Sudibyo menelepon lagi pada Jumat, dan kali ini ia tidak menunggu Anjani menjawab kabar.
"Mbak Anjani, gimana? Udah ada keputusan?" Suaranya masih ramah, tapi ada ketegangan baru di bawahnya, irama orang yang jadwalnya menyempit. "Saya nggak mau ngejar-ngejar, tapi tim udah nanya, dan saya udah pasang nama Mbak buat slot itu. Jangan bikin saya malu di depan atasan ya."
Anjani sudah menyiapkan jawabannya bersama Bayu, jawaban yang dirancang untuk mengulur tanpa menolak, untuk menjaga kail tetap di mulut tanpa menelannya. "Pak, saya hampir mantap. Cuma satu yang ganjel. Skorsing saya kan masih jalan. Kalau saya tiba-tiba gabung proyek kontraktor padahal lagi diskors, nanti orang ngomong. Bisa jadi masalah buat Bapak juga. Mendingan tunggu skorsing dicabut dulu, baru—"
"Skorsing bisa diatur," potong Sudibyo, dan untuk pertama kalinya keramahannya menipis, menampakkan baja di bawahnya. "Mbak, saya udah lama di perusahaan ini. Saya tahu Mbak teknisi pinter. Tapi orang pinter kadang kepinteran. Kadang mikir terlalu banyak, sampai lupa hal yang sederhana." Jeda. "Mbak punya ibu, tadi Mbak bilang. Bu Tarmi, kan? Yang tinggal di Gang Mawar Tiga itu."
Darah Anjani membeku.
"Dan adik Mbak," lanjut Sudibyo, suaranya tetap datar, tetap ramah di permukaan, dan justru kerataan itu yang membuatnya begitu mengerikan. "Bayu, ya. Mahasiswa teknik. Pinter juga katanya. Sayang ya, anak muda, masa depan masih panjang. Mbak pasti pengin dia lulus, kerja yang aman, nggak kena masalah aneh-aneh."
Setiap kata adalah pisau yang dimasukkan dengan tenang. Sudibyo tidak mengancam. Ia tidak berkata akan melukai mereka. Ia hanya menyebutkan nama mereka, alamat mereka, masa depan mereka, dengan nada peduli, dan dalam kepedulian palsu itu terkandung seluruh ancaman, justru karena tidak diucapkan. Ini cara orang seperti Sudibyo bekerja, Anjani mengerti sekarang dengan jelas yang dingin: ia tidak pernah mengotori tangannya dengan ancaman terbuka. Ia hanya menunjukkan bahwa ia tahu di mana semua titik lemahmu berada, dan membiarkan ketakutanmu sendiri menyelesaikan kalimatnya.
Dan yang paling membuat Anjani gemetar bukan ancamannya. Melainkan betapa banyak yang Sudibyo tahu. Nama ibunya. Gang tempat tinggal mereka. Bahwa Bayu mahasiswa teknik. Itu bukan informasi yang ada di berkas kepegawaian seorang teknisi lapangan. Itu informasi yang dikumpulkan, sengaja, oleh seseorang yang sudah mengawasinya. Sudibyo telah mengintai keluarganya sementara Anjani mengira ia yang mengintai. Ia merasa seperti seseorang yang baru menyadari bahwa selama ia mengamati lubang kunci, ada mata lain yang mengamatinya dari sisi sebaliknya.
"Saya ngerti, Pak," kata Anjani, dan ia berjuang keras menjaga suaranya tidak pecah, menjaga ketakutan itu tidak terdengar, karena membiarkannya terdengar berarti memberi Sudibyo apa yang ia mau. "Bapak benar. Saya kadang kebanyakan mikir."
"Nah, gitu dong," kata Sudibyo, dan keramahannya kembali seketika, seperti lampu yang dinyalakan lagi. "Saya tunggu Mbak gabung sebelum akhir bulan. Salam buat Bu Tarmi ya."
Telepon mati. Anjani berdiri di bengkel, dan tangannya yang memegang ponsel gemetar tak terkendali, dan ia harus duduk di kursi kerja ayahnya sebelum lututnya menyerah. Bukan untuk dirinya ia takut; ia sudah lama berdamai dengan kemungkinan tubuhnya tidak akan bertahan. Tapi nama ibunya di mulut Sudibyo, alamat Gang Mawar Tiga, Bayu yang masih punya masa depan, hal-hal itu membuat ketakutan menjadi sesuatu yang sama sekali lain, sesuatu yang melumpuhkan, sesuatu yang membuatnya untuk pertama kalinya ingin berhenti.
Bayu menemukannya seperti itu, dan ketika Anjani menceritakan apa yang dikatakan Sudibyo, ia melihat wajah adiknya berubah dari marah menjadi sesuatu yang lebih tua, lebih berat. Bayu masih muda, tapi ia bukan anak kecil; ia mengerti apa artinya namanya disebut oleh orang yang membunuh Pak Hadi dan menyamarkannya sebagai kecelakaan listrik.
"Dia tahu di mana kita tinggal," kata Bayu pelan. "Dia tahu nama Ibu."
"Iya."
"Berarti kalau kita terus, kita nggak cuma mempertaruhkan Mbak. Kita mempertaruhkan Ibu." Bayu menelan ludah. "Mungkin kita harus mikir ulang. Mungkin Lestari aja yang—"
"Lestari sendiri akan dikubur tanpa momen besar, kamu tahu itu," kata Anjani, tapi suaranya tidak punya kekuatan biasanya, karena untuk pertama kalinya ia ragu, untuk pertama kalinya beban menjadi pahlawan telah menemukan harga yang benar-benar tidak bisa ia bayar sendiri. "Tapi kamu benar. Aku nggak bisa nyuruh Ibu nanggung ini tanpa dia tahu apa-apa."
Malam itu mereka tidak menyusun strategi. Mereka duduk di bengkel dalam diam, dua kakak beradik yang baru menyadari bahwa lawan mereka telah mengubah meja permainan, bahwa ini bukan lagi tentang kota yang abstrak atau keadilan yang jauh, melainkan tentang seorang ibu yang sedang menumbuk sambal di rumah di Gang Mawar Tiga, tanpa tahu bahwa namanya telah diucapkan di telepon oleh seseorang yang sanggup mengubah rumah menjadi tempat kejadian perkara.
Dan jauh di dalam dirinya, di bawah ketakutan, Anjani merasakan sesuatu yang lebih dingin mengeras: kesadaran bahwa Sudibyo, dengan menyebut nama ibunya, telah melakukan satu kesalahan. Ia telah mengubah ini menjadi pribadi. Dan orang yang melawan demi kota yang abstrak bisa lelah, bisa ragu, bisa berhenti. Tapi orang yang melawan demi ibunya tidak akan pernah berhenti, sampai salah satu dari mereka tidak bisa berdiri lagi.