Setelah mengambil tasnya. Ariska berjalan menuju parkiran. Sesampainya di parkiran, ternyata para babi masih berada disana.
Ariska berjalan berjalan menuju motor sportnya. Membuat segerombolan remaja laki laki itu heboh. Walaupun hanya William.
Brumm Brumm
Gadis itu menghentikan motornya didepan Arion dkk lalu menancapkan gasnya.
"Demi apa? itu si Ariska? naik motor sport? Anjir keren banget!" pekik heboh William.
Mereka semua tak mendengarkan pekikan William dan memilih menaiki motor masing masing meninggalkan lelaki heboh itu sendirian.
"Lah? Woi?! Si anjing!" umpat William dan menaiki motornya.
****
Sesampainya di mansion Abraham. Ariska memakirkan motornya lalu masuk tanpa mengucapkan salam.
Saat masuk, ternyata semua keluarga Abraham tengah berkumpul. Bahkan Ratu juga ada disana.
"ARISKA? APA INI?!" teriak Ayah Adrian saat Ariska baru saja melangkah masuk.
"Apa?" tanya balik Ariska dengan wajah datarnya.
"Ini!" Ayah Adrian melempar selembar foto. Disana memperlihatkan bahwa Ariska memasuki club bersama seorang pria.
Gadis itu mendongak menatap Ratu yang juga tengah menatapnya dengan senyum meremehkan.
Ariska tersenyum miring, "Foto selembar seperti ini bisa di edit. Jangan mau di bodohi. Jaman sekarang teknologi canggih, harusnya otak kalian juga berfikiran canggih.”
Mereka semua terdiam memikirkan apa yang dikatakan Ariska. Sedangkan gadis itu lebih memilih pergi dari sana dari pada menghabiskan air liur untuk berdebat dengan keluarga yang tak punya otak ini.
"Ariska!" panggil Bunda Ara.
Ariska berbalik, ternyata disana sudah ada para Abang-abangnya. Ariska mengangkat sebelah alisnya pertanda 'apa?'
"Kata Kara kamu punya motor sport? dari mana kamu dapatkan motor itu?!" bentak Ara membuat seluruh mata menatap Ariska.
Gadis itu mengeluarkan sebuah blackcard dari dalam tasnya dan melemparkannya pada mereka.
"Dari sana!" balasnya dengan wajah yang semakin datar.
"JANGAN KURANG AJAR LO!!" teriak Kara.
Ariska terkekeh sinis, "Kurang ajar? yaudah ajarin dong kalau kurang."
Setelah itu, ia memungut kembali blackcard itu dan berlalu tanpa mendengarkan teriakan dari penghuni neraka itu.
"Maaf ya blackcard tadi gue buang." gumam Ariska mengelus kartu itu lalu memasukkannya kedalam tas.
****
Di malam harinya, tak ada yang memanggil Ariska untuk makan malam. Mungkin mereka masih kesal akan sikap Ariska.
Tanpa dipanggil juga pasti Ariska akan turun.
Tap
Tap
Tap
Tap
Ariska turun saat semua orang telah selesai makan malam. Bahkan disisakan makanan pun tidak.
Dengan terpaksa, gadis itu keluar malam ini untuk membeli makanan. Ariska mengambil cardigan dan kunci motor beserta dompet.
Jika kalian kira, seorang mafia perempuan akan suka memakai baju hitam atau tak suka dengan pakaian feminim.
Beda lagi dengan Areksa.
"Mau kemana kamu?" tanya Ayah Ardian yang memang berada di ruang tengah.
Ariska menghela nafas lelah, "Mau ngerampok! ya mau cari makan lah." ketus Ariska.
Dan berlalu dari sana tanpa mendengarkan omongan dan bentakan dari manusia-manusia yang berada disana.
****
Diperjalanan, Ariska tak sengaja melihat seseorang sedang dikeroyok didalam gang.
Sebenarnya tak ingin menonton lebih lama. Namun, saat diperhatikan. Ternyata, Ariska kenal dengan orang itu.
"Menarik." monolognya lalu memarkirkan motornya didepan gang.
Disana ada Julyan yang sedang dikeroyok. Anggota dari geng Graventas. Yang kaku dan dingin seperti es. Tapi, entah mengapa Julyan tak melawan ketika di keroyok.
