Telepon itu datang pada Selasa siang, dari nomor yang tidak Anjani kenal, dan suara di ujungnya begitu ramah sehingga butuh beberapa detik baginya untuk menyadari siapa yang bicara.
"Mbak Anjani. Apa kabar? Ini Sudibyo, dari perencanaan aset."
Anjani berdiri di bengkel dengan obeng di tangan, dan untuk sesaat seluruh tubuhnya membeku. Selama berbulan-bulan nama itu hanya tanda di petanya, suara di rekaman Reza, otak di balik setiap gardu yang jatuh. Sekarang nama itu menelepon nomor pribadinya, dengan nada seseorang yang menanyakan kabar tetangga. Fakta bahwa Sudibyo punya nomornya, bahwa Sudibyo memilih untuk meneleponnya, mengirim getaran dingin ke punggungnya. Lawan yang selama ini ia intai dari kegelapan kini menyalakan lampu dan memanggilnya dengan ramah.
"Pak Sudibyo," katanya, menjaga suaranya datar, menjaga tangannya tidak menjatuhkan obeng. "Ada apa, Pak?"
"Begini, Mbak. Saya dengar soal skorsing Mbak. Sayang sekali. Mbak teknisi terbaik di lapangan, semua orang tahu itu. Pak Hadi, almarhum, dulu sering muji Mbak." Sebuah jeda yang diperhitungkan, penyebutan nama orang mati yang dibunuh oleh perusahaan yang sama, dilemparkan dengan santai seperti basa-basi. Anjani menahan diri untuk tidak bereaksi. "Saya nggak setuju sama keputusan skorsing itu. Menurut saya itu salah sasaran. Dan kebetulan, proyek peremajaan kita lagi butuh orang lapangan yang ngerti betul jaringan tua kota ini. Orang seperti Mbak."
Di situlah Anjani mengerti bentuk percakapan ini. Ini bukan ancaman. Belum. Ini tawaran. Sudibyo, yang mulai mencium bahwa ada kebocoran, yang mungkin tahu seorang teknisi diskors terlalu sering muncul di lokasi blackout, sedang melakukan apa yang dilakukan orang seperti dia terhadap setiap masalah: mencoba membelinya dulu. Lebih murah membeli daripada membunuh, dan lebih bersih. Ia sedang menguji apakah Anjani adalah masalah yang bisa diselesaikan dengan uang, atau masalah yang harus diselesaikan dengan cara lain.
Dan Anjani menyadari, dalam detak jantungnya yang tiba-tiba terlalu cepat, bahwa jawabannya menentukan segalanya. Jika ia menolak terlalu keras, terlalu cepat, Sudibyo akan tahu ia tidak bisa dibeli, dan masalah yang tidak bisa dibeli adalah masalah yang harus disingkirkan, dan Sudibyo punya seluruh akhir bulan untuk menyingkirkannya. Tapi jika ia berpura-pura tergoda, ia mengulur waktu. Setiap hari yang ia ulur adalah hari Mawar bisa menyiapkan jalur dari dalam, hari Bayu bisa memetakan lebih dalam, hari Lestari bisa menyiapkan siaran. Waktu adalah satu-satunya hal yang ia butuhkan, dan Sudibyo, tanpa tahu, baru saja menawarkannya cara untuk membelinya.
"Saya... nggak nyangka Bapak sendiri yang nelepon," kata Anjani, dan ia membiarkan sedikit kebimbangan yang tulus masuk ke suaranya, karena cara terbaik berbohong adalah dengan kebenaran yang dipotong. Ia memang bimbang; ia hanya membiarkan Sudibyo salah membaca tentang apa. "Skorsing ini bikin susah, Pak. Saya punya ibu, ada adik kuliah. Gaji berhenti itu berat."
"Persis," kata Sudibyo, dan ada kepuasan halus di suaranya, suara seseorang yang merasa ikannya mendekati kail. "Itu yang saya pikirin, Mbak. Orang baik nggak boleh susah cuma karena salah paham birokrasi. Saya bisa atur Mbak masuk tim proyek, bayaran kontraktor, jauh lebih besar dari gaji BUMN. Mbak tinggal kerja yang Mbak bisa, baca jaringan, kasih masukan teknis. Nggak ada yang aneh-aneh."
Nggak ada yang aneh-aneh. Anjani hampir tertawa pahit ke dalam dirinya. Tim proyek. Bayaran kontraktor. Bina Daya, perusahaan yang sama tempat Galih bekerja, perusahaan yang merusak gardu yang dibayar memperbaikinya. Sudibyo sedang menawarinya kursi di meja para perampok kota, dan ia mengucapkannya dengan nada paman baik hati yang menolong keponakan kesulitan.
"Saya butuh waktu mikir, Pak," katanya. "Ini... ini besar buat saya. Saya nggak mau gegabah."
"Tentu, tentu," kata Sudibyo, dan kemurahannya terdengar seperti kemenangan, karena bagi orang seperti dia, orang yang minta waktu adalah orang yang sudah setengah membeli. "Pikirkan baik-baik. Tapi jangan kelamaan ya, Mbak. Proyek ini jalan terus. Akhir bulan kita ada tahap penting. Bagus kalau Mbak udah gabung sebelum itu."
Akhir bulan. Tahap penting. Sudibyo baru saja, tanpa sadar, mengonfirmasi tanggal itu dengan mulutnya sendiri, dengan nada santai, seakan membicarakan rapat biasa. Anjani menutup mata. Bagi Sudibyo, malam kota itu dijatuhkan hanyalah sebuah tahap penting dalam proyek, sebuah tonggak dalam laporan triwulan, sesuatu yang akan ia rayakan dengan tumpeng dan amplop. Ia tidak melihat mayat. Ia tidak akan pernah melihat mayat. Ia akan membaca berita kolaps Karangwetan dari kantor ber-AC dan menghitung dana yang mengalir.
"Saya kabari secepatnya, Pak," kata Anjani.
Setelah telepon ditutup, ia berdiri lama di tengah bengkel, gemetar, bukan karena takut, melainkan karena marah yang harus ia tahan, marah yang harus ia kunci rapat agar bisa terus berpura-pura. Bayu, yang baru pulang kuliah, menemukannya seperti itu dan langsung tahu sesuatu terjadi.
"Dia nelepon," kata Anjani. "Sudibyo. Sendiri."
Bayu pucat. "Dia tahu?"
"Dia curiga. Belum tahu. Dia nawarin aku kerjaan, Yu. Bayaran kontraktor. Dia nyoba beli aku." Anjani tersenyum tipis, senyum tanpa kehangatan. "Dan aku bilang aku butuh waktu mikir."
Bayu menatapnya. "Mbak ngulur waktu."
"Aku ngulur waktu," Anjani mengangguk. "Tiap hari dia ngira aku lagi mikir tawarannya, itu satu hari lagi buat Mawar nyiapin jalur. Tapi ini permainan bahaya, Yu. Selama dia ngira aku bisa dibeli, dia nggak akan nyentuh aku. Begitu dia tahu aku nggak bisa dibeli..." Ia tidak menyelesaikan kalimatnya. Ia tidak perlu. Mereka berdua sudah melihat apa yang terjadi pada Pak Hadi, yang juga sempat dibeli, sebelum ia menjadi terlalu mahal untuk dibiarkan hidup.