Mereka memulai pada malam yang sama, karena Anjani tidak tahu berapa banyak malam yang ia punya.
Bengkel ayahnya menjadi laboratorium. Bayu mengeluarkan semua yang bisa mereka pakai dari rak-rak berdebu: aki-aki bekas yang masih bisa menyimpan muatan, kabel-kabel tembaga dengan berbagai ketebalan, sebatang besi tanam yang biasa dipakai ayahnya untuk pembumian instalasi rumah, multimeter tua yang jarumnya masih bisa dipercaya. Mereka membuat versi paling kecil dari masalah paling besar: sebuah sumber yang menyimpan muatan, dan sebuah jalan ke tanah, dan di antara keduanya, Anjani.
"Aturannya gini," kata Anjani, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bayu, sambil ia menancapkan besi tanam itu dalam-dalam ke tanah liat di sudut bengkel yang lantainya belum disemen, tanah lembap tempat ayahnya dulu menguji segala sesuatu. "Kalau aku nyentuh sumber dan nyerep, muatan itu masuk ke aku dan diam di sana, dan aku harus nampung. Itu yang selalu aku lakuin. Itu yang bunuh aku pelan-pelan." Ia berjongkok, menyentuh besi tanam dengan tangan sehatnya, merasakan tanah lembap yang dingin di balik ujung jarinya. "Yang aku mau coba beda. Aku mau jadi penghubung. Satu tangan di sumber, satu tangan di tanah. Aku biarin muatan itu cuma lewat. Masuk dari sini, keluar ke sana. Aku nggak nampung. Aku cuma ngasih jalan."
Bayu pucat di balik laptopnya. "Dan kalau jalannya nggak nyambung mulus? Kalau ada hambatan di tengah, di tubuh Mbak?"
"Maka hambatan itu yang kepanasan," kata Anjani datar. "Itu aku."
Mereka memulai sangat kecil. Satu aki motor yang setengah kosong, muatan yang bahkan tidak akan membuat blok di luar berkedip. Anjani memakai sarung tangan peredamnya di tangan kanan dan membiarkan tangan kirinya yang penuh parut telanjang, karena ia ingin merasakan, karena kulit yang sudah pernah terbakar itu paling tahu kapan ada yang salah. Ia menyentuhkan ujung jari tangan kirinya ke terminal aki, dan ujung jari tangan kanannya, lewat kabel tembaga tebal, ke besi tanam di tanah.
Lalu ia membuka dirinya.
Ini bagian yang tidak bisa ia jelaskan kepada Bayu, karena tidak ada kata untuknya. Selama ini, menyerap berarti menutup pintu di belakang muatan, menahannya di dalam. Kali ini ia harus membuka dua pintu sekaligus dan menjaga keduanya tetap terbuka, membiarkan dirinya menjadi koridor, bukan kamar. Ia merasakan muatan dari aki itu masuk ke ujung jarinya, geli panas yang ia kenal, dan setiap insting di tubuhnya menjerit untuk menangkapnya, menahannya, menyimpannya. Ia melawan insting itu. Ia membayangkan dirinya hampa, sebuah pipa, dan ia membiarkan panas itu mengalir lurus dari kiri ke kanan, lewat lengannya, lewat dadanya, dan keluar ke tanah.
Untuk satu detik yang panjang, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia rasakan sebelumnya: muatan yang lewat tanpa berhenti, panas yang datang dan pergi seketika, seperti air yang dituang ke dalam corong, bukan ember. Aki itu mengosong perlahan, jarum multimeter Bayu bergerak turun, dan tubuh Anjani tidak menyimpan apa-apa. Ia melepas kontak dan duduk terengah, tapi tidak terbakar, tidak penuh, tidak overheat seperti biasa.
"Berhasil," bisik Bayu, menatap jarum. "Aki turun, tapi Mbak nggak nyimpen apa-apa. Mbak cuma... ngelewatin."
"Sebentar," kata Anjani, dan ia tidak ikut gembira, karena tangan kirinya masih berdenyut dengan cara yang tidak ia suka. "Itu aki kecil. Beban kecil. Yang aku takutin bukan kecilnya. Yang aku takutin ritmenya."
Karena ia sudah merasakannya, di tengah aliran tadi, sesuatu yang halus dan berbahaya. Saat muatan lewat lewat dadanya, jantungnya yang pincang merasakannya. Arus yang lewat tubuh tidak peduli ia hanya numpang lewat; ia tetap melewati otot jantung, dan jantung adalah otot yang dikendalikan oleh listrik, oleh pulsa-pulsa kecil yang menyuruhnya berdetak dalam ritme. Ketika muatan asing lewat, jantungnya tersandung, melompat satu denyut, lalu kembali. Dengan aki motor yang kecil, itu hanya tersandung. Dengan beban seksi penuh jaringan, tersandung itu bisa menjadi diam.
Mereka mengulanginya, lebih besar, dua aki. Lalu tiga, dirangkai seri. Setiap kali, Anjani belajar lebih banyak tentang bagaimana membuka dirinya, bagaimana menjaga kedua pintu tetap selebar mungkin agar arus menemukan jalan yang lebih mudah ke tanah daripada lewat jantungnya, bagaimana memposisikan kontak agar jalur terpendek tidak melintasi dadanya. Bayu, dengan pengetahuan teknik yang sedang ia pelajari di kampus, menggambar jalur arus di kertas, menghitung di mana hambatan paling kecil, menyarankan agar Anjani menyentuh sumber dengan tangan dan tanah dengan kaki, sehingga arus lewat tungkai, bukan menyeberang dada.
"Lewat kaki," Anjani mengulang, dan ia melihat kebijaksanaannya. "Biar dia turun lurus ke tanah, nggak mampir ke jantung."
Mereka mencobanya begitu, dan untuk muatan kecil, jantungnya nyaris tidak terganggu. Tapi keduanya tahu, tanpa mengatakannya, bahwa untuk beban sebesar yang menunggu mereka di akhir bulan, tidak ada jalur yang cukup pendek, tidak ada posisi yang cukup aman. Pada skala itu, sebagian dari air bah itu akan selalu menemukan jantungnya, betapapun ia mengarahkan sisanya ke tanah. Pertanyaannya hanya berapa banyak, dan berapa lama jantungnya bisa tersandung sebelum ia lupa cara kembali berdetak.
Menjelang subuh mereka berhenti, kelelahan, dengan tujuh aki kosong berserakan dan tangan kiri Anjani melepuh tipis di ujung jari. Tapi di buku catatannya ada halaman baru yang penuh angka, dan untuk pertama kalinya angka-angka itu bukan tentang batas, melainkan tentang kemungkinan. Ia tidak akan pernah cukup besar untuk menahan kota. Tapi mungkin, hanya mungkin, ia bisa cukup tepat untuk meneruskannya.
"Ini bukan keajaiban," kata Anjani, menutup bukunya saat ayam pertama berkokok di kampung. "Ini cuma fisika yang dulu Bapak ajarin. Beban yang nggak bisa ditahan, harus dialirkan. Selama ini aku lupa pelajaran paling dasar." Ia menatap tangannya. "Aku bukan pahlawan. Aku cuma kabel yang akhirnya inget dia kabel."