Tawaran-tawaran itu datang bertubi-tubi setelah persidangan. Stasiun televisi nasional menginginkan wawancara eksklusif dengan "manusia listrik Karangwetan". Sebuah penerbit menawarkan kontrak buku. Seorang politikus daerah yang mendadak peduli infrastruktur ingin Anjani berdiri di panggung kampanyenya. Dan dari arah berlawanan, masih ada lembaga negara yang ingin tahu persis apa yang ada di tubuhnya, ilmuwan yang ingin mempelajarinya, orang-orang yang melihatnya bukan sebagai manusia melainkan sebagai fenomena yang harus didokumentasikan.
Rekaman sebelas detik itu masih beredar di internet, tangan yang berpendar, dan akan selalu beredar; tak ada yang bisa menariknya kembali. Tapi anehnya, justru karena cerita yang lebih besar, korupsi, sabotase, persidangan, telah memenuhi ruang publik, sosok bercahaya itu mulai memudar menjadi semacam legenda yang tak pasti. Orang menonton sebelas detik itu dan berdebat apakah itu sungguhan atau efek visual atau pantulan busur listrik biasa. Tak ada yang bisa membuktikan apa pun. Anjani Larasati, teknisi yang bersaksi di pengadilan, ada di mana-mana dalam berkas resmi; "Hantu Gardu" yang bercahaya tetap menjadi rumor, samar, tak tertangkap.
Dan di celah antara kedua hal itu, Anjani menemukan ruang untuk memilih.
"Kamu bisa tegasin," kata Lestari suatu malam di bengkel, sambil minum kopi. "Kalau kamu mau. Kamu tunjukin sekali aja, di depan kamera, apa yang bisa kamu lakuin. Kamu bakal jadi orang paling terkenal di negara ini dalam semalam. Nggak ada yang berani macem-macem sama kamu lagi. Kamu bakal terlindungi sama ketenaran."
Anjani menggeleng pelan, memutar cangkir kopinya. "Terus tiap hari aku jadi tontonan," katanya. "Tiap orang yang ketemu aku mikir aku alat, bukan orang. Tiap ada masalah listrik di kota mana pun, aku yang dipanggil sampai jantungku habis. Aku udah pernah mikirin ini, Les. Lama. Yang aku takutin dari dulu bukan ketahuan. Yang aku takutin, kalau aku ketahuan, aku nggak akan pernah jadi Anjani lagi. Aku cuma akan jadi yang bisa nyala. Selamanya."
"Tapi kamu juga nggak mau ngumpet selamanya," kata Lestari. "Kamu udah milih nggak ngumpet di kesaksian itu."
"Iya." Anjani menatap api kecil dari soldir di mejanya. "Aku nggak mau ngumpet, dan aku nggak mau jadi tontonan. Dulu aku pikir cuma ada dua pilihan itu. Hilang total, atau jadi selebritas. Tapi ada yang di tengah."
Ia menolak semua tawaran wawancara eksklusif. Ia menolak buku, menolak panggung politikus, menolak ilmuwan yang ingin mempelajarinya. Tapi ia tidak menghilang. Ia tetap menjadi Anjani Larasati, teknisi, pemilik Bengkel Larasati, saksi dalam kasus korupsi Karangwetan, perempuan yang dikenal kota sebagai orang yang turun tangan saat gardu-gardu disabotase. Sebagian orang percaya rumor tentang tangannya yang bercahaya; sebagian menganggapnya bualan. Anjani tidak menegaskan dan tidak membantah. Ketika seorang anak kecil bertanya di bengkel apakah benar tangannya bisa keluar listrik, ia hanya tersenyum dan berkata, "Kalau aku megang kabel hidup sembarangan, tangan siapa pun keluar listrik, Dik. Makanya pakai sarung tangan." Dan anak itu tertawa, tak tahu apakah itu jawaban iya atau tidak.
Untuk pertama kalinya, ia mengendalikan ceritanya sendiri. Sepanjang novel ini ceritanya selalu dikendalikan orang lain: media yang menjulukinya Hantu Gardu, Sudibyo yang memakai legendanya untuk menutupi kejahatan, perusahaan yang menjadikannya tersangka, negara yang ingin membongkar tubuhnya. Ia selalu menjadi cerita yang ditulis tangan lain. Sekarang, di celah antara terlalu terlihat dan terlalu tersembunyi, ia menulis ceritanya sendiri, dan ceritanya sederhana: ia teknisi yang menyelamatkan kota, dan apakah ada lebih dari itu, biarkan tetap menjadi pertanyaan yang tak terjawab, miliknya sendiri untuk disimpan.
"Hantu Gardu mati," katanya pada Bayu malam itu, sambil menutup pintu bengkel. "Aku biarin dia mati. Dia nggak pernah jadi aku. Dia cuma bayangan yang dipake orang buat takut atau berharap. Yang hidup itu aku. Anjani. Tukang. Dan aku mau hidup di terang, tapi terang yang aku pilih sendiri, bukan terang yang disorot orang ke muka aku."
Bayu mematikan lampu utama, menyisakan satu lampu kecil di meja kerja yang menyala kuning di kegelapan bengkel. "Itu pilihan yang Bapak bakal setuju, Mbak," katanya. "Dia juga gitu. Tukang terbaik di gang, tapi nggak ada yang tahu namanya di luar gang. Dan dia nggak pernah peduli. Yang penting kerjaannya bener."
Anjani memandangi lampu kecil itu, satu titik kuning di gelap, cukup untuk melihat tanpa harus menyilaukan. "Iya," katanya. "Yang penting kerjaannya bener."