Hari ini, Ariska a.k.a Areksa sudah siap dan rapi dengan pakaian sekolahnya.
"Huh, kembali sekolah lagi. Males banget!" gerutu gadis itu dalam hati.
Setelah memakai bedak tabur dengan tipis dan sedikit polesan lipbalm, Ariska turun dengan tas yang bertengger di bahu kirinya saja.
Untung saja wajah Ariska tidak tembem dan pesek. Bisa bisa Areksa operasi plastik kalau begitu. Hanya saja bentuk tubuh yang agak sedikit berisi.
Wajah Ariska sangat tegas dengan bibir tipis dan hidung mancung serta mata yang tajam. Sayangnya, Ariska yang dahulu suka memakai kacamata.
Jadi, walaupun Ariska dahulu selalu mengancam dengan tatapan. Semua orang tak akan pernah takut. Tetapi, sekarang Areksa akan mengubah semua penampilannya.
Saat sampai di meja makan, ternyata hanya ada Bunda, Ayah dan Abang-Abang Ariska.
"Gimana sekolah kamu boy?" tanya Adrian pada ketiga putra nya.
"Baik Ayah." jawab serempak mereka.
****
Ariska mempunyai tiga abang, yaitu :
1. Kara Abraham. 18 tahun. Bersekolah di SMA PELITA RAYA bersama dengan ketiga adiknya. Sangat membenci Ariska. Bukan hanya karena penampilannya, tetapi juga karena kebodohannya.
2. Andre Abraham. 18 tahun. Sama dengan Kara. dia juga membenci Ariska dengan alasan yang sama. Kara dan Andre kembar.
3. Altar Abraham. 17 tahun. Kembaran Ariska. Sama seperti kedua abangnya, membenci Ariska.
Sang Bunda bernama Arasty Abraham. Sedangkan Ayahnya bernama Adrian Abraham.
Sebenarnya, Ariska itu cantik. Hanya saja tertutupi dengan pewarna badan berwarna cokelat. Dan dirinya juga tidak minus, entah mengapa dia memakai kacamata.
****
"Pagi." sapa Ariska pada semua yang kini telah berada di meja makan. Hanya sekedar basa-basi.
Abang-Abang Ariska terpana melihat kecantikan Ariska.
Ariska kini sudah tidak memakai kacamata beserta baju kebesarannya itu dan.. apa ini? kulitnya menjadi putih bersih?
Iya, Areksa sore kemarin memesan baju online dan baru datang saat malam hari.
"Lo pake pemutih instan ya?" tuding Al memicingkan mata.
"Eh, kayak ada yang ngomong, ya?" tanya Ariska mengibas ngibaskan tangannya ke udara.
Al mendelik tak suka mendengarnya. "Atau jangan jangan lo jadi l***e ya?" tuduhnya lagi.
“Emang jadi l***e bisa bikin putih, ya?” tanya Andre dengan berbisik pada Al.
“Hm. Kan duitnya di pakai buat suntik pemutih.” Balas Al lagi dengan suara yang sengaja di keraskan.
Ariska yang mendengar itu menghentikan makannya dan memandang Al dengan senyum miringnya.
"Apa lo bilang? Gue jadi l***e?" Al mengangguk tanpa rasa takut sedikitpun.
Bahkan abang-abang beserta bunda dan Ayah ikut menonton perdebatan mereka, tak ada niat untuk menegur maupun menghentikannya.
Mereka kira, Ariska akan menangis seperti dahulu. tetapi, dugaan mereka salah.
"Cewek lo kali yang ngelownte." ucap Ariska dengan tenang dan kembali melanjutkan makannya.
Mereka semua terkejut terutama Al. Al yang tersadar dengan cepat melemparkan gelas kaca kearah Ariska. Dan..
hap
"Kalau mau ngelempar itu pake duit kek, kalau gelas kayak gini mah gak ada harganya." ucap Ariska terkekeh lalu berdiri dari duduknya.
Mood gadis itu untuk sarapan sudah sirna. Walaupun dia tertawa namun tak bisa dipungkiri bahwa dirinya juga emosi saat ini.
Tanpa berpamitan, Ariska pergi begitu saja lalu menaiki motor sportnya.
"Jaga omongan kalian! Kalau Ariska tidak mau menurut lagi, bagaimana?!" bentak Ayah Adrian yang diangguki Bunda Ara.
"Kita ke sekolah dahulu." pamit mereka bertiga lalu berjalan menuju garasi untuk mengambil motor.
****
Bruumm Bruumm
Motor yang dikendarai Ariska memasuki parkiran sekolah.
Ariska membuka helmnya membuat semua murid yang berlalu lalang terpana akan kecantikan Ariska.
