Galih tidak datang dalam gelap. Ia datang di siang bolong, ke bengkel, dengan langkah orang yang tidak takut dilihat siapa pun, dan itulah yang membuat Anjani tahu seberapa percaya dirinya lawan barunya.
Ia sedang sendirian, Bayu di kampus, ketika bayangan jatuh di ambang pintu bengkel dan ia menoleh untuk menemukan seorang lelaki berdiri di sana dengan seragam kerja kontraktor yang bersih, tas perkakas tergantung rapi di bahu, dan wajah yang tenang seperti orang yang mampir untuk pekerjaan rutin. Anjani mengenalinya seketika, meski mereka hanya pernah beradu dalam gelap di Gardu Lima Belas. Cara ia berdiri, cara matanya menyapu bengkel dan langsung membaca tata letaknya, panel daya di mana, jalur kabel ke mana, itu cara seorang teknisi, cara yang sama yang ia kenali pada dirinya sendiri.
"Bengkel yang bagus," kata Galih, suaranya enak didengar, hampir hangat. "Punya ayah Anda, kan? Tukang servis dinamo. Saya dengar tangannya termasuk yang terbaik di Karangwetan dulu."
Ia menyebut ayahnya. Ia tahu tentang ayahnya. Anjani berdiri di samping meja kerja, tangannya pelan-pelan bergerak ke kuncir kabel di mejanya, ke aki di rak, mengukur tanpa terlihat mengukur seberapa banyak muatan yang bisa ia jangkau jika ini berubah menjadi sesuatu yang lain.
"Anda Galih," kata Anjani. Tidak ada gunanya berpura-pura.
"Dan Anda Anjani Larasati," balas Galih, dan ia mengucapkannya seperti menutup sebuah transaksi yang sudah lama ia kerjakan. "Teknisi diskors. Anak tukang dinamo. Yang punya ibu di Gang Mawar Tiga." Ia tersenyum, dan senyum itu tidak punya kebencian, tidak punya kemenangan, hanya ketenangan profesional yang membuatnya jauh lebih menakutkan daripada amarah mana pun. "Dan, kalau perhitungan saya benar, yang malam-malam tertentu suka membuat lampu padam di tempat yang aneh-aneh. Yang oleh orang-orang bodoh dipanggil Hantu Gardu."
Di situlah Anjani mengetahui yang terburuk: Galih tahu. Bukan menduga seperti Sudibyo. Tahu. Ia telah menghubungkan teknisi diskors dengan sosok di gardu, dan ia menyatakannya dengan kepercayaan diri seseorang yang sudah memeriksa pekerjaannya. Tidak seperti Pak Hadi, yang terkejut menemukan Hantu Gardu nyata, Galih telah memburu kebenaran itu dengan tenang dan menemukannya.
"Saya nggak akan basa-basi soal apa yang bisa Anda lakukan," kata Galih, melangkah masuk satu langkah, tidak mengancam, hanya menempatkan diri. "Itu menarik secara teknis, harus saya akui. Tubuh yang bisa nyimpen dan ngalirin muatan. Saya sempat nggak percaya, sampai saya lihat sendiri di Gardu Lima Belas. Tapi saya datang bukan buat ngagumin Anda."
"Kenapa Anda datang?"
Galih meletakkan tasnya di lantai, gerakan santai yang justru menegaskan ia tidak menganggap Anjani ancaman fisik langsung. "Buat ngomong jujur, antar orang yang sama-sama ngerti jaringan. Karena saya capek sama orang-orang yang nganggep ini soal baik dan jahat." Ia menatap Anjani lurus. "Anda kira saya jahat. Anda kira saya monster yang ngejatuhin gardu. Tapi saya nggak benci kota ini. Saya nggak benci siapa-siapa. Bagi saya ini cuma pekerjaan. Ada yang bayar saya buat ngerusak gardu, sama kayak ada yang bayar Anda dulu buat ngerawatnya. Beda klien, sama kerjaan. Saya tukang. Saya dibayar mahal, saya kerja rapi, saya pulang ke rumah. Itu aja."
Dan Anjani menyadari, dengan mual yang dingin di perutnya, bahwa inilah yang membuat Galih lebih mengerikan daripada Sudibyo. Sudibyo serakah; keserakahan bisa dimengerti, bisa dibenci dengan jelas. Pak Hadi terpojok; keputusasaan bisa dikasihani. Tapi Galih tidak serakah dan tidak terpojok. Galih hanya melihat kota yang akan dijatuhkan, ribuan orang yang lampunya akan mati, lansia yang ventilatornya akan berhenti, sebagai daftar tugas dengan bayaran yang baik. Tidak ada kejahatan dramatis di matanya, tidak ada ideologi, tidak ada dendam. Hanya profesionalisme dingin yang menjual sebuah kota seperti menjual jasa pasang AC.
"Orang akan mati," kata Anjani pelan. "Akhir bulan. Kalau rencana kalian jalan, orang akan mati. Banyak. Anda tahu itu."
Galih mengangkat bahu, gerakan paling mengerikan yang pernah Anjani lihat, karena begitu ringan. "Orang mati tiap hari, Mbak. Di jalan, di rumah sakit, di pabrik yang tutup. Saya nggak nyuruh mereka mati. Saya cuma matiin lampu. Apa yang terjadi setelah lampu mati, itu bukan urusan saya. Saya nggak bikin kota ini tua dan rapuh. Saya cuma manfaatin keadaan yang udah ada." Ia memungut tasnya kembali. "Saya datang buat ngasih tahu Anda satu hal, biar adil, antar teknisi. Saya tahu siapa Anda. Saya tahu di mana ibu Anda. Dan saya tahu Anda akan coba ngehentiin sesuatu akhir bulan nanti." Ia berhenti di ambang pintu, menoleh. "Jangan datang malam itu. Bukan ancaman. Saran teknis. Beban malam itu lebih gede dari apa pun yang pernah Anda tahan. Anda berdiri di depannya, Anda mati, dan kota tetap jatuh. Anda cuma akan jadi mayat pertama, bukan penyelamat. Saya udah hitung kapasitas Anda. Anda nggak cukup."
Lalu ia pergi, melangkah keluar ke siang yang terang seakan baru selesai memasang stopkontak, dan Anjani berdiri di bengkel ayahnya dengan jantung berdebar dan pikiran yang berputar. Karena Galih benar tentang satu hal, hal yang sudah Anjani ketahui sejak menghitung angka itu: dengan kapasitasnya yang lama, dengan cara lamanya menahan, ia tidak cukup. Galih telah menghitung itu dengan benar.
Tapi Galih tidak tahu tentang halaman baru di buku catatannya. Tentang kata mengalirkan. Tentang Mawar di ruang kendali. Galih menghitung kapasitas seorang teknisi yang menahan beban. Ia tidak menghitung seorang teknisi yang berhenti mencoba menjadi bak, dan mulai menjadi got. Dan dalam selisih antara dua perhitungan itu, Anjani tahu, terletak satu-satunya peluang yang dimiliki Karangwetan.