Mencari orang jujur di dalam perusahaan yang berusaha membunuh kota adalah pekerjaan yang harus dilakukan seperti membaca jaringan: pelan, dari sumber yang paling jujur, tanpa membuat percikan.
Anjani tidak bisa masuk ke ruang kendali SCADA lagi; ia diskors, dan wajahnya dikenal satpam. Tapi ia masih punya hal yang tidak bisa dicabut oleh skorsing mana pun: bertahun-tahun bekerja di lapangan, ratusan jam berbagi kopi pahit di gardu, jaringan kenalan kelas pekerja yang lebih nyata daripada bagan organisasi mana pun. Lewat seorang teknisi tua yang dulu sering ia bantu, seseorang yang berutang budi padanya dan tidak bertanya banyak, ia mendapat satu nama, diucapkan pelan di warung kopi pinggir kawasan: operator shift malam yang sejak kepergian Reza selalu murung, yang pernah ketahuan menggerutu tentang log yang tidak masuk akal, yang oleh atasannya disuruh diam.
Namanya Mawar. Bukan gadis muda seperti dugaan pertama Anjani; seorang perempuan paruh baya, sekitar empat puluhan, yang sudah belasan tahun duduk di depan layar SCADA di shift yang tidak diinginkan siapa pun, yang mengenal jaringan kota itu lebih intim daripada kebanyakan insinyur muda yang lewat lalu pindah ke kantor pusat. Ia membesarkan dua anak dari gaji operator dan tidak pernah mengeluh, dan justru karena itulah keluhannya tentang log palsu menjadi luar biasa: Mawar bukan tipe yang berisik.
Anjani menemuinya di luar kerja, di sebuah rumah makan padang yang ramai di siang hari, di mana dua perempuan mengobrol tidak akan menarik perhatian siapa pun. Ia tidak datang sebagai Hantu Gardu. Ia datang sebagai Anjani Larasati, teknisi yang diskors, dengan map berisi salinan dokumen yang ia foto di kantor perencanaan aset.
Mawar curiga sejak detik pertama, dan Anjani menghormati kecurigaan itu; di tempat seperti perusahaan mereka, orang yang tidak curiga adalah orang yang sudah dibeli atau sudah hancur. "Saya cuma operator," kata Mawar, sambil menyendok rendang yang tidak ia sentuh. "Saya nggak tahu apa-apa soal politik atasan. Saya cuma jaga layar dan catat angka."
"Justru itu," kata Anjani pelan. "Ibu jaga layar. Ibu catat angka. Dan Ibu tahu, lebih dari siapa pun, angka mana yang nggak masuk akal. Angka yang muncul di log padahal gardunya sehat. Beban yang dilaporin padahal Ibu lihat sendiri di lapangan beda. Reza dulu nyoba ngerapiin angka itu, dan sekarang dia di sel karena dianggap maling data."
Nama Reza membuat sesuatu bergerak di wajah Mawar. Ia meletakkan sendoknya. "Reza anak baik," katanya, dan suaranya turun. "Dia nggak nyolong apa-apa. Saya tahu itu. Semua orang di ruangan itu tahu itu. Tapi kami semua diam, karena kami semua punya cicilan, punya anak sekolah, punya alasan buat diam." Ia menatap Anjani dengan mata yang lelah. "Termasuk saya."
Anjani membuka mapnya. Ia tidak menjelaskan kekuatannya, tidak bicara tentang Hantu Gardu, tidak menyentuh hal-hal yang akan membuat dirinya terdengar gila. Ia hanya membentangkan dokumen: kontrak peremajaan, adendum dengan tanggal yang berbeda dua hari dari tanggal gardu jatuh, aliran uang yang Lestari verifikasi, daftar gardu yang sudah dijatuhkan dengan pola yang menuju koridor emas. Ia berbicara bahasa yang Mawar mengerti tanpa diterjemahkan: bahasa beban dan proteksi dan rele, bahasa orang yang menghabiskan hidup membaca jaringan yang sama.
Dan kemudian ia menunjukkan yang terakhir, yang paling buruk: peta yang ia dan Bayu susun, dengan tanggal di akhir bulan dilingkari merah, dan ia menjelaskan apa artinya. Bukan satu gardu lagi. Seluruh kota, dalam satu malam, dijatuhkan sengaja agar dana darurat cair ke kontraktor yang sama yang menjatuhkannya.
Mawar diam lama. Di sekelilingnya rumah makan berdenting dengan piring dan obrolan, dunia yang tidak tahu bahwa kotanya dijadwalkan mati. "Kalau ini benar," katanya akhirnya, sangat pelan, "berarti malam itu saya bakal duduk di kursi saya, lihat layar saya, dan nyaksiin kota saya gelap satu-satu, dan saya nggak akan boleh ngapa-ngapain."
"Kecuali Ibu mau," kata Anjani.
Lalu ia menjelaskan bagiannya, sederhana dan mengerikan. Ia tidak meminta Mawar menjadi pahlawan, tidak meminta sabotase balik yang akan ketahuan. Ia hanya meminta satu hal yang ada dalam wewenang seorang operator pada malam itu: pada saat-saat genting, membuka jalur pembumian tertentu, membiarkan jalur-jalur tertentu tetap hidup, mengarahkan sebagian beban ke titik yang sudah disiapkan, agar ketika Anjani berdiri di gardu pengunci dan mencoba mengalirkan beban kota lewat tubuhnya ke tanah, arus itu punya jalan yang jauh lebih mudah daripada lewat jantungnya. Mawar tidak perlu menahan apa pun. Ia hanya perlu menjadi tangan kedua yang membuka got, dari dalam, sementara Anjani menjadi corongnya dari luar.
"Kalau ketahuan," kata Mawar.
"Kalau ketahuan, Ibu kehilangan kerjaan, mungkin lebih," kata Anjani jujur, karena ia tidak akan merekrut seseorang dengan dusta. "Tapi kalau saya gagal sendirian malam itu, kota jatuh, dan Ibu tetap kehilangan kerjaan juga, di kota yang udah mati."
Mawar menatap rendang yang dingin di piringnya, lalu menatap foto dua anaknya yang ia bawa di dompet seperti banyak ibu, dan Anjani melihat perhitungan yang sama yang pernah ia lihat di banyak wajah kelas pekerja: bukan keberanian heroik, melainkan kalkulasi pahit tentang anak, cicilan, dan risiko. Tapi kali ini, di ujung kalkulasi itu, Mawar mengangguk.
"Reza anak baik," katanya lagi, seakan itu jawabannya, seakan itu alasannya. "Saya ikut. Bukan buat Ibu. Buat dia, dan buat saya yang udah kelamaan diam."
Untuk pertama kalinya sejak malam ia hampir mati di lantai bengkel, Anjani merasakan jaringannya menjangkau ke dalam, ke jantung sistem itu sendiri. Ia tidak lagi sendirian di luar. Ada satu tangan jujur di ruang gelap tempat angka palsu dibuat, dan tangan itu kini berpihak padanya.