Hampir saja semuanya runtuh karena sebuah lampu indikator yang menyala di waktu yang salah.
Mawar bekerja pada shift malamnya seperti biasa, dan seperti yang sudah ia dan Anjani rencanakan, ia menggunakan jam-jam sepi setelah tengah malam, ketika ruang kendali hanya diisi dirinya dan satu operator lain yang biasanya tertidur di kursi, untuk mulai menyiapkan jalur. Pekerjaannya halus dan sabar: di sela tugas rutinnya mencatat beban dan memantau gardu, ia membuka diam-diam konfigurasi pembumian di beberapa titik kunci yang Anjani butuhkan, mengubah pengaturan kecil yang tidak akan terlihat dalam laporan harian, menyiapkan jalur-jalur yang, pada malam-H, akan memberi arus jalan yang mudah ke tanah saat Anjani menjadi corongnya. Setiap perubahan kecil, satu per satu, malam demi malam, seperti menanam kabel di balik tembok tanpa membongkar temboknya.
Malam itu ia sedang membuka satu jalur pembumian di gardu pengunci, jalur yang paling penting, ketika layar di hadapannya menampilkan sesuatu yang tidak ia duga: sebuah peringatan otomatis, indikator kuning yang menyala, memberi tahu bahwa ada perubahan konfigurasi yang tidak terjadwal pada titik proteksi. Sistem mencatat tindakannya, dan lebih buruk, sistem menandainya sebagai anomali. Beberapa detik kemudian, telepon di meja supervisor berdering, dan supervisor shift, seorang lelaki muda yang biasanya acuh tapi malam ini kebetulan terjaga, mengangkatnya, mengernyit, lalu berdiri dan berjalan ke arah panel pusat untuk memeriksa.
Jantung Mawar menghentak. Selama belasan tahun ia duduk di kursi itu tanpa pernah membuat kesalahan yang dicatat sistem, dan sekarang, dalam satu malam, log telah menandainya melakukan perubahan yang tidak ia laporkan. Ia tidak pernah menyangka pengawasan SCADA telah diperketat sejauh ini, bahwa setiap sentuhan pada titik proteksi kini memicu peringatan otomatis. Reza pernah memberitahunya bahwa sistem mereka penuh lubang; tapi sejak Reza ditahan, seseorang, mungkin Galih, mungkin orang Bina Daya, telah memasang mata baru, jaring yang lebih rapat.
Ia punya beberapa detik. Supervisor sedang menyeberangi ruangan menuju panel yang akan menunjukkan persis apa yang ia ubah dan kapan. Mawar tidak punya waktu untuk panik. Selama belasan tahun di kursi itu telah mengajarinya satu hal yang tidak diajarkan pelatihan mana pun: cara bertahan dalam birokrasi yang memburu kesalahan. Ia tidak menghapus perubahannya, karena penghapusan juga tercatat dan lebih mencurigakan. Sebaliknya, dengan tangan yang dijaganya tenang, ia melakukan apa yang akan dilakukan operator berpengalaman yang sah: ia membuka tiket pemeliharaan rutin, mengetik catatan singkat dan masuk akal, bahwa ia mendeteksi ketidakstabilan minor pada titik proteksi gardu pengunci dan melakukan penyesuaian pencegahan, sesuatu yang berada dalam wewenang operator senior, sesuatu yang membosankan dan teknis dan sah, sesuatu yang menjelaskan persis perubahan yang dicatat sistem, tapi dengan alasan yang tidak akan dipertanyakan.
Supervisor sampai di panel, membaca peringatan kuning, lalu membaca tiket yang baru saja Mawar buat, dan Mawar menahan napas sambil pura-pura sibuk dengan layarnya. Lelaki muda itu menatap layar beberapa saat, lalu menoleh.
"Bu Mawar, ini penyesuaian proteksi di gardu pengunci?"
"Iya, Mas," kata Mawar, suaranya datar dan lelah seperti operator yang sudah belasan tahun mengurus hal-hal kecil yang tidak menarik bagi siapa pun. "Tadi sempat fluktuasi. Saya rapiin biar nggak alarm terus semalaman. Udah saya catat di tiket. Besok pagi tinggal diverifikasi tim siang."
