Pagi di pemakaman umum Karangwetan selalu lebih dingin daripada di tempat lain mana pun di kota itu, seolah tanah di sini menyimpan kelembapan yang tak mau dilepaskan matahari. Anjani datang sendiri, berjalan kaki dari halte, membawa satu bungkusan kecil di saku jaket kerjanya yang sama, jaket yang sudah kehilangan warna aslinya dan bertambal di siku. Ia tidak memberi tahu Bayu, tidak memberi tahu ibunya. Ada percakapan yang hanya bisa dilakukan seseorang dengan ayahnya yang sudah lama tiada, dan tak ada saksi yang dibutuhkan untuk itu.
Makam ayahnya sederhana, nisan beton yang dulu ia dan Bayu cor sendiri karena tak punya uang untuk yang dari batu. Rumput di sekitarnya sudah ia pangkas dua minggu lalu, jadi sekarang tinggal pendek dan rapi. Anjani jongkok, menyapu beberapa helai daun kamboja yang gugur ke atas pusara, dan untuk beberapa saat tidak melakukan apa-apa selain bernapas. Udara pagi terasa di paru-parunya seperti air dingin. Jantungnya berdetak pelan dan teratur, irama yang sekarang ia kenal sampai ke tulang, irama yang tak lagi boleh ia pacu melewati garis tertentu. Dokter Marsudi sudah menggambar garis itu untuknya, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya, Anjani menghormati sebuah batas tanpa membencinya.
Ia mengeluarkan bungkusan dari sakunya. Kain lap bersih, dilipat, dan di dalamnya, jam tangan itu. Jam tangan yang dipakainya di malam pertama, malam busur putih, malam segalanya berubah. Logam casingnya sudah meleleh dan membeku kembali dalam bentuk yang tak lagi menyerupai jam, kacanya retak dan menghitam, jarumnya berhenti di angka yang tak lagi terbaca. Selama bertahun-tahun benda itu ia simpan di laci paling bawah meja bengkel, terbungkus, tak pernah ia sentuh kecuali ketika tak sengaja menemukannya saat mencari sesuatu. Setiap kali ia melihatnya, ia melihat ketakutan. Ia melihat tubuh Pak Hadi yang terpental, melihat tangannya sendiri yang seharusnya menjadi abu, melihat awal dari sebuah hidup yang tak ia minta.
Tapi pagi ini, memegangnya, Anjani tidak lagi merasa takut. Ia membalik benda itu di telapaknya, merasakan permukaannya yang kasar dan dingin. Ada masa ketika ia menganggap jam ini kutukan, bukti fisik bahwa ada sesuatu yang patah di dalam dirinya, sesuatu yang membuatnya berbeda dan berbahaya. Sekarang ia melihatnya dengan cara lain. Jam ini adalah penanda waktu, dan waktu, sekali pun ia berhenti di permukaannya, telah terus berjalan untuk Anjani. Dari malam itu ke malam ini, ia telah menempuh seluruh jarak yang bisa ditempuh seorang manusia: dari ketakutan ke pemahaman, dari sembunyi ke berdiri di terang, dari merasa dirinya beban yang harus dimatikan ke menerima dirinya sebagai sesuatu yang punya tempat di dunia.
Ia meletakkan jam itu di atas nisan, di sudut kanan, di tempat yang teduh oleh batang pohon kamboja. Bukan untuk dikubur, bukan untuk disembunyikan. Untuk ditinggalkan, di tempat yang benar.
"Aku bawakan ini ke sini, Pak," katanya, suaranya pelan, hampir tertelan suara angin. "Bukan supaya Bapak jaga. Supaya aku nggak perlu lagi takut tiap lihat dia."
Ia diam sejenak, lalu meneruskan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada siapa pun. Sepanjang hidupnya, ia tumbuh di bawah bayang ayahnya, tukang servis dinamo yang tangannya selalu kotor, yang lebih percaya skema kabel daripada janji manis, yang mengajari Anjani bahwa setiap arus punya hukum dan setiap pekerjaan punya ongkos. Selama bertahun-tahun setelah busur putih, ada satu ketakutan yang lebih dalam daripada ketakutan akan tangannya sendiri: ketakutan bahwa ia telah menjadi versi terburuk dari warisan ayahnya. Ayahnya memperbaiki yang rusak; Anjani, di awal, hanya memadamkan. Ayahnya menjaga arus tetap aman di balik dinding; Anjani menjadi bahaya yang berjalan di tengah jalan. Setiap kali ia memadamkan satu blok untuk menyalakan satu lift, setiap kali rumah sakit gelap karena tangannya, ia mendengar suara di kepalanya yang berkata bahwa ayahnya akan malu.
Sekarang, jongkok di sisi makam itu, Anjani tahu suara itu salah. Ia bukan versi terburuk. Ia adalah versi yang ayahnya tak pernah sempat bayangkan, tapi tetap versi yang ayahnya bentuk. Ia memperbaiki yang rusak; bukan hanya kabel dan gardu, tapi sebuah kota yang seluruh strukturnya sakit oleh keserakahan. Ia menjaga arus, bukan hanya agar menyala, tapi agar adil, agar Pak Wiryo dan ribuan orang seperti dia membayar tagihan yang benar untuk lampu yang benar-benar menyala. Dan yang paling penting, yang paling lama ia pelajari: ia akhirnya tahu cara membayar ongkos pekerjaan itu tanpa kehilangan dirinya. Ayahnya selalu mengajarkan bahwa pekerjaan yang baik adalah pekerjaan yang tidak menghabisi tukangnya. Butuh hampir seluruh hidupnya, butuh jantung yang rusak permanen, untuk Anjani akhirnya benar-benar mengerti pelajaran paling sederhana itu.
Ia menyentuh nisan dengan tangan telanjang. Tangan yang sama yang dulu ia takuti, yang dulu ia kira hanya bisa membakar dan mengambil. Tidak ada percikan. Tidak ada muatan yang lepas. Hanya kulit menyentuh beton dingin, seperti tangan anak mana pun yang menyentuh batu nisan ayahnya. Untuk pertama kalinya, tangannya hanya tangan, dan itu cukup.
"Aku udah ngerti sekarang, Pak," bisiknya. "Bukan soal sebesar apa yang bisa kita angkat. Tapi soal tahu kapan berhenti angkat."
Matahari mulai naik, dan embun di rumput menguap pelan. Jam tangan meleleh itu memantulkan secercah cahaya pagi dari kacanya yang retak, dan untuk sesaat benda yang dulu menjadi simbol kutukannya itu tampak seperti apa adanya: sekadar logam tua, ditinggalkan dengan damai di tempat yang teduh. Anjani berdiri, membersihkan lututnya, dan memandang pusara itu untuk waktu yang lama. Lalu ia berbalik dan berjalan kembali ke arah halte, meninggalkan jam itu di belakang, dan untuk pertama kalinya sejak malam busur putih, ia tidak merasa ada bagian dari dirinya yang tertinggal bersamanya.