Ariska berjalan dengan santai sambil membawa sebuah balok kayu yang masih ada pakunya.
BUGH
Para preman itu menoleh saat temannya ambruk.
"Hai.. Om." ucap Ariska sambil tersenyum.
Tanpa menunggu jawaban dari preman itu, Ariska membabi buta mereka.
BUGH
BUGH
BUGH
BUGH
BUGH
"Bangun!" titah Ariska pada Julyan yang masih sadar. Pemuda itu bangun dan berjalan terseok-seok mendahului Ariska dengan langkah tertatih.
Lalu..
Bruk
"Ck! kalau butuh bantuan, ngomong! Bisu lo?!" kesal Ariska dan berjalan kearah Julyan lalu memapahnya menuju motor.
Julyan terus saja memandangi Ariska dari samping. Sudut bibir pemuda itu terangkat membentuk sebuah senyum tipis saat mengingat Ariska menolongnya tadi.
"Mau gue anterin pulang?" tanya Ariska mendudukkan Julyan ke kursi yang berada di trotoar jalan.
"Boleh?" tanya balik Julyan.
"Boleh, dimana emangnya? sekalian aja gue cari makan."
"Makan bareng, mau?" tawar Julyan.
"Lo yang bayar?" Julyan mengangguk.
"Gas! kalau gratis mah sama siapa aja gak jadi masalah!" semangat Ariska lalu memapah Julyan ke motornya.
Julyan mengarahkan Ariska ke Apartemennya. Sebenarnya Ariska tak ingin, namun melihat kondisi Julyan, akhirnya ia pasrah.
Sesampainya mereka disana, Ariska memapah Julyan untuk bisa sampai ke Apartemen lelaki itu. Lalu Julyan memesan makanan.
Mereka kembali hening, karna Ariska sibuk dengan ponselnya. Sedangkan Julyan sibuk menatap Ariska.
"Gak usah natap gue kayak gitu!" ketus Ariska sambil mendongak.
Julyan gelagapan saat kedapatan menatap Ariska, dengan cepat ia memalingkan wajahnya.
"Lo belajar bela diri dari mana?" tanya Julyan.
"Tau sendiri. Ohiya kotak P3K lo dimana?" tanya Ariska. Julyan menunjuk sebuah lemari di ruang tengah itu.
Gadis itu mengambilnya lalu mengobati luka diwajah Julyan. "Lo kenapa gak lawan preman tadi?" tanya Ariska disela sela mengobati Julyan.
"Gak sempet, mobil gue aja dibawa kabur sama temennya."
Ariska mengangguk lalu turun kebawah dan berjongkok dihadapan Julyan.
Julyan yang melihat itu melototkan matanya dan menutupi masa depan nya.
"Mau apa lo?" bentak Julyan.
Ariska menghela nafas kasar, "Otak lo jangan terlalu kotor! Gue cuman mau bantu urut kaki lo yang terkilir!"
Ariska dengan sengaja menyentak kaki Julyan dengan keras membuat laki laki itu berteriak.
"ARGGHHHHHH!!" teriak kesakitan Julyan.
"Besok kaki lo udah sembuh." ucap Ariska dengan wajah tak bersalahnya.
Julyan masih meringis kesakitan, "Lo bisa gak sih pelan pelan?"
"Gak bisa!" jawab Ariska seadanya.
Ting Tong
Ariska dengan cepat melesat saat mendengar bel Apartemen berbunyi.
'Dia Ariska bukan sih?' tanya Julyan dalam hati.
Ariska datang dengan membawa dua kresek plastik besar. Dan pergi kearah dapur untuk mengambil piring dan sendok.
Ting Tong
Bel Apartemen kembali berbunyi membuat keduanya mengernyit bingung.
"Lo belum bayar, ya?" tuding Ariska memicingkan matanya. Julyan dengan cepat menggeleng. "Udah kok."
"Jadi itu siapa?" Julyan mengedikkan bahunya pertanda tak tau.
Ting Tong
Tak ingin berfikir lebih lama lagi, Ariska dengan cepat membuka pintu.
Ternyata dia bukan kurir makanan, tapi sahabat dari Julyan.
"Lama banget bukanya Anji---"
Deg