebenarnya aku ingin bertemu dengan pangeran sekarang. Bisa tunjukkan di mana dia?"
Muffin mendengus dan mengangkat kepalanya senang. Ia terbang masuk ke dalam ruanganku dan Eve dan mematuk matuk pintu kamar. Aku membukanya, membiarkan dia terbang ke lorong dan mengikutinya. Mungkin karena sudah malam, aku tidak melihat lagi para pelayan yang bekerja pagi tadi. Kami menuruni tangga lalu melintasi aula utama dan menaiki tangga yang membelah aula.
Kami terus berjalan sampai menemui sebuah lorong luas yang hanya memiliki satu pintu raksasa. Muffin menembus pintu itu meninggalkan kepulan kecil asap merah muda. Aku menunggu sampai seseorang membukakan pintu itu.
Tidak lama, pintu megah itu membuka di tengah. Seorang pria tampan lainnya, berambut pirang dengan mata besar yang memikat membuka pintu dan menyapaku. "Ah, Putri Luelle dari kerajaan Celestria, ada perlu apa menyambangi kamar pribadi pangeran tengah malam begini?"
Mataku membulat. Kamar pribadi katanya?1 MUUUFFIIINNN!!! Aku mengerjap cepat. Pipiku memanas. "Bukan, bukan seperti itu!" kataku panik.
"Jangan goda dia, Llyod" Ucap pangeran Aetherian datar. Sepertinya pangeran sedang sibuk atau memang pangeran terbiasa bekerja sampai larut?
Pria yang dipanggil Llyod itu menyeringai. "Apa maksudmu hanya dirimu yang bisa menggodanya, Aetherian?"
Pintu itu terbuka lebar. Llyod mempersilahkanku masuk. Pangeran sedang bekerja di meja bulat dekat jendela besar. Pangeran menghela napas. Ia mengenakan kacamata persegi panjang polos, membuatnya semakin tampan saja. Aku terkejut dengan pikiranku.
Tanpa mengangkat pandangannya dari kertas-kertas di tangannya, tangan kiri pangeran mengelus muffin. di situ muffin rupanya! Muffin mengelus eluskan kepalanya ke tangan pangeran. Dia tampak bangga terhadap dirinya, seperti sudah dihadiahi imbalan besar.
"Dia sedang sibuk, bicara denganku saja, Luelle" Llyod tersenyum usil.
Kertas di tangan pangeran menegang. Pangeran menghela napas. "Llyod" ucapnya pendek dan terdengar seperti ancaman.
Llyod mengangkat kedua tangannya ke udara. "Rileks"
Pangeran meletakkan kertas-kertas di tangannya. Muffin melesat dari tangannya dan mematuk kepala Llyod.
"Hey, aku kan sudah angkat tangan!" Ucap Llyod yang semakin menjauh karena terus dipatuk muffin. "Oke, Oke... aku akan keluar.."
Pintu tertutup dan meninggalkan Aku berdua dengan Pangeran. Aku menelan ludah, oke jangan gugup. Aku tersenyum dan meremas gaunku. "Aku.. hanya tidak bisa tidur, yang mulia."
"Aetherian," koreksinya.
"Yang Mulia.."
"Aetherian."
Nafasku tercekat. Kenapa dia memaksa?
Pangeran tersenyum. "Maaf." Ia tidak balas memandangku dan memilih menunduk. Dadaku sesak melihatnya.
"Tidak.. tidak perlu minta maaf.. Aetherian" Aku melangkah mendekat dan menatapnya. "Aetherian.. apa boleh begitu?"
Aetherian menghela nafas. "Maaf, Anda tidak perlu memaksakan diri"
Aku menggigit bagian bawah bibirku. "Kan aku sudah bilang, aku akan memanggilmu Aetherian"
"tapi itu karena aku memaksamu"
"tidak.. kamu..." Aku berhenti dan merunut apa yang sedang terjadi. "tunggu, apa kamu cemburu karena Llyod memanggil namaku?"
