Setahun berlalu di Karangwetan, dan kota yang sepanjang cerita ini sekarat mulai menunjukkan tanda-tanda kehidupan yang ganjil dan tak terbiasa: ia membaik.
Proyek peremajaan yang dulu menjadi kuburan korupsi, yang gardu-gardunya disabotase agar tendernya membengkak, kini dijalankan ulang dari awal dengan cara yang sama sekali berbeda. Bukan proyek mewah dengan render mengilap dan anggaran ratusan miliar yang sebagian besar menguap ke kantong-kantong berdasi. Proyek yang baru lebih kecil, lebih lambat, lebih membosankan, dan jauh lebih jujur. Diawasi oleh tim independen tempat Reza bekerja. Diaudit terbuka. Dan, yang paling tak biasa, dipantau oleh warga sendiri.
Lestari, yang artikelnya dulu meretakkan narasi "gardu tua", kini menjalankan sesuatu yang lebih sederhana dan lebih kuat: forum warga yang memantau perbaikan jaringan kota, gang per gang, gardu per gardu. Orang-orang yang lampunya dulu mati lima kali sehari kini tahu cara membaca jadwal pemeliharaan, tahu nama gardu yang melayani blok mereka, tahu harus mengeluh ke mana jika tegangan turun. Pengetahuan yang dulu tersembunyi di ruang dingin SCADA, di celah antara teknisi dan analis yang dieksploitasi Sudibyo, kini bocor keluar, menyebar, menjadi milik bersama. Sulit menyabotase jaringan yang dijaga oleh seluruh kota yang tahu cara membacanya.
Anjani berjalan melewati kawasan industri suatu pagi, kawasan koridor emas yang dulu hendak dibebaskan dengan cara dibuat bangkrut. Pabrik pengecoran tempat ayahnya dulu memperbaiki pompa, yang nyaris tutup setelah blackout merusak tungkunya, kini berdiri kembali. Tidak megah; cat dindingnya masih kusam, atapnya masih bocor di beberapa tempat. Tapi cerobongnya mengepul lagi, dan di gerbangnya, buruh-buruh masuk dengan tas plastik berisi bekal, ratusan orang yang nyaris kehilangan nafkah, kini kembali bekerja. Lahan itu tak pernah jadi dibeli murah. Tak ada yang bisa membelinya begitu kebenaran terbongkar.
Ia berhenti di depan gardu distribusi di sudut kawasan itu, gardu yang dulu meledak di masa paling awal, gardu tujuh, yang ledakannya menjadi sabotase pertama yang ia curigai sebagai disengaja. Gardu itu sudah diperbaiki sekarang, bukan diganti dengan yang baru dan mahal, melainkan dibenahi dengan benar, relenya disetel ulang, kabelnya yang aus diganti, proteksinya dikembalikan ke fungsi yang sesungguhnya, menjaga, bukan menjebak. Di pintunya, tertempel stiker kecil bertuliskan jadwal pemeliharaan terbuka, nama teknisi penanggung jawab, dan nomor pengaduan warga. Transparansi yang sederhana, hampir menyedihkan dalam kesederhanaannya, tapi inilah yang dulu tak ada, dan inilah yang membuat seluruh kejahatan itu mungkin.
Salah satu teknisi muda yang Anjani latih sedang bekerja di gardu itu, anak yang dulu menatapnya segan di ruang SCADA, kini membuka panel proteksi dengan percaya diri, menyenter relenya, membaca jaringan dengan mata yang mulai terlatih. Anjani berdiri di kejauhan dan menontonnya, dan tidak menyapa, karena anak itu tak membutuhkannya. Itu intinya. Itu yang ia kerjakan setahun ini. Kota tak lagi bergantung pada satu tubuh ajaib yang bisa mati kapan saja. Kota dijaga oleh banyak tangan yang terlatih, banyak mata yang bisa membaca, banyak warga yang tahu lampu mereka adalah hak yang bisa mereka tuntut, bukan keberuntungan yang harus mereka syukuri.
"Bagus kerjanya," kata Bayu, yang berjalan menyusulnya, mengikuti arah pandangan kakaknya ke teknisi muda di gardu. "Anak itu sekarang yang paling jago baca rele di tim. Dia bilang ke aku kemarin, katanya dia nggak ngerti kenapa dulu nggak ada yang ngajarin cara ini. Katanya gampang kok, asal ada yang mau ngajarin."
"Karena dulu sengaja nggak diajarin," kata Anjani pelan. "Pengetahuan itu kekuasaan, Yu. Selama cuma sedikit orang yang ngerti, sedikit orang itu bisa bohongin yang lain. Sudibyo bukan menang karena pinter. Dia menang karena nggak ada yang ngerti selain dia dan orang-orangnya. Begitu pengetahuan dibagi, dia kalah. Bukan sama kekuatan. Sama orang yang ngerti."
Mereka berjalan pulang melewati kota yang menua tapi tak lagi sekarat. Tiang-tiang listrik masih tua, kabel-kabel masih menjuntai, cat-cat masih kusam; Karangwetan tidak berubah menjadi kota futuristik dengan render mengilap. Itu bukan janji yang pernah dibuat cerita ini. Yang berubah lebih dalam dan lebih sulit dilihat: kota itu jujur sekarang, atau setidaknya lebih jujur dari sebelumnya, dan kejujuran itu, lambat dan membosankan dan tak heroik, sedang perlahan menyembuhkannya dari dalam.
Di sebuah tiang di gang Mawar, seseorang telah mengganti lampu jalan yang bertahun-tahun mati. Cahayanya kuning dan biasa dan menyala stabil, menerangi sepetak aspal yang dulu gelap. Anjani memandanginya sejenak saat lewat, lampu jalan biasa yang menyala karena seseorang akhirnya repot menggantinya, dan ia tersenyum, dan berjalan terus, di kota yang lampunya, satu per satu, kembali menyala.