Makam Pak Hadi terletak di pemakaman umum di tepi kota, di petak yang masih baru, dengan nisan kayu sederhana yang belum diganti batu karena keluarganya belum punya uang. Anjani datang sendirian pagi itu, membawa air dalam botol bekas dan kain lap, dan ia membersihkan nisan itu seperti ia membersihkan panel gardu, perlahan, teliti, dengan tangan yang tahu cara merawat.
Dari semua benang yang harus ia rapikan di akhir cerita ini, ini yang paling sulit. Sudibyo mudah dibenci; ia dingin, ia menghitung, ia membunuh tanpa beban. Galih mudah dipahami; ia profesional yang dibayar, jahat dengan cara yang membosankan. Tapi Pak Hadi, mentornya, orang yang mengajarinya membaca rele di tahun-tahun pertamanya, orang yang terluka bersamanya di gardu malam pertama dan ternyata adalah tangan yang menyabotase, Pak Hadi tidak mudah ditempatkan di mana pun. Ia korban dan pelaku dalam satu tubuh. Ia mengkhianati Anjani, lalu membelot untuk menebusnya, lalu dibunuh karena pembelotan itu. Dan surat yang ia tinggalkan, yang Bayu temukan, telah memberi Anjani senjata terakhir untuk meruntuhkan rencana Sudibyo.
Anjani sudah memutuskan, dan kini ia melaksanakannya. Dalam dokumen resmi, dalam berkas pengadilan, dalam cara cerita ini akan diingat kota, ia memastikan Pak Hadi tidak dicatat hanya sebagai penyabot. Ia bersaksi, ia memberi surat itu pada penyidik, ia menjelaskan pada Lestari yang menulisnya dalam artikel: bahwa Pak Hadi adalah orang kecil yang dipojokkan oleh utang medis istrinya yang sakit, yang dibeli oleh keputusasaan, yang melakukan kesalahan besar dan kemudian, di akhir, memilih membayar dengan nyawanya untuk memperbaikinya. Bukan pahlawan. Bukan pula sekadar penjahat. Manusia yang cacat dan terjepit dan, di saat terakhir, memutuskan untuk membela kebenaran meski ia tahu itu akan membunuhnya.
Istri Pak Hadi sudah meninggal beberapa bulan sebelum suaminya, penyakit yang seluruh utang itu gagal menyembuhkan. Yang tersisa adalah seorang anak laki-laki, baru lulus SMK, dan utang yang masih menggantung, utang yang dulu menyeret Pak Hadi ke tangan Sudibyo. Anjani datang ke rumah kontrakan mereka, rumah yang kosong dan terlalu sepi, dan duduk dengan anak muda itu yang menatapnya dengan campuran malu dan marah dan kehilangan.
"Bapak saya pengkhianat," kata anak itu, suaranya keras tapi gemetar. "Saya tahu, Mbak. Orang-orang ngomongin. Bapak saya yang bikin gardu jatuh. Yang bikin orang celaka. Saya malu keluar rumah."
"Bapak kamu bikin kesalahan besar," kata Anjani pelan, tidak menyangkalnya, karena menyangkalnya akan menjadi kebohongan dan anak ini sudah cukup dibohongi hidup. "Aku nggak akan bilang dia nggak salah. Dia salah. Gara-gara dia, ada yang celaka, ada yang kehilangan kerjaan." Ia berhenti. "Tapi aku juga nggak akan biarin orang lupa bagian yang satu lagi. Di akhir, Bapakmu yang ngasih aku surat. Surat yang bikin seluruh rencana penjahat itu bisa dihentiin. Tanpa surat itu, kota mungkin udah jatuh total, dan lebih banyak orang celaka. Bapakmu mati karena nulis surat itu. Dia tahu bakal mati, dan dia tetap nulis. Itu juga Bapakmu. Yang itu juga harus diinget."
Anak itu menunduk, dan air matanya jatuh ke lantai semen.
Anjani tak bisa menghapus utang itu dengan kekuatannya; tak ada cahaya di tangan yang bisa melunasi tagihan rumah sakit. Tapi ia melakukan apa yang bisa dilakukan teknisi, apa yang bisa dilakukan orang biasa. Dari harta Sudibyo yang disita, sebagian dialokasikan negara untuk korban; Anjani, dengan bantuan Lestari yang menulis dan menekan, memastikan keluarga Pak Hadi termasuk yang menerima, sebagai korban yang dibungkam, bukan sekadar keluarga pelaku. Sisanya, ia bantu dengan cara yang lebih kecil dan lebih nyata: ia menerima anak itu magang di Bengkel Larasati, mengajarinya menggulung dinamo dan membaca instalasi, memberinya tangan untuk mencari nafkah yang jujur, melanjutkan keahlian yang sebenarnya dulu dimiliki ayahnya sebelum utang merampasnya.
"Bapakmu teknisi yang bagus," kata Anjani, di hari pertama anak itu datang ke bengkel, menyerahkan obeng padanya. "Sebelum semuanya. Dia yang ngajarin aku baca rele. Tangan dia bagus. Mungkin tangan kamu juga. Kita lihat."
Ia berdiri di samping anak Pak Hadi, mengajari tangan baru itu apa yang dulu diajarkan tangan ayahnya padanya, dan dalam lingkaran kecil dan membumi itu, ia menemukan penutup untuk pengkhianatan paling pahit dalam hidupnya. Bukan pemaafan yang menghapus kesalahan; kesalahan Pak Hadi tetap kesalahan, dan orang-orang tetap celaka karenanya. Tapi belas kasih yang menolak membiarkan seorang manusia direduksi menjadi satu hal terburuk yang pernah ia lakukan. Pak Hadi adalah pengkhianat. Pak Hadi adalah korban. Pak Hadi adalah mentor yang tangannya hidup lagi di tangan anaknya, di bengkel yang terang, jauh dari gardu gelap tempat semuanya runtuh.