Kabar tentang Reza datang lewat Lestari, pada pagi yang sama ketika artikel pertamanya terbit, dan kedua hal itu, kabar buruk dan langkah pertama, datang seperti dua arus yang bertemu dan menciptakan percikan.
Lestari menelepon dengan suara yang sudah dingin oleh kafein dan kurang tidur. "Sidang Reza dipercepat," katanya tanpa basa-basi. "Aku punya kontak di pengadilan. Berkasnya naik lebih cepat dari jadwal awal. Mereka mau dia divonis sebelum akhir bulan." Jeda. "Kamu ngerti artinya?"
Anjani mengerti. Ia berdiri di bengkel dengan ponsel di telinga dan merasakan seluruh garis waktu yang sudah ia susun menyempit, menegang. Sudibyo mempercepat sidang Reza karena ia ingin pelaku resmi sudah dipenjara sebelum kota jatuh. Kalau Reza divonis sebagai dalang tunggal pencurian data dan sabotase, maka ketika blackout total datang di akhir bulan, hukum sudah punya jawabannya: kejahatannya sudah selesai bersama Reza, dan kolaps kota tinggal tampak sebagai akhir alami jaringan tua. Reza adalah batu nisan yang sedang mereka pahat untuk mengubur kebenaran sebelum kebenaran sempat lahir.
"Mereka jadiin dia satu-satunya pesakitan," kata Anjani. "Buat semua sabotase. Galih nggak disebut. Sudibyo nggak disebut. Cuma Reza."
"Cuma Reza," Lestari mengonfirmasi. "Anak itu masuk penjara, semua sabotase punya nama, kasus ditutup, dan dua hari kemudian kota gelap dan nggak ada yang nyambungin." Ada kemarahan yang ditahan di suaranya, kemarahan jurnalis yang sudah terlalu sering melihat cerita yang benar dikubur. "Aku nerbitin yang pertama pagi ini. Hati-hati, nggak nuduh langsung, cuma nanam pertanyaan. Kenapa gardu yang baru direnovasi sama kontraktor yang menang tender justru paling sering jatuh? Kenapa tanggal adendum kontrak beda dua hari sebelum gardu rusak? Pertanyaan yang nggak bisa mereka tuntut, tapi yang bikin orang mikir."
Anjani membuka ponselnya dan menemukan artikel itu di situs media lokal Lestari, sebuah outlet kecil yang dibaca cukup banyak orang Karangwetan. Judulnya tidak heboh, justru itu kekuatannya: sebuah pertanyaan, diajukan dengan tenang, didukung tanggal dan angka yang tidak bisa dibantah. Di kolom komentar, dalam beberapa jam, orang-orang mulai berdatangan, sebagian skeptis, sebagian marah, tapi banyak yang mengajukan pertanyaan lanjutan, mengingat blackout di blok mereka, mempertanyakan kenapa pabrik tempat mereka bekerja bisa bangkrut begitu cepat. Benih keraguan, sekali ditanam, mulai tumbuh sendiri.
Tapi artikel itu memotong dua arah. Sore harinya, Mawar mengirim pesan singkat lewat jalur yang mereka sepakati, hanya beberapa kata: "Mereka panik. Jadwal dimajuin. Hati-hati."
Anjani memanggil Bayu dan mereka membaca pesan itu bersama, dan keduanya tahu apa artinya. Artikel Lestari, yang dimaksudkan untuk menekan, juga memberi tahu Sudibyo bahwa ada kebocoran, bahwa seseorang menyusun pertanyaan dengan tanggal dan angka yang seharusnya rahasia. Seorang penjahat yang merasa dikejar bergerak lebih cepat, bukan lebih lambat. Sudibyo tidak akan mundur; ia akan mempercepat. Kalau ia tahu narasinya mulai retak, ia akan menjatuhkan kota lebih cepat, sebelum keraguan publik menjadi kepastian, sebelum Reza punya kesempatan didengar.
"Jadi sidang Reza dimajuin, dan malam-H mungkin juga dimajuin," kata Bayu, menatap kalender di dinding tempat tanggal akhir bulan dilingkari merah, tanggal yang tiba-tiba terasa tidak lagi pasti. "Dua tenggat yang dulu kepisah sekarang nempel jadi satu."
"Bukan dua tenggat," kata Anjani pelan, dan dalam suaranya ada kelelahan baru, kesadaran bahwa segala sesuatu yang ia kira ia punya waktu untuk siapkan kini menciut. "Satu. Nyelametin Reza dan ngehentiin blackout, dulu aku pikir itu dua perkara. Tahu sekarang? Itu satu. Karena satu-satunya cara nyelametin Reza adalah ngebuktiin sabotase yang sebenarnya di depan publik, dan satu-satunya cara ngebuktiin itu adalah nangkep blackout besar pas terjadi. Kalau kita gagal malam itu, kota jatuh dan Reza tetap masuk penjara buat semuanya. Kalau kita berhasil, kota selamat dan Reza bebas, sekaligus." Ia menatap adiknya. "Satu malam nentuin dua nyawa kota dan satu nyawa anak yang nggak salah apa-apa."
Bayu menelan ludah. "Dan kita bahkan nggak tahu lagi tanggalnya pasti kapan."
"Mawar akan kasih tahu kita," kata Anjani. "Dia di dalam. Dia akan lihat kalau jadwalnya digeser. Itu sebabnya dia berharga lebih dari semua bukti kertas yang kita punya." Ia berjalan ke kalender dan menatap lingkaran merah itu, lalu, dengan pensil, menggambar tanda tanya di sebelahnya. "Yang bisa kita lakuin sekarang cuma siap lebih cepat dari yang kita rencanain. Latihan ngalirin belum mateng. Jalur Mawar belum kelar. Tubuhku belum pulih dari malam aku hampir mati di lantai ini." Ia menarik napas. "Dan sekarang kita mungkin punya lebih sedikit hari dari yang kita kira."
Malam itu Anjani kembali ke bank aki, meski tubuhnya memohon istirahat, meski Bayu memohon ia berhenti. Karena di luar sana Reza menghitung mundur di sel, dan kota menghitung mundur tanpa tahu, dan jantungnya sendiri menghitung mundur dengan caranya yang pincang. Ia menyentuh terminal lagi, membuka kedua pintu dalam dirinya, dan membiarkan arus lewat ke tanah, sekali lagi, lebih tepat dari sebelumnya, karena setiap percobaan kini bukan latihan melainkan persiapan untuk malam yang bisa datang kapan saja.