Kini dikantin, Ariska sedang makan bersama Rijal sang ketua kelas.
Pasalnya, saat dikelas tadi. Rijal dengan tampang sok-nya meremehkan kecerdasan Areksa.
Flashback
"Ohh jadi kamu merasa diri kamu pintar, begitu? Heh! inget ya Riska nilai kamu itu di mata pelajaran manapun gak ada yang tinggi." ucap guru itu dengan nada sombongnya.
Sedangkan para murid hanya menyaksikan perdebatan pagi pagi ini.
"Yaudah kalau ibu gak percaya, silahkan kasih saya soal yang susah menurut ibu." tantang Riska dengan senyuman manisnya.
Padahal di hatinya ingin sekali memutilasi guru dihadapannya ini.
Guru itu tersenyum meremehkan dan maju untuk menulis soal yang menurutnya susah.
"Sini kamu! Kalau salah satu soal ada yang salah, nilai kamu semester ini di mata pelajaran saya akan kosong!" ucap guru itu dengan nada sok-nya.
Ariska dengan santai maju kedepan. Baru saja ingin menulis, Rijal, ketua kelas tiba tiba menyela.
"Kalau lo bisa gue traktir lo di kantin hari ini!" teriak Rijal dari bangkunya.Mendengar itu membuat Ariska semakin semangat
"Saya juga akan memberikan dia nilai tambahan di semester ini." ucap guru itu masih dengan wajah songongnya.
Ariska dengan senang hati mengerjakannya. tak menunggu waktu lama, hanya 10 menit untuk 5 soal diatas.
"Selesaii!!" pekik girang Ariska.
Guru itu mulai memeriksa. Tak lama kemudian, guru itu menatap tak percaya pada Ariska yang kini sedang memakan permen karet.
"Gimana bu? saya dapet nilai tambahan kan? walaupun saya gak masuk dipelajaran ibu nilai saya tetap ada kan?" tanya beruntun Ariska lalu membulatkan permen karetnya.
Gadis itu berjalan ke arah guru gendut yang masih menatap tak percaya pada dirinya.
"Kalau saya mutilasi... mau?" bisik Ariska ditelinga guru gendut membuat wanita itu menegang.
Flashback off.
"Makanya jangan pandang remeh seseorang!" ucap Ariska di sela sela makannya. Sedangkan Rijal hanya menatap Ariska yang sedang makan.
"Kok lo cepet banget berubahnya? baru sehari doang gak masuk sekolah udah berubah. Bahkan dari wajah dan kelakuan semua berubah." Ucap Rijal tiba-tiba.
"Kalau berubah jangan setengah setengah. Langsung aja semuanya. Iya gak?" tanya Ariska membuat Rijal mengangguk bingung.
"Yaudah, makasih ya bro. Tinggal dibayar tuh." pamit Ariska lalu pergi dari sana.
Rijal melongo melihat mangkuk bakso, piring batagor dan piring nasi goreng sudah bersih seperti sudah di cuci saja.
****
Kini, Ariska sedang berada di taman belakang. Sebenarnya tadi inginnya ke rooftof, tapi pasti ada Kara dkk.
Malas sekali!
Ariska duduk disana dan menghadap langit lalu memejamkan mata. Cara Areksa menikmati hidup ya seperti ini.
Hingga seseorang tiba tiba duduk disampingnya. Walaupun orang itu berjalan dan duduk dengan pelan, tapi Areksa tau bahwa ada orang yang mendekat padanya.
"Kenapa?" tanya Ariska dengan mata yang masih terpejam.
Seseorang itu tersentak kaget, "Lo tau gue disini?" tanya orang itu.
Ariska mengangguk, "Masih kedengeran suara langkah dan duduk lo." ucapnya yang kini sudah membuka mata.
Ternyata yang datang adalah Arkan.
"Pendengaran lo tajam juga ya? biasanya lo gak bakalan denger kalau gue ada didekat lo." ucap Arkan menatap wajah Ariska dari samping.
Ariska terkekeh, "Itu dulu, sekarang gue udah berubah."
"Alasan lo untuk berubah karna Arion?" tanya Arkan menaikkan sebelah alisnya.
"Emang dia pantes buat gue jadiin alasan perubahan gue?" tanya balik Ariska.
Arkan menggeleng sebagai jawaban. "Bagus sih lo berubah, tapi gue kira kulit lo emang coklat."
