Kematian datang menjemputnya pada percobaan kesembilan, dan datang dengan tenang, tanpa bunyi, tanpa peringatan.
Mereka telah menaikkan skala selama tiga malam berturut. Bayu telah membangun bank aki yang lebih besar dengan merangkai dua belas aki bekas yang ia kumpulkan dari tukang loak dan teman-teman kuliahnya, muatan yang cukup untuk membuat satu rumah penuh padam jika dilepas sekaligus. Itu masih tidak ada apa-apanya dibanding seksi jaringan, tapi itu yang terbesar yang bisa mereka kumpulkan tanpa menarik perhatian dengan memadamkan blok. Anjani memandangi bank aki itu dengan campuran hormat dan takut, seperti memandang binatang yang lebih besar dari yang pernah ia tangani.
"Kita berhenti aja malam ini," kata Bayu. Lingkaran hitam menggantung di bawah matanya; ia tidak tidur lebih dari kakaknya. "Mbak udah pucat dari kemarin."
"Akhir bulan nggak nunggu aku pulih," kata Anjani. Ia sudah memposisikan dirinya: kaki kiri telanjang menempel pada lempeng tembaga yang tersambung ke besi tanam, tangan kanan bersiap menyentuh terminal bank aki. Arus akan lewat dari tangan, turun lewat badan, ke kaki, ke tanah. Jalur terpanjang yang menjauhi jantung yang bisa mereka rancang. "Sekali lagi. Yang ini gede. Kalau aku bisa lewatin yang ini tanpa mati, aku tahu aku punya peluang."
Bayu berdiri di dekatnya dengan tangan gemetar di atas sakelar pemutus yang ia pasang di jalur, sakelar darurat yang bisa ia tarik untuk memutus kontak jika sesuatu salah. Mereka sudah menyepakati kodenya: jika Anjani mengangkat dua jari, Bayu memutus. Jika Anjani tidak bisa mengangkat jari, Bayu memutus juga.
Anjani menarik napas, dan menyentuh terminal.
Muatan masuk seperti banjir bandang. Ini bukan aki motor; ini dua belas aki yang melepas bersama, dan untuk satu instan tubuh Anjani diisi sebelum ia sempat membuka pintu keluar. Ia merasakan koridor di dalam dirinya menyempit di bawah tekanan, dan dengan seluruh kehendaknya ia membukanya, membiarkan arus menemukan kakinya, ke tanah. Sebagian besar lewat. Ia merasakannya mengalir turun lewat pahanya, lewat betisnya, ke tanah lembap, panas yang menderu dan lewat. Berhasil. Sebagian besar berhasil.
Tapi sebagian, sebagian kecil, tersesat.
Di tengah deru itu, di sebuah celah sepersekian detik, ritmenya goyah. Arus tidak mengalir rata; ia datang dalam gelombang, dan satu gelombang menemukan jalan yang berbeda, naik bukannya turun, melintasi dadanya. Anjani merasakan jantungnya melompat, lalu berhenti pada lompatan itu, tertahan, seakan ada yang menggenggamnya dan tidak melepas. Ia ingin mengangkat dua jari. Tangannya tidak bergerak. Pandangannya menyempit menjadi terowongan, lalu menjadi titik, lalu hitam, dan hal terakhir yang ia rasakan adalah lantai bengkel naik menyambut wajahnya.
Bayu menarik sakelar bahkan sebelum kakaknya menyentuh lantai. Ia telah melihat jari-jari yang tidak terangkat, telah melihat tubuh itu mengejang lalu lemas, dan sesuatu di dalam dirinya, sesuatu yang lebih cepat dari pikiran, sudah bertindak. Ia menjatuhkan dirinya di samping Anjani, menempelkan telinga ke dada kakaknya, dan tidak mendengar apa-apa. Tidak ada denyut. Dada itu diam.
Ia pernah belajar ini di pelatihan kampus, di sebuah siang membosankan dengan boneka karet, dan ia tidak pernah menyangka akan memakainya pada kakaknya sendiri di lantai bengkel ayahnya yang berbau oli. Tangannya menemukan tengah dada Anjani, ia menumpuk telapak, ia menekan, keras, cepat, menghitung dengan suara yang pecah di kerongkongannya. Satu, dua, tiga. Ia tidak berani memberi napas dari mulut karena ia tidak tahu apakah masih ada muatan di tubuh kakaknya yang bisa mengalir ke dirinya; ia hanya menekan, dan menekan, dan memohon dalam bahasa tanpa kata, dan dunia menyusut menjadi telapak tangannya dan dada yang diam itu.
Pada hitungan yang entah keberapa, Anjani tersentak. Tubuhnya melengkung, ia menarik napas dengan suara seperti orang tenggelam yang dijaring kembali, dan jantungnya, di bawah telapak Bayu, mulai berdetak lagi, kacau dan terlalu cepat, tapi berdetak. Bayu jatuh ke samping, gemetar hebat, dan untuk waktu yang lama keduanya hanya tergeletak di lantai itu, bernapas, hidup, ketakutan.
"Jangan pernah lagi," kata Bayu akhirnya, dan suaranya bukan suara adik melainkan suara orang yang baru saja menggenggam mayat dan menolak melepasnya. "Aku nggak peduli sama kota. Jangan pernah lagi."
Anjani tidak menjawab selama beberapa menit. Ia menatap langit-langit bengkel, asbes tua dengan noda air hujan bertahun-tahun, dan ia merasakan jantungnya pelan-pelan menemukan kembali ritmenya, masih tersandung, tapi kembali. Ia tahu, dengan kepastian yang dingin, bahwa ia baru saja mati selama beberapa detik, dan bahwa adiknya yang menariknya kembali. Ia juga tahu, dengan kepastian yang sama dinginnya, bahwa apa yang baru saja membunuhnya adalah pecahan kecil dari apa yang menunggunya di akhir bulan.
"Tekniknya benar," katanya akhirnya, parau. "Sebagian besar arusnya lewat, Yu. Aku ngerasain. Yang hampir bunuh aku cuma yang nyasar." Ia mengangkat tangan kirinya dan menatapnya. "Masalahnya bukan tekniknya. Masalahnya aku nggak bisa ngontrol jalurnya sendirian, di tengah banjir. Aku butuh jaringannya disiapin dulu. Pembumian yang bener di titik yang bener, jalur yang udah dibuka sebelumnya, biar arus punya jalan yang jauh lebih gampang dari lewat jantungku." Ia menelan ludah. "Aku nggak bisa nyiapin jaringan sebesar itu dari luar. Aku butuh seseorang di dalam. Di ruang kendali. Yang bisa buka jalur dan pembumian dari SCADA pas malam itu."
Bayu menatapnya, masih gemetar, lalu mengangguk pelan, karena ia mengerti, dan karena ia tahu kakaknya tidak akan berhenti, dan karena satu-satunya cara menjaganya tetap hidup adalah memastikan jalurnya benar. "Reza di sel," katanya. "Kita nggak punya orang dalam lagi."
"Belum," kata Anjani, dan ia memejamkan mata, mendengarkan jantungnya yang baru saja kembali dari kematian, menghitung lagi. "Tapi pasti masih ada satu orang di ruangan itu yang muak sama angka palsu."