Malam turun di Karangwetan tanpa keributan, cara malam seharusnya turun di kota yang sehat. Anjani menutup rolling door bengkel sampai setengah, meninggalkan celah untuk udara, dan mengelap tangannya dengan lap yang tergantung di paku dekat pintu. Di dalam, lampu-lampu masih menyala terang, memantul dari permukaan meja kerja yang dipenuhi peralatan, dari papan tempel di dinding tempat anak-anak teknisi muda menempelkan catatan dan diagram. Hari ini Mawar dan dua anak magang menghabiskan sore mempelajari cara membaca panel distribusi tua, dan Reza datang membawa data konsumsi dari ruang kendali untuk dibandingkan dengan keluhan warga yang masuk. Bengkel ini, yang dulu menjadi markas rahasia tempat ia bersembunyi dari dunia, sekarang menjadi tempat paling terbuka di gang itu, pintunya selalu menganga di siang hari, suaranya selalu ramai oleh orang yang belajar.
Ia mematikan lampu satu per satu, terakhir, dan menarik rolling door sampai menyentuh lantai, lalu menguncinya. Kunci yang dingin dan berat di tangannya. Dulu, mengunci pintu ini berarti menyegel diri bersama rahasianya. Sekarang hanya berarti hari kerja sudah selesai.
Gang Mawar Tiga sepi di jam ini, tapi bukan sepi yang mati. Dari balik dinding-dinding rumah terdengar suara televisi, suara piring yang dicuci, suara seorang anak yang dibujuk tidur, suara radio tua yang menyiarkan tembang lama. Cahaya bocor dari celah-celah jendela dan pintu, kuning dan hangat. Anjani berjalan pelan di tengah gang, tangannya di saku jaket, dan untuk beberapa langkah ia hanya mendengarkan kota yang hidup di sekelilingnya.
Ia melewati klinik di seberang gang, klinik kecil yang di malam-malam paling awal nyaris ia padamkan tanpa sengaja, ketika ia masih belum tahu cara mengendalikan apa yang ada di tubuhnya, ketika satu sentuhan ke stopkontak bisa menelan listrik seluruh blok. Ia ingat malam itu dengan tajam: panik, lampu klinik yang berkedip dan mati, bayangan pasien di dalam yang bergantung pada alat, rasa ngeri menyadari bahwa tubuhnya bisa membunuh tanpa ia kehendaki. Bertahun-tahun, klinik itu menjadi monumen ketakutannya, bukti bahwa ia adalah ancaman bagi orang-orang paling rentan di sekitarnya.
Malam ini, klinik itu menyala terang dan stabil. Lampu di ruang tunggunya putih dan mantap, tanpa kedipan. Di balik kaca, seorang perawat duduk mencatat sesuatu, dan seorang ibu menggendong bayinya yang sakit, menunggu giliran dengan tenang. Listrik mengalir ke tempat itu lewat jaringan yang sekarang dibenahi dengan jujur, diawasi warga, dirawat oleh teknisi yang dilatih dengan benar. Tak ada apa pun di tubuh Anjani yang mengancam tempat itu lagi. Ia berhenti sebentar di depan klinik, memandang cahayanya, dan merasakan sesuatu yang dulu mustahil ia rasakan di sini: ketenangan. Klinik itu tidak menyala meskipun ada dirinya. Klinik itu menyala, dan ada dirinya, dan dua hal itu tidak lagi saling bertentangan.
Ia meneruskan langkah. Di ujung gang, lampu jalan menyala, satu tiang yang dulu sering padam, sekarang setia menerangi belokan. Anjani ingat ada masa ketika setiap lampu yang ia lewati adalah perhitungan. Berapa watt. Dari gardu mana. Berapa banyak yang akan padam kalau ia harus menarik darurat. Setiap titik cahaya adalah utang, godaan, atau bahaya, sesuatu yang harus ia ukur dan waspadai. Tubuhnya dulu tak pernah berhenti menghitung, naluri lamanya selalu memetakan kapasitas, selalu bersiap menjadi jembatan yang menahan beban yang terlalu besar.
Sekarang ia berjalan, dan ia tidak menghitung. Lampu-lampu itu hanya menyala. Ia hanya lewat. Tubuhnya tenang, jantungnya yang rusak berdetak dalam iramanya yang pelan, dan untuk pertama kalinya seluruh tubuhnya percaya bahwa kota ini tidak membutuhkan ia mengorbankan dirinya untuk tetap menyala. Ada teknisi di gardu. Ada anak-anak yang ia latih. Ada Mawar di ruang kendali dan Reza membaca data dan seluruh jaringan pengetahuan yang ia tanam selama setahun ini, tumbuh sekarang tanpa bergantung pada satu tubuh yang sekarat. Itu warisan terbaik yang bisa ia berikan: bukan kekuatannya, melainkan keahlian yang ia bagikan, sehingga kota ini tidak lagi membutuhkan keajaiban untuk hidup.
Di tikungan terakhir menuju rumah, lampu di teras tetangga berkedip sekali, lalu pulih. Dulu, kedipan itu akan membuatnya tegang, naluri lamanya bangun seketika, siap turun tangan, siap membayar dengan jantungnya. Malam ini Anjani hanya menoleh sebentar, melihat lampu itu kembali stabil, dan meneruskan langkah. Bukan urusannya. Ada yang menanganinya, dan jika pun tidak, dunia tidak akan runtuh karena satu kedipan. Ia telah belajar pelajaran paling sulit dalam hidupnya, lebih sulit daripada mengendalikan arus di tubuhnya: belajar kapan tidak datang, kapan tidak menjadi pahlawan, kapan membiarkan dunia berjalan tanpa ia menahan seluruh bebannya di pundaknya sendiri.
Ia berhenti di depan rumahnya. Lewat jendela ia melihat Bayu di meja, membungkuk di atas laptop, mungkin mengerjakan tugas kuliahnya, mungkin menganalisis data jaringan yang ia bawa dari bengkel. Bu Tarmi di dapur, menyiapkan sesuatu, gerakannya pelan dan damai. Cahaya rumah itu kuning dan hangat, dan di dalamnya ada orang-orang yang ia cintai, yang pernah berada dalam bidikan, yang sekarang aman. Arus mengalir di balik dinding rumah itu, tak terlihat, tak terpikirkan, persis seperti seharusnya, persis seperti yang ia jaga seumur hidupnya, persis seperti yang ayahnya ajarkan.
Anjani berdiri di luar sebentar, di gelap yang lembut, menatap rumahnya yang terang. Kota di belakangnya tidur dengan aman, lampu-lampunya menyala stabil, gardu-gardunya dirawat jujur, dan di suatu tempat di pemakaman umum, sebuah jam tangan tua yang meleleh terbaring damai di atas nisan ayahnya, bukan lagi kutukan, hanya kenangan. Ia adalah Anjani Larasati, teknisi, anak tukang servis dinamo, penjaga arus bawah Karangwetan, dikenal dan diterima, manusia dengan batas yang ia pilih sendiri untuk dihormati. Tangannya, yang dulu paling ia takuti di seluruh dunia, sekarang hanya tangannya, dingin di udara malam, siap membuka pintu rumah.
Ia membuka pintu, dan masuk ke dalam cahaya, dan untuk pertama kalinya sejak busur putih mengubah segalanya, ia tidur malam itu seperti kota di sekelilingnya: dengan tenang, dengan aman, tanpa rasa takut pada arus yang mengalir di dalam dirinya.