Mereka membongkar seluruh rencana sampai ke tulang, seperti membongkar mesin yang sudah dirakit setengah jalan lalu ketahuan ada satu komponen yang dipasang terbalik. Tidak ada cara membenahinya selain melepas semuanya dan memulai dari nol.
Lantai bengkel menjadi medan kerja sepanjang tiga hari. Anjani memindahkan dua sepeda motor rusak yang sudah berbulan-bulan menggantung di lift hidrolik, menyapu serbuk besi yang menumpuk di sudut, lalu menempelkan peta jaringan Karangwetan yang lebih besar dari sebelumnya di seluruh dinding utara, ditambal dari potongan kertas kalkir yang ia minta Bayu cetak ulang dari data Reza. Di peta itu setiap gardu adalah satu titik, setiap penyulang satu garis, dan untuk pertama kalinya sejak ini bermula, ia tidak menatapnya sebagai daftar tempat yang harus ia selamatkan. Ia menatapnya sebagai satu tubuh. Satu jaringan urat yang harus ia baca, persis seperti ayahnya dulu membaca gulungan dinamo dengan jari telunjuk menyusuri lilitan tembaga, mencari satu titik di mana isolasinya menipis.
“Kita ulang dari awal,” katanya. “Anggap aja semua yang kita rencanain bulan lalu itu salah. Karena emang salah.”
Bayu duduk bersila di lantai dengan laptop di pangkuan, kantung di bawah matanya tebal. “Semuanya?”
“Asumsinya yang salah. Kita pikir Mawar bisa kerja diam-diam pas malamnya. Sekarang nggak bisa. Jadi tiap angka yang kita hitung di atas asumsi itu, batal.” Anjani mengambil spidol merah dan mulai mencoret jadwal lama yang masih menempel di papan kecil di samping peta. Garis demi garis, ia menghapus rencana yang nyaris membunuhnya untuk dilatih. “Kita mulai dari pertanyaan paling dasar. Kalau Sudibyo mau matiin seluruh kota dalam satu malam, dia harus jatuhin gardu-gardu ini dalam urutan yang bener, supaya bebannya numpuk dan nyapu sendiri. Kaskade. Itu inti rencananya. Pertanyaannya: dari mana kaskade itu mulai, dan di titik mana dia paling rapuh.”
Mawar datang malam itu, sesudah shiftnya, masih dengan tanda lelah dari ruang kendali yang kini terasa seperti kandang penuh mata. Ia membawa sesuatu yang lebih berharga daripada akses: ingatan belasan tahun tentang bagaimana jaringan ini sebenarnya bekerja, bukan bagaimana ia digambar di diagram resmi. Ia menunjuk satu titik di peta, jauh di sisi barat, di mana penyulang-penyulang utama saling silang sebelum menyebar ke seluruh kota.
“Kalau aku yang mau matiin Karangwetan,” kata Mawar pelan, jarinya berhenti di satu kotak yang dilingkari biru pudar, “aku nggak akan repot nyerang dua puluh gardu. Aku cuma perlu satu. Yang ini.”
Anjani mendekat, dan ketika ia membaca label di kotak itu, sesuatu dingin merayap naik dari ulu hatinya. Ia kenal kotak itu. Ia kenal terlalu baik. Gardu induk pusat. Tempat ia bertugas malam pertama. Tempat busur putih itu merebus jam tangannya dan mengubah seluruh hidupnya. Tempat ia hampir mati dengan tangan terkunci di terminal, melihat wajah Pak Hadi di ruang kontrol untuk pertama kalinya.
Ia tidak mengatakan apa pun selama beberapa saat. Bayu menatapnya, lalu menatap peta, lalu menyadari apa yang dilihat kakaknya, dan ia juga terdiam.
“Kenapa di situ,” kata Anjani akhirnya, suaranya tertahan. Bukan pertanyaan. Lebih seperti memaksa dirinya menerima jawaban yang sudah ia tahu.