"Seharian kemarin luluran, tiap jam, makanya jadi putih." jawab Ariska yang kini sudah memejamkan matanya lagi.
Arkan tak menjawab, ia lebih memilih untuk memandangi wajah cantik Ariska. Sebelum Ariska berucap membuatnya berhenti menatap gadis itu.
"Tatap aja terus sampai lo kembar sama gue." ucap Ariska disertai kekehan kecil.
"Sana masuk! gue pengen tiduran disini." titah Ariska mendorong dorong lengan Arkan.
"Tidur di paha gue aja, mau?" tawar Arkan.
Ariska sedikit menimang hingga akhirnya mengangguk dan menidurkan kepalanya di paha Arkan sebagai bantal.
Untung saja Arkan membawa jaket, jadi bisa menutupi paha Ariska.
Ariska sadar bahwa sedari tadi ada yang memperhatikan mereka. Tapi, Ariska terlalu mengantuk untuk melihatnya.
'Anjing! Gue bakalan labrok lo Riska!’
****
Disisi lain, tepatnya di roftoof. Segerombolan lelaki remaja bolos disana. Mereka yang tak lain dan tak bukan adalah geng motor Graventas.
Yang di pimpin oleh Kara, Anggota inti ada Arion, Al, Arkan, Andre, William, dan Julyan. Geng yang baru saja di buat oleh Kara.
"Lo ngerasa ada yang beda gak sih dari Ariska? Kayak gimana gitu." ucapan tiba tiba William membuat semua aktifitas geng Graventas terhenti.
Mereka semua menatap William yang kini sedang menatap kearah bawah, tepatnya melihat kemesraan Arkan dan Ariska yang sedang terlelap.
"Mungkin cuman mau narik perhatian Arion kali." balas Al.
"Iya, gue kira juga gitu. Tapi sini deh kalian, liat ini." panggil William.
Mereka yang memang kepo kini berdiri didekat William menatap dua orang yang tengah tertidur. Disana ada Arkan dan Ariska.
Arkan yang tertidur sambil duduk sedangkan Ariska yang tertidur di paha Arkan.
"Gak biasanya si Ariska mau deket deketan sama Arkan. Kan dia gak mau deket sama cowo kecuali sama Rion atau abang abangnya." jelas William membuat Arion merasakan hal aneh didalam hatinya.
Dan tanpa mereka semua sadari bahwa tangan Arion terkepal dengan kuat.
"Ck! gak usah dipikirin, paling juga mau caper doang. Buat apa cantik kalau otak gak ada!" ketus Kara dan berjalan untuk duduk kembali ditempatnya.
****
Arkan dan Ariska tertidur hingga bell pulang berbunyi. Itupun karna Arkan yang membangunkan.
Jika tidak, mungkin Ariska masih terlelap.
"Lo kayak gak tidur selama beberapa hari aja, nyenyak banget." ucap Arkan tersenyum manis.
Ariska tak menjawab, gadis itu malah menguap dan merenggangkan otot ototnya dihadapan Arkan.
"Walau gimana pun lo tetep cantik ya." gumam Arkan tanpa sengaja.
Ariska menoleh dengan mata yang masih mengantuk. "Makanya jangan diliat, entar naksir. Gue gak bakalan tanggung jawab."
Ariska bangkit dari duduknya dan berjalan menuju kelas meninggalkan Arkan yang masih setia memandangi punggung gadis itu yang kini kian menjauh.
'Tapi.. kalau gue maunya lo tanggung jawab, gimana?'
****
Ariska berjalan dengan sempoyongan menuju kelasnya. Hingga tak sengaja menabrak sesuatu.
"Anjing! yang naruh tembok disini siapa?" gumam gadis itu sambil mengelus keningnya.
Saat mendongak, ternyata bukan tembok yang ia tabrak. Melainkan seorang laki laki.
Dia Rion.
"Eh ada babi, ngapain bab?" tanya Ariska dengan senyum yang merekah.
Mendengar panggilan Ariska pada Arion membuat seluruh teman temannya hampir tertawa. Arion diam tak menjawab, bahkan tangannya sudah terkepal kuat didalam saku jaketnya.
Ariska yang tak mendapatkan respon apapun hanya mengedikkan bahu acuh lalu melanjutkan perjalanannya yang sempat tertunda.