Aetherian mengernyit. "Jangan panggil dia dengan namanya."
Aku menghela nafas. cemburu rupanya.
Aku mendekat dan menangkupkan wajahnya agar pangeran menatapku bukannya jendela ataupun kertas. "Aetherian"
Mata pangeran bergetar lalu melembut. "Boleh aku memanggilmu, Luelle?"
Aku mengangguk. Aku mendaratkan dahiku ke atas dahinya dan menutup mata. "Aetherian... maafkan aku karena membuatmu bekerja sendirian untuk mewujudkan dunia impian ku...dan.. dunia impianmu."
Aku merasakan telapak tanganku basah. aku membuka mataku dan menemukan mata pangeran berkilap. Air mata berlinang melintasi pipinya dan mendarat di tanganku. Aetherian tidak mengatakan apapun. Aku membiarkannya menangis dan menutup mataku lagi.
Aku sudah membiarkannya terlalu lama berjuang sendirian.
***
"Luelle." Suara lembut Aetherian memecah keheningan.
Aku membuka mataku dan menemukan Aetherian memandangku dengan mata yang sama. Kelelahan. Aku masih menangkupkan wajahnya. "Aetherian"
Aetherian tertawa kecil. "Aku sampai lupa, apa yang membuatmu kemari?"
Aku menjauhkan wajahku, tersenyum. "Aku tidak bisa tidur, karena ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi"
Aetherian balas tersenyum dengan kelelahan yang bertambah. Ia tertawa keci lagi dan mengusap tengkuknya. "Ah... soal itu..." Aetherian berdiri dan mengambil gulungan kertas dari lemari bukunya. "Ini baru beberapa masalah yang sudah dilaporkan hingga minggu lalu. Muffin... panggil Llyod masuk"
PUFF... si muffin kecil yang nakal muncul dengan kepulan asap merah muda mengepak-ngepakkan sayapnya antusias lalu menghilang lagi. Pintu terbuka seketika. Llyod melangkah masuk dan batuk, "EHEM... lama sekali kalian berdua"
Aetherian menghela nafas. sepertinya, Aetherian hobi mendengus kalau dekat-dekat Llyod. "Bantu aku jelaskan masalah dengan Putri Luelle"
Aku mengernyit dan menatap Aetherian marah. hey bukaankah kita sudah bertengkar karena masalah panggilan ini?
Ujung telinga Aetherian memerah. Ia berdehm. "Maksudku, Luelle"
Llyod menyeringai. Senang sekali dia menjahili Aetherian. "Ah.. sudah sampai tahap panggilan dengan nama depan. Padahal baru sebentar kutinggal." Llyod menyambar gulungan di tangan Aetherian. "Gulungan sialan ini, gara-gara gulungan ini pekerjaanku tambah banyak."
Aetherian menjetikkan jari dan muffin mematuk kepala Llyod lagi. "HEY, KALIAN BERDUA KENAPA?!"
"Yang pasti mereka berdua kesal denganmu, Llyod"
Aetherian cemberut lagi dan Llyod menyeringai lebar. ASTAGAAA!!!
"ooh, jadi kamu bukan putri pemalu, kukira kamu hanya bisa tersipu saja dan berlindung dibalik Aetherian, membiarkan dia bekerja sendirian sampai mati"
Aku berjalan mendekati Llyod dan menginjak kakinya. Aku memelototinya. "Kata-katamu itu keterlaluan."
"Llyod" Aetherian hanya memanggil namanya saja, tetapi sepertinya itu berbeda bagi Llyod.
Llyod diam tak bergeming. Untuk pertama kalinya malam ini, Llyod menghela nafas. "Maaf atas kelancangan saya, Yang Mulia Putri Luelle" Llyod memberi hormat.
Dadaku terasa sesak. Selama ini, Aetherian bekerja sendirian sampai... mati?
Aku memandang Aetherian. Pandanganku mengabur. "Benarkah itu, Aetherian?"
***