“Karena di situ semua arus dari kota lewat,” kata Mawar. “Gardu-gardu lain cuma cabang. Tapi gardu induk pusat itu pangkalnya. Dia yang ngatur pembagian beban ke seluruh penyulang utama. Selama dia berdiri, kaskade dari mana pun bisa ditahan, dialihkan, dipecah. Tapi kalau dia jatuh, nggak ada lagi yang ngatur. Beban seluruh kota numpuk tanpa rem, dan semuanya runtuh berurutan dalam hitungan menit. Sudibyo nggak akan ngandelin kebetulan. Dia bakal pastiin gardu induk pusat lah yang dijatuhin paling akhir, sebagai pemicu utama. Dan untuk nahan kota, Anjani, kamu harus ada di situ. Bukan di mana-mana lagi. Di situ.”
Anjani menarik kursi besi tua dan duduk, menatap kotak biru itu, dan tertawa kecil tanpa ada yang lucu di dalamnya. Ironi itu terlalu rapi untuk dipercaya. Seluruh kota ini punya ratusan gardu, dan dari semuanya, tempat ia harus berdiri di malam terakhir adalah tempat yang sama yang melahirkannya, yang membakarnya, yang membuat ia takut pada tangannya sendiri sejak hari pertama. Lingkaran itu menutup dengan sendirinya, dan ia tidak punya andil sama sekali dalam memilihkannya.
“Aku selalu mikir aku lari dari malam itu,” katanya pelan, lebih ke dirinya sendiri daripada ke dua orang di ruangan. “Ternyata aku cuma muter. Balik ke titik yang sama.”
“Mbak,” kata Bayu hati-hati, “gardu induk pusat itu yang paling dijaga di seluruh kota. Kamera di mana-mana. Penjaga. Akses kartu. Dan habis kejadian sama Reza, pengawasannya diperketat lagi. Itu bukan gardu kosong di pinggir kali. Masuk ke situ aja udah hampir mustahil. Apalagi berdiri di situ berjam-jam pas malam paling kacau dalam sejarah kota.”
“Aku tahu.”
“Terus gimana?”
Anjani tidak menjawab langsung. Ia bangkit, mengambil spidol, dan di papan kosong yang baru saja ia bersihkan, ia mulai menulis ulang. Bukan jadwal. Bukan daftar gardu. Ia menulis tiga hal saja, dalam huruf besar, satu di bawah lainnya. Posisi setiap orang. Urutan pembumian. Titik yang harus ditahan. Lalu ia menggambar tubuh manusia kecil, garis sederhana seperti coretan anak-anak, tepat di atas kotak biru gardu induk pusat di peta.
“Kita berhenti mikir gimana caranya aku nggak ke sana,” katanya. “Karena ke sana itu udah pasti. Itu bukan pilihan lagi. Yang harus kita hitung sekarang adalah gimana caranya aku bisa di sana, bertahan di sana, sampai kota selamat—terus keluar hidup-hidup. Tiga hal itu aja. Semua hitungan lain nurutin tiga itu.”
Mereka bekerja sampai dini hari. Mawar menggambar dari ingatan jalur-jalur pembumian yang sudah ia tanam dan yang masih harus ia buka. Bayu menghitung ulang kapasitas, ritme pelepasan, berapa lama jantung Anjani bisa bertahan jika ia menjadi corong selama gelombang demi gelombang beban. Anjani sendiri membaca peta seperti membaca mesin rusak, menyusuri tiap penyulang dengan jari, mencari celah, mencari urutan, mencari satu rute pulang yang masih tersisa.
Ketika langit di luar mulai kelabu dan kokok ayam pertama terdengar dari gang sebelah, papan itu sudah penuh kembali. Tapi kali ini Anjani tidak menatapnya dengan rasa takut. Ia menatapnya dengan ketenangan aneh seorang pekerja yang sudah menerima bahwa pekerjaan terberat dalam hidupnya akan dilakukan di tempat yang paling ia hindari, dan tak ada gunanya lagi menawar. Ia akan kembali ke gardu induk pusat. Ke ruang yang sama. Ke terminal yang sama. Dan kali ini ia datang bukan sebagai teknisi yang tak tahu apa-apa, melainkan sebagai sesuatu yang malam itu lahirkan tanpa sengaja.
“Balik ke awal,” gumamnya, mematikan lampu kerja satu per satu. “Ya udah. Balik ke awal.”