Sore itu hujan turun pelan, dan listrik di gang Mawar Tiga sempat berkedip sekali, lalu pulih. Dulu kedipan seperti itu akan membuat Anjani waspada, tubuhnya menegang, naluri lamanya menghitung kapasitas, mengukur ancaman, bersiap turun tangan. Sekarang ia hanya mendongak dari pekerjaannya, melihat lampu bengkel kembali stabil, dan kembali menggulung dinamo di tangannya. Kedipan itu bukan urusannya lagi; ada teknisi di gardu yang akan menanganinya, anak-anak yang ia latih, dan jika tidak ada masalah, lampu akan tetap menyala tanpa perlu ia bayar apa pun.
Ini keseimbangan yang ia cari sejak masa-masa paling awal, sejak hari ia bereksperimen di bengkel ini memetakan batas tubuhnya, sejak ia merakit sarung tangan dan sepatu peredam dari alat kerja dan menyadari bahwa kekuatan ini punya aturan, punya harga, punya kapasitas yang terbatas. Selama hampir seluruh cerita ini, aturan-aturan itu adalah penjara: ia tak bisa menolong tanpa memadamkan, tak bisa menyala tanpa membakar, tak bisa menyimpan tanpa overheat, tak bisa melepas tanpa jantungnya tersandung. Aturan adalah daftar hal yang tak boleh ia lakukan, batas yang dipasang busur putih ke dalam tubuhnya tanpa ia minta.
Sekarang aturan-aturan itu telah berubah menjadi sesuatu yang lain. Bukan penjara. Tata cara. Cara hidup dengan apa yang ada di tubuhnya tanpa membiarkannya menghabisinya.
Malam itu, setelah bengkel tutup, Anjani melakukan apa yang kini menjadi kebiasaannya. Ia mengeluarkan sebuah baterai aki bekas dari rak, baterai yang ia rawat khusus, dan duduk di bangku ayahnya. Ia melepas sarung tangan isolasinya, dengan hati-hati, dan menyentuhkan ujung jari ke terminal aki. Pelan. Sangat pelan. Ia menarik muatan dalam jumlah yang amat kecil, jumlah yang setahun lalu akan ia anggap tak berguna, terlalu sedikit untuk apa pun. Tapi sekarang ia tidak mencari yang besar. Ia mengisi dirinya setetes demi setetes, dari baterai, bukan dari kabel kota, tidak memadamkan satu rumah pun, tidak satu lampu pun, hanya memindahkan sedikit muatan dari aki bekas ke dalam tubuhnya, dalam takaran yang jantungnya yang rusak masih bisa tanggung.
Lalu ia menggunakannya untuk hal-hal kecil. Ia menyalakan kembali sebuah lampu darurat tetangga yang baterainya soak, dengan sentuhan, di malam ketika hujan deras dan listrik gang sebelah benar-benar padam karena pohon tumbang. Ia tidak menyelamatkan kota. Ia menyalakan satu lampu, di satu rumah, untuk seorang ibu yang anaknya takut gelap, dan itu cukup. Ia membantu menghidupkan motor listrik yang akinya tekor di tengah jalan, dengan sentuhan singkat yang tampak seperti kebetulan bagi pemiliknya. Hal-hal kecil. Pertolongan seukuran tangan, bukan seukuran kota.
Jantungnya tak pernah tersandung untuk pertolongan sekecil ini. Itu rahasianya, yang ia pelajari setahun ini: kekuatan yang dulu hampir membunuhnya karena ia selalu memakainya dalam skala yang melampaui tubuhnya, kini menjadi alat yang ia hormati batasnya. Ia tidak lagi menjadi jembatan hidup yang menahan beban seluruh kota. Ia menjadi konduktor kecil yang memindahkan muatan kecil, untuk pekerjaan kecil, dan dalam pengecilan itu, ia menemukan sesuatu yang tak pernah ia miliki sebelumnya: ia tidak takut pada tangannya sendiri.
Itu yang berubah, lebih dari kota, lebih dari jaringan, lebih dari keadilan. Di masa-masa awal, ketakutan terbesarnya adalah tangannya sendiri, pertanyaan yang menghantuinya: apakah aku alat yang berguna atau risiko yang harus dimatikan? Apakah aku penolong atau monster yang merampas listrik dari rumah sakit dan rumah warga? Sepanjang seluruh cerita ini, jawabannya selalu mengerikan, karena kekuatannya selalu datang bersama kegelapan; tiap kali ia menyala, sesuatu yang lain padam.
Sekarang, akhirnya, ia tahu jawabannya, dan jawabannya bukan salah satu dari dua hal mengerikan itu. Ia bukan alat tak terbatas, dan ia bukan risiko yang harus dimatikan. Ia adalah manusia, teknisi, anak tukang servis dinamo, yang kebetulan membawa di tubuhnya sebuah kemampuan yang aneh, dan yang akhirnya belajar memperlakukan kemampuan itu seperti ia memperlakukan kabel hidup mana pun: dengan hormat, dengan hati-hati, dengan sarung tangan, dalam takaran yang aman, untuk pekerjaan yang benar.
Ia menutup pintu bengkel malam itu, mengunci rolling door yang kini selalu dibuka penuh di siang hari, dan berjalan pulang lewat gang Mawar Tiga. Ia melewati klinik yang dulu nyaris ia padamkan di hari-hari paling awal, klinik yang lampunya kini menyala terang dan stabil. Ia melewati rumah-rumah dengan televisi menyala, dengan suara orang mengaji, dengan bayi menangis dan ibu menimang. Arus mengalir di balik semua dinding itu, tak terlihat, tak terpikirkan, persis seperti seharusnya, persis seperti yang ia jaga seumur hidupnya.
Dan untuk pertama kalinya, ia berjalan di antara semua cahaya itu tanpa menghitung. Tanpa mengukur. Tanpa merasa bahwa setiap lampu adalah utang, atau godaan, atau bahaya. Lampu-lampu itu hanya menyala, dan ia hanya berjalan pulang, seorang perempuan lelah dengan jantung yang sudah membayar dan tangan yang akhirnya ia kenali kembali sebagai miliknya. Konduktor itu, setelah seluruh perjalanan ini, akhirnya mengerti aturannya sendiri sepenuhnya, dan dalam pengertian itu, untuk pertama kalinya sejak busur putih mengubah segalanya, ia merasa tenang.