Supervisor menatapnya, lalu menatap tiket, lalu, karena tidak ada yang lebih membosankan daripada penyesuaian proteksi rutin yang sudah didokumentasikan, ia mengangkat bahu dan kembali ke kursinya, sudah lupa pada hal itu sebelum ia duduk. Krisis lewat. Tapi Mawar duduk di kursinya dengan keringat dingin di punggung, dan tangannya, ketika ia mengangkat gelas kopinya, sedikit gemetar.
Ia mengirim pesan ke Anjani begitu shiftnya selesai dan ia berada di tempat yang aman, dan kata-katanya membuat Anjani membaca berulang kali sampai beratnya benar-benar masuk. Sistem mencatat tiap sentuhan di titik proteksi sekarang. Peringatan otomatis. Hampir ketahuan tadi malam. Pengawasan jauh lebih ketat dari yang kita kira.
Anjani memanggil Bayu, dan mereka membentangkan kembali seluruh rencana di lantai bengkel, dan untuk pertama kalinya mereka melihat retakan fatal di dalamnya. Seluruh strategi mereka bertumpu pada Mawar yang menyiapkan jalur dari dalam pada malam-H, membuka pembumian saat dibutuhkan, mengarahkan beban. Tapi jika setiap sentuhan Mawar pada titik proteksi memicu peringatan otomatis, maka pada malam-H, ketika ia harus membuka banyak jalur sekaligus dalam waktu singkat, ruangan itu akan dibanjiri alarm, dan supervisor, atau lebih buruk, orang Sudibyo yang mengawasi, akan tahu persis apa yang sedang terjadi sebelum Anjani bahkan sampai di gardu. Rencana yang mereka susun berbulan-bulan, yang nyaris membunuh Anjani untuk dilatih, baru saja terbukti penuh lubang.
"Margin kita nyaris nol sekarang," kata Bayu, menatap peta dengan wajah pucat. "Tiap gerakan Mawar bakal kelihatan. Kita nggak bisa lagi ngandelin dia diam-diam buka jalur satu-satu pas malamnya. Ketahuan sebelum kita mulai."
Anjani tidak menjawab segera. Ia menatap peta, menatap titik gardu pengunci, menatap jalur-jalur yang sudah Mawar tanam dan jalur-jalur yang belum, dan ia merasakan beratnya: rencana yang mereka kira matang ternyata harus dirombak total, dengan hari yang mungkin tinggal sedikit, dengan tubuh yang belum pulih, dengan lawan yang tahu identitasnya dan tahu di mana ibunya tinggal.
"Kalau Mawar nggak bisa buka jalur pas malamnya tanpa ketahuan," kata Anjani pelan, pikirannya sudah bergerak, sudah membaca ulang seluruh jaringan seperti ia membaca mesin rusak, "maka dia harus buka semuanya sebelum malam itu. Pelan-pelan, satu-satu, disamarin jadi pemeliharaan rutin kayak yang dia lakuin tadi malam, sampai pas malam-H semua jalur udah kebuka dan dia nggak perlu nyentuh apa-apa lagi. Dia cuma perlu duduk dan nggak ngapa-ngapain." Ia menatap Bayu. "Itu artinya kita nggak bisa nunggu sampai malam buat siapin. Kita harus mulai sekarang. Dan itu juga artinya begitu jalur kebuka, kalau Sudibyo majuin tanggalnya, kita harus siap kapan pun."
Ia berdiri, menatap kalender dengan tanda tanya di sebelah lingkaran merah, dan untuk pertama kalinya ia merasakan bahwa hitungan mundur yang ia umumkan di ruangan ini berminggu lalu kini bukan lagi miliknya untuk dikendalikan. Margin kesalahan mereka telah menyusut menjadi nyaris tidak ada. Satu peringatan kuning di layar yang salah, satu supervisor yang kebetulan terjaga, dan seluruhnya runtuh. Tapi Mawar telah lolos malam ini, dengan kecerdasan belasan tahun di kursi yang tidak diinginkan siapa pun, dan dalam keloloson tipis itu, Anjani menemukan sesuatu untuk dipegang. Mereka belum kalah. Mereka hanya harus menjadi lebih tepat daripada yang pernah mereka kira mungkin, dan mereka harus mulai sekarang juga.