Aku menangis selama satu jam penuh, sampai-sampai Aetherian meminta Llyod untuk membangunkan Evangeline. Eve datang tergopoh-gopoh, kedua pipinya merona merah. Eve panik dan meminta Llyod membawa kue coklat kesukaanku dan coklat panas. Eve bilang, ini darurat, Luelle harus cerita sampai tuntas baru bisa selesai menangisnya. Llyod ikut panik karena dia tahu dia pelakunya.
Aetherian hanya menghela nafas dan memijat keningnya.
Aku merengek. "Maaf sudah membuatmu tambah sakit kepala, Aetherian" Aku merengut.
Aetherian hanya tersenyum lembut dan membuatku tambah menangis.
Eve duduk di sisiku dan menyelimutiku dengan selimut berwarna hitam milik Aetherian, menyuapiku dengan kue dan memberi coklat panas ke tanganku. "Oke oke... ceritakan pelan-pelan.. aku di sini.. kita punya kue coklat satu bulatan penuh untuk menyelesaikan ceritamu"
"hiks... hiks... Aku membuat masalah Eve"
Eve mengusap punggungku lalu menyuapiku lagi dengan kue coklat. "Oke, apa masalahnya berat sekali? atau banyak sekali?"
Aku menyambar gulungan sialan itu dan membukanya lebar-lebar. "Banyak dan berat.. tapi belum kupikirkan.. tapi sepertinya bisa dipikirkan.. tapi banyak.. dan ... dan..."
Eve mendorong cangkir ke mulutku. "oke oke.. minum dulu.. minum..."
Aku menyesap coklat panas itu dan menghela nafas lega tapi menangis lagi. "dan... dan .. ternyata Aetherian selama ini... hiks... hiks... mengerjakan semuanya... semua yang kutulis... di perkamen sialan itu... dan.. dan.. si pirang itu bilang... kalau Aetherian bekerja sendirian sampai mati.."
Eve segera mendaratkan tatapan menusuk ke si pirang, pelaku kekejaman ini. Eve segera berdiri dan menunjuk-nunjuk wajah si pirang. "Jadi, kau pelakunya? Dasar! Ternyata kau hanya tampang saja tapi tidak tahu cara menyampaikan berita dengan lembut kepada wanita!"
Llyod terkesima dan tertawa nyaring. "Aku hanya mengatakan yang sebenarnya, Nona?"
Aetherian sudah kembali sibuk membaca laporan-laporan lagi di meja bundar dekat jendela itu lagi, tetapi sekarang tangan kirinya sibuk memijat-mijat keningnya.
malam yang suram untuk calon kaisar.
***
Eve dan Llyod sudah tertidur pulas di sofa. Mereka saling tunjuk-menunjuk sampai mengantuk dan terkapar. Mereka gugur di tengah medan pertempuran karena diserang kantuk. Kepalaku sudah membentur-bentur headboard ranjang Aetherian dan bersikukuh untuk tetap terbangun menemani Aetherian yang belum juga tertidur.
"Luelle," panggilnya lembut.
Aku terantuk dan terbangun. "Tidak, aku akan menunggumu"
Aetherian tersenyum. Dia duduk di tepi ranjang. Aku menyandarkan kepalaku ke punggungnya. Hanya sebentar saja... Aku tidak akan tertidur... Aku merasakan sesuatu mengelus kepalaku.
"Keras kepala" bisik suara itu. "Bagaimana bisa aku bekerja jika kamu bersikeras seperti itu"
cup... sesuatu yang hangat menyentuh keningku. Aetherian menarikku pelan ke ranjang dan menyelimutiku. Ranjang di sisiku terenyak oleh berat Aetherian.
Hoaam... akhirnya, kami kalah perang oleh kantuk. TAMAT.
***
"AETHERIAAANN... LUELLE MENGHILANG!!!"
Llyod dan Eve berteriak sampai mau pecah gendang telingaku.
Aku? Hilang? tent.. Aku membuka mataku lebar-lebar. Aku terbangun dan melihat ke sisiku. Aetherian masih terpejam. Kantung matanya sampai terlihat. Rambut hitamnya berantakan. Aku tertawa kecil. masih pagi tapi sudah tampan... Tanganku bergerak menyentuh pipinya. Garis rahangnya tajam sekali dan hidungnya tinggi. Bulu matanya juga panjang.
Aetherian bersandar ke tanganku dalam tidurnya. Aku tersenyum.
BRAAK!!!
Llyod dan Eve berdiri di tengah-tengah pintu yang menganga lebar bersama para ajudan dan pelayan yang memandangi kami. Eve pingsan di tempat. Llyod? Nyaris pingsan. Tapi pintu masih menyelamatkannya. Ia bersandar ke pintu dan segera menyuruh para pekerja keluar dari ruangan Aetherian.
Aku menempatkan telunjukku di bibirku. "Sssssttt... Aetherian masih tidur"
Llyod mengangguk cepat dan segera mengangkat Eve dan menutup pintu.
Aku kembali berbaring di sisi Aetherian. "Aetherian... masih ingin tidur?" bisikku.
Kedua matanya mengerjap. Aetherian tersenyum begitu melihatku. "Luelle?"
satu. dua. tiga.
Aetherian terperanjat. "Luelle?!"
"Tidur saja dulu.. kagetnya nanti saja," ucapku dan menuntunnya untuk berbaring kembali.
Aetherian terlihat bingung lalu tertawa. Ia mengecup keningku lalu menarikku untuk berbaring kembali.
***
Aku terbangun di ranjang Aetherian sendirian. Tampaknya Aetherian sudah pergi bekerja. Pelayan yang bekerja untuk Aetherian berbisik-bisik. Aku melempar senyum ramah, berjalan menuju kamarku kembali dari ruangan pribadi Aetherian. Ketika tiba, Eve sudah menungguku dengan bungkusan es yang mengompres keningnya.
"Ah, Luelle.. akhirnya kamu bangun dari tidurmu.. Aku dan Llyod panik membereskan masalah kalian berdua.. bisa-bisanya hubungan kalian berkembang secepat ini."
Aku mengernyit, kedua alisku bertaut. "Sebentar, sepertinya kamu salah paham.."
"Kalian berdua tidur dan melakukan itu kan?" Aku segera menutup mulut Eve dengan tanganku.
"Astaga.. jangan keras-keras.. bagaimana jika ada yang dengar dan salah paham..."
Eve menghela nafas dan menurunkan tanganku. "Luelle.. aku.. hanya ingin mengatakan kalau, Aetherian itu sudah bertunangan.. kamu tahu kan.. putri Kerajaan Genovia.. dia sudah menemani Aetherian sejak lama... Llyod juga bilang..."
Aku tidak bisa mendengarkan sisanya karena aku lebih mendengarkan keheningan yang tiba-tiba muncul di dadaku yang tadinya berisik. Salah paham rupanya...
***