Anjani mengetahui ukuran kekalahannya bukan dari rasa takut, melainkan dari angka.
Ia duduk di lantai bengkel pada pagi yang masih kelabu, dengan buku catatan kerjanya yang sudah lecek di pangkuan, buku yang sama tempat ia mencatat setiap pelepasan sejak malam pertama: berapa lama ia bisa menahan, berapa banyak yang bisa ia simpan sebelum kulitnya melepuh, berapa denyut jantungnya hilang setiap kali ia menuang terlalu cepat. Ia memperlakukan tubuhnya seperti ayahnya dulu memperlakukan dinamo bekas, sebagai mesin dengan batas yang bisa diukur dan dihormati, dan selama berbulan-bulan angka-angka itu telah menjadi satu-satunya hal yang menjaganya tetap hidup. Pagi ini angka-angka itu mengkhianatinya.
Bayu sudah menyalakan laptop di atas meja kerja yang penuh oli, dan di layarnya ada peta jaringan Karangwetan yang mereka susun ulang dari potongan data Reza, dari ingatan Anjani, dari diagram-diagram tua yang ayahnya simpan di laci. Garis-garis merah dan biru menjalar dari gardu induk pusat ke seluruh kota seperti pembuluh darah. Bayu telah menandai setiap gardu yang akan dijatuhkan dalam skenario blackout terkoordinasi, setiap titik tempat domino akan dimulai, dan ia telah menghitung beban yang akan bergerak di sepanjang kaskade itu, angka yang membuat tangannya berhenti di atas keyboard.
"Coba sebut lagi," kata Anjani, meski ia sudah dengar.
"Beban puncak akhir bulan, di koridor yang mau mereka jatuhin," kata Bayu. Suaranya pelan, seperti orang yang membaca diagnosis. "Mega-watt, Mbak. Bukan kilo. Mega. Kalau cascading-nya jalan kayak yang kita kira, yang harus ditahan supaya domino pertama nggak ngejatuhin yang kedua itu beban satu seksi penuh. Aku hitung-hitung pakai angka yang paling baik pun, itu ribuan kali lebih besar dari apa pun yang pernah Mbak tahan."
Anjani menatap angka itu lama, lalu menatap tangan kirinya yang penuh jaringan parut, tangan yang bahkan tidak bisa menahan satu blok permukiman tanpa membuat seluruhnya gelap. Ia teringat malam di gardu induk rumah sakit, ketika ia hampir mati menahan satu generator cadangan tetap menyala, satu mesin, satu beban, dan tubuhnya nyaris pecah karenanya. Apa yang Bayu sebut sekarang bukan satu generator. Itu seperti diminta menahan air bah dengan dua telapak tangan.
"Aku nggak akan cukup," katanya, dan anehnya, mengucapkannya tidak terasa seperti pengakuan kalah, melainkan seperti membaca angka pada multimeter dengan jujur. Sebuah fakta. "Kalau aku berdiri di mana pun di jaringan itu dan coba nyerep beban yang lagi numpuk, aku akan jadi sekering yang putus dalam sedetik. Tubuhku akan kelebihan muatan sebelum aku bahkan nahan sepersepuluhnya. Jantungku berhenti, kulitku kebakar, dan jaringannya tetap jatuh, cuma kali ini dengan mayatku di gardu induk." Ia tertawa kecil, tawa tanpa lucu, tawa orang yang baru menyadari sesuatu yang seharusnya jelas sejak awal. "Selama ini aku ngira masalahnya cuma jantungku. Kapan aku boleh datang, kapan aku harus istirahat. Padahal masalahnya lebih sederhana dari itu. Aku terlalu kecil. Aku selalu terlalu kecil buat ini."
Bayu menutup laptopnya, seakan dengan menyembunyikan angka itu ia bisa menyembunyikan kebenarannya. "Jadi kita cari cara lain. Kita laporin aja, kita serahin semua bukti, kita biar Lestari yang—"
"Bukti kertas dikubur tiga hari, kamu tahu kata Lestari," potong Anjani. "Dan Reza naik sidang sebelum itu. Dan kalaupun ada yang baca bukti kita, kota tetap jatuh malam itu, karena nggak ada yang tahu cara nahannya selain mereka yang ngerancang ngejatuhinnya." Ia menggeleng. "Lawannya bukan satu orang yang bisa ditangkap. Lawannya jaringan itu sendiri, yang mereka set buat bunuh diri."
Ia berdiri dan berjalan ke peta merah di dinding, peta yang sudah ia tatap berjam-jam selama tiga malam terakhir. Untuk pertama kalinya ia menatapnya bukan sebagai pemburu yang melacak mangsa, melainkan sebagai teknisi yang menatap mesin yang terlalu besar untuk satu pasang tangan. Dan di situlah, dalam pengakuan paling pahit dalam hidupnya, sesuatu yang lain mulai bergerak di kepalanya.
Sepanjang hidupnya ia dilatih bahwa seorang teknisi yang baik tidak pernah mencoba menahan beban dengan tubuhnya sendiri. Ayahnya tidak pernah memegang kabel bertegangan untuk menahan arus; ia mengarahkan arus, ia memberinya jalan, ia membuangnya ke tanah lewat pembumian yang benar. Konduktor yang baik bukan yang menampung paling banyak. Konduktor yang baik adalah yang dilewati arus dengan paling sedikit hambatan, yang membiarkan beban itu lewat tanpa menahannya, tanpa menyimpannya, tanpa mati karenanya.
Ia berbalik menatap adiknya, dan di matanya ada sesuatu yang sejak tadi tidak ada.
"Aku salah cara mikirnya, Yu," katanya pelan. "Selama ini aku terus mikir gimana caranya nyimpen lebih banyak. Gimana caranya jadi bak yang lebih besar. Padahal aku nggak akan pernah cukup besar, sebesar apa pun. Itu jalan buntu." Ia menempelkan telapaknya yang sehat ke peta, ke garis yang mewakili rangka baja gardu yang tertanam dalam ke tanah. "Tapi aku nggak harus jadi bak. Aku cuma harus jadi kabel."
Bayu mengernyit. "Maksudnya?"
"Aku nggak nahan bebannya. Aku nggak nyimpen. Aku cuma jadi jembatan, sebentar, dari titik yang mau jatuh ke pembumian yang gede, ke tanah, dan aku biarin beban itu lewat aku, terus aku buang. Aku nggak nampung air bahnya. Aku cuma ngasih dia got." Ia menelan ludah, karena ia tahu betapa tipisnya jalan yang baru saja ia lihat, betapa salah ritme satu detik saja akan mengubah dirinya dari got menjadi mayat. "Aku nggak tahu apa itu bisa. Aku belum pernah. Mungkin itu bunuh aku lebih cepat dari kelebihan muatan. Tapi itu satu-satunya cara tubuh sekecil ini bisa berdiri di depan beban segede itu dan nggak langsung mati."
Untuk pertama kalinya sejak ia menghitung angka pagi itu, ada sesuatu selain kekalahan di ruangan itu. Bukan harapan, persis. Sesuatu yang lebih kasar dari harapan, sesuatu yang lebih mirip pekerjaan yang baru saja menemukan langkah pertamanya. Anjani mengambil buku catatannya lagi, membuka halaman kosong, dan di atasnya, dengan tangan yang sehat, ia menulis satu kata yang akan mengubah segalanya dalam minggu-minggu berikutnya: mengalirkan.