Peringatan itu datang pada Minggu pagi, dalam bentuk bau gosong dan jeritan pendek ibunya dari dapur.
Anjani sedang di bengkel ketika ia mendengar Bayu berteriak dari arah rumah, dan ia berlari lebih cepat dari yang seharusnya bisa dilakukan tubuh dengan jantung pincang, melewati gang sempit, masuk ke dapur tempat asap tipis menggantung dan Bu Tarmi berdiri terpaku di depan kompor listrik tua mereka, tangannya merah, matanya lebar karena kaget. Bayu sudah mematikan listrik dari panel, dan udara berbau seperti kabel terbakar dan ketakutan.
"Ibu cuma nyalain kompor," kata Bu Tarmi, suaranya bergetar, memandangi telapak tangannya yang melepuh tipis. "Tiba-tiba ada percikan, kayak ada yang konslet. Tangan Ibu kesetrum. Untung cuma sebentar."
Anjani menggenggam tangan ibunya, memeriksa luka bakarnya yang untungnya ringan, lalu ia melakukan apa yang tidak bisa dilakukan ibunya maupun Bayu: ia membaca panel itu. Ia membuka tutupnya dan menatap kabel-kabel di dalamnya dengan mata seorang teknisi, dan dalam tiga detik ia tahu, dengan kepastian yang membuat perutnya jatuh, bahwa ini bukan kerusakan tua. Kompor listrik mereka memang tua, tapi instalasinya ayahnya yang pasang, rapi, benar. Yang ada di depannya sekarang bukan keausan. Sebuah sambungan telah dilonggarkan, sebuah pembumian dipindahkan dengan cara yang halus, cara yang hanya akan terlihat oleh mata yang tahu persis bagaimana instalasi seharusnya. Cara yang akan tampak seperti kecelakaan bagi penyidik mana pun, persis seperti kematian Pak Hadi tampak seperti kecelakaan.
Seseorang telah masuk ke rumah mereka. Seseorang yang tahu kelistrikan, yang tahu cara membuat kecelakaan, telah membuka panel ini dan mengubah satu sambungan agar suatu pagi, ketika seorang ibu menyalakan kompor, ada percikan, ada sengatan. Kali ini ringan. Kali ini hanya peringatan. Tangan profesional yang sama yang bisa membuat sengatan ringan bisa, jika diperintahkan, membuat yang mematikan.
Galih, pikir Anjani, dan namanya terasa seperti es di mulutnya. Ini pekerjaan Galih. Tangan baru yang dingin, yang tak punya rasa bersalah, yang bagi Sudibyo lebih bisa diandalkan daripada Pak Hadi yang terombang-ambing. Sudibyo telah mengirim Galih ke rumahnya, bukan untuk membunuh, belum, melainkan untuk menunjukkan bahwa ia bisa, kapan saja, dengan tangan yang bahkan tidak akan meninggalkan jejak yang bisa dibuktikan.
Anjani tidak mengatakan apa-apa pada ibunya tentang ini. Ia hanya berkata bahwa instalasinya memang sudah tua dan berbahaya, bahwa ibunya harus tinggal sementara di rumah Bude Sri di kampung sebelah sampai ia membenahi semuanya. Bu Tarmi protes, tentu saja, mengeluh tentang ayam yang harus diberi makan dan jadwal pengajian, tapi ada sesuatu di wajah putrinya yang membuatnya berhenti protes dan mengangguk, karena seorang ibu tahu kapan anaknya menyembunyikan ketakutan di balik kalimat praktis.
Malam itu, setelah ibu mereka diantar dengan selamat ke rumah Bude Sri, Anjani dan Bayu bertengkar untuk pertama kalinya sejak rahasia itu pecah di antara mereka, dan mereka bertengkar keras.
"Ini udah keterlaluan," kata Bayu, mondar-mandir di bengkel, suaranya naik dengan cara yang jarang. "Mereka masuk ke rumah kita, Mbak. Mereka nyetrum Ibu. Lain kali bukan cuma percikan. Kita harus berhenti. Kita kasih semua bukti ke Lestari, kita kabur, kita biarin hukum yang—"
"Hukum yang apa?" Anjani membalas, dan suaranya juga naik, kelelahan dan ketakutan dan marah berbulan-bulan tumpah sekaligus. "Hukum yang masih nahan Reza di sel buat kejahatan yang dia lawan? Hukum yang nulis kematian Pak Hadi sebagai kecelakaan? Kalau kita kabur sekarang, kota tetap jatuh akhir bulan, Reza tetap dipenjara, dan kita lari ke mana? Sudibyo tahu nama Ibu, Yu. Dia tahu Gang Mawar Tiga. Kabur nggak bikin kita aman, cuma bikin kita lari sambil punggung terbuka."
"Jadi kita diem aja sambil mereka ngincer Ibu?!"
"Aku nggak bilang kita diem!" Anjani berteriak, dan teriakan itu membuat dadanya berdenyut, jantungnya tersandung, dan ia harus berpegangan pada meja. Bayu langsung di sisinya, marahnya runtuh seketika menjadi ketakutan yang lain, dan menahan lengan kakaknya sampai napasnya kembali.
Ketika Anjani bisa bicara lagi, suaranya pelan, dan justru kepelanan itu yang membuat Bayu mendengarkan. "Aku nggak bilang kita diem," ulangnya. "Aku bilang lari bukan jalan keluar. Satu-satunya cara Ibu aman, kamu aman, aku aman, itu kalau Sudibyo jatuh. Bukan disembunyiin di bawah karpet sama hukum yang bisa dia beli, tapi jatuh di depan seluruh kota, sampai dia nggak punya kuasa lagi buat ngirim siapa pun ke rumah siapa pun." Ia menatap adiknya. "Mereka pikir dengan nyetrum Ibu mereka bikin kita takut sampai berhenti. Tapi mereka salah baca. Sekarang aku punya alasan yang nggak akan pernah lelah. Dulu aku lawan buat kota yang nggak kenal aku. Sekarang aku lawan buat Ibu."
Bayu menatapnya lama, marah dan takut dan cinta bercampur di wajah mudanya, lalu ia mengangguk, pelan, menyerah bukan pada argumen melainkan pada kebenaran yang ia tahu sejak awal: bahwa kakaknya tidak akan pernah berhenti, dan bahwa satu-satunya cara melindunginya adalah memastikan ia menang.
"Kalau gitu kita menang," kata Bayu akhirnya, parau. "Karena kalau enggak, aku nggak cuma kehilangan kota. Aku kehilangan kamu dan Ibu sekaligus." Ia mengusap wajahnya. "Jadi kita pastiin Sudibyo jatuh sebelum dia sempet kirim Galih balik ke rumah ini."