Mereka tak tau bahwa itu adalah Ariska si cupu dan bodoh.
'Anjir! itu siapa?'
'Cantik banget!'
'Ngalahin Ratu anjir!'
'Nah iya bener'
'Calon istri gue itu!'
'Sayang, pacarmu di sini.'
Begitulah kira kira pekikan murid murid SMA PELITA RAYA saat melihat Ariska. Tidak lama, suara deru motor para mostwanted sekolah berdatangan.
Ariska turun dari motor dan memilih untuk berjalan kearah kantin membeli beberapa permen.
Lalu berjalan dengan anggun nya melewati Rion dan abang-abangnya beserta para sahabat mereka.
Saat berada didepan Rion, Ariska dengan sengaja mengedipkan sebelah matanya dan menatap menggoda pada lelaki itu.
's**t!' umpat Rion dalam hati.
Bahkan sahabat Rion yang berada dibelakangnya , ikut tergoda.
"Dia siapa?" tanya Arkan pada Rion yang kini masih menatap Riska yang kian menjauh.
"Dia Ariska." jawab Al yang juga memandangi Ariska.
Arkan terkejut bukan main, Ariska yang cupu itu? menjadi gadis cantik?
"Masuk!" titah Kara pada mereka semua.
Disisi lain, Ariska berjalan dengan riang sambil bernyanyi.
"Mari kita bekerja, bedah tubuh mereka~" nyanyi Riska dan menunjuk salah satu perempuan yang berpakaian ketat.
"Jadikanlah organnya, buat kita kaya raya~" lanjutnya tersenyum bahagia.
Membuat siswa dan siswi yang berlalu lalang menatap Ariska aneh.
Sesampainya didepan kelas, Riska menendang pintu, membuat semua yang berada di dalam terjengkit kaget.
Untung saja mereka tidak latah.
"Anjing, siapa yang gebrak pintu sih?! Anj---" ucapan Rijal terpotong saat melihat sang pelaku yang kini berdiri dengan wajah polosnya sambil memakan permen.
"A-Aku y-yang n-nendang." ucap Riska menunduk berpura pura takut.
"Eh, eh. Gapapa kok neng cantik, namanya siapa? murid baru ya? maafin Aa ya?" tanya Rijal merangkul bahu Riska.
Riska tertawa mendengar ucapan Rijal."Gue Ariska Anandya."
Sontak pernyataan Ariska membuat seluruh murid XI IPA F menganga.
Iya, Riska berada di kelas yang ujung. Ya kalian taulah bagaimana kelas ujung itu.
"L-Lo Ariska? Ariska cupu itu?" tanya Rijal dengan mata membulat dan mulut yang menganga.
Ariska mengangguk lalu memasukkan permen yang berada di mulutnya ke mulut Rijal yang masih menganga.
"Gratis! Gak usah dibayar." ucap Ariska menahan tangan Rijal saat lelaki itu ingin mengeluarkan permen bekas mulut Ariska.
Gadis itu berjalan menuju bangku pojok yang kosong dan menelungkupkan wajahnya menunggu guru mata pelajaran masuk.
Murid murid di sana masih saja menatap Ariska yang kini tertidur. Biasanya, Ariska akan membaca buku mata pelajaran walaupun tak masuk ke dalam otak.
Namun, kali ini berbeda. Gadis itu lebih memilih untuk tidur.
Kringg kringg kringg
Bell masuk berbunyi, membuat semua siswa siswi yang tadinya menatap Ariska kini duduk dengan rapi.
Hari ini adalah pelajaran Matematika. Mana gurunya Killer lagi. Sedangkan Ariska masih tertidur, tak ada yang mau membangunkannya.
"Selamat pagi anak anak. Kali ini kita lanjutkan mater---siapa dibelakang sana yang berani beraninya tidur dimata pelajaran saya?!"
Brak
Guru itu berteriak dan menggebrak meja membuat murid yang berada didalam kelas terlonjak kaget.
"Siapa dia?! Hah?!" teriak guru itu lalu berjalan menuju meja Ariska.
Brak
"Bangun!" Ariska terjengkit kaget mendengar suara pukulan dan teriakan itu bersamaan.
"Apaan sih anji---eh ibu gendut. Pagi bu." safa Ariska dengan wajah tak bersalahnya.
Perkataan Ariska sontak membuat sekelas menahan tawanya sedangkan wajah guru killer itu sudah memerah karena marah dan malu.
"Kamu siapa?!" bentak guru itu.
Ariska dengan senang hati berdiri dan memperkenalkan dirinya. "Saya Ariska Anandya. Cewek culun dan bodoh, tetapi sekarang udah berubah kok." ucapnya sambil tersenyum manis.