Surat itu ditemukan bukan karena dicari, melainkan karena Bayu kehilangan obeng.
Ia sedang membongkar laci alat tua di sudut bengkel, mencari obeng plus yang ukurannya pas untuk membuka casing laptop yang panel selnya mulai kembung, ketika tangannya menjangkau ke bagian belakang laci paling bawah dan menyentuh sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana. Sebuah amplop cokelat, terlipat dua, terselip rapat di celah antara dasar laci dan dinding kayu di belakangnya, di tempat yang hanya akan ditemukan orang yang membongkar laci sampai ke pangkalnya. Debu menebal di atasnya. Sudah lama.
“Mbak,” panggil Bayu, dan ada sesuatu dalam suaranya yang membuat Anjani langsung berhenti dari pekerjaannya. “Ini… ini bukan punya kita.”
Di muka amplop itu, dengan tinta bolpoin yang sudah memudar, tertulis satu kata dalam huruf yang dikenal Anjani lebih baik daripada tulisan tangannya sendiri. Tulisan yang dulu menandai gambar skema di buku catatan kerjanya, yang dulu menulis angka-angka beban di lembar laporan malam, yang dulu menggariskan tanda panah di diagram rele sambil mengajarinya membaca proteksi. Tulisan Pak Hadi. Dan kata yang ditulisnya hanya satu: Anjani.
Tangannya gemetar ketika menerimanya. Ia tahu kapan Pak Hadi terakhir kali berada di bengkel ini—beberapa minggu sebelum ia mati, ketika ia datang berpura-pura meminjam alat, duduk lama, bicara sedikit, dan pergi dengan mata yang tak berani menatap. Anjani saat itu sibuk dengan kemarahannya dan tidak memperhatikan. Ia tidak pernah menyadari mentornya menyelipkan sesuatu ke dalam laci yang paling jarang dibuka, di tempat yang ia tahu hanya akan ditemukan jika dirinya sendiri sudah tiada.
Ia membuka amplop itu pelan-pelan, takut merobeknya. Di dalamnya beberapa lembar kertas, ditulis tangan, padat dan rapat, dengan tulisan yang makin lama makin miring seolah ditulis dalam keadaan tergesa atau gemetar.
Nak Anjani, begitu surat itu dimulai, dan tenggorokan Anjani langsung tercekat. Kalau kamu baca ini, berarti aku sudah nggak ada. Dan kalau aku sudah nggak ada, berarti aku benar tentang mereka, bahwa orang yang sudah dipakai itu akhirnya dibuang. Aku nggak nulis ini buat minta maaf. Maafku nggak ada gunanya buat kota yang sudah aku rusak. Aku nulis ini buat satu hal saja: supaya kerusakan yang aku bantu bikin itu nggak sampai selesai.
Anjani membaca dengan suara yang akhirnya pecah, membacakannya keras-keras untuk Bayu, kata demi kata, karena ia tak sanggup menanggungnya sendirian. Pak Hadi menulis semuanya. Bagaimana utang rumah sakit istrinya menumpuk sampai ia tak bisa tidur. Bagaimana seseorang dari atas—ia menyebut nama Sudibyo dengan jelas, hitam di atas putih—mendatanginya dengan tawaran yang terdengar seperti pertolongan dan ternyata jerat. Bagaimana ia mulai dengan satu rele yang diakali, dan satu rele menjadi sepuluh, dan sepuluh menjadi sesuatu yang tak bisa lagi ia hentikan tanpa menyeret dirinya dan keluarganya ke jurang. Ia menulis tentang rasa muak pada dirinya sendiri setiap kali ia menyentuh panel yang ia sumpah seumur hidup untuk menjaga.
Tapi bukan pengakuan itu yang membuat Anjani berhenti, menahan napas, dan membaca ulang satu paragraf tiga kali.
Ada satu hal yang mereka nggak tahu aku tahu, tulis Pak Hadi. Aku dengar Sudibyo dan Galih ngobrol pas mereka pikir aku cuma tukang yang nggak ngerti rencana besar. Mereka pikir aku cuma tangan. Tangan nggak punya telinga, katanya. Tapi tangan ini sudah tiga puluh tahun di jaringan ini, dan tangan ini ngerti sesuatu yang Sudibyo si orang kantor nggak akan pernah ngerti.
Bayu mendekat, dan keduanya membungkuk di atas lembar kertas itu, di bawah cahaya satu lampu kerja, seolah kalimat-kalimat itu bisa menguap kalau mereka berkedip.
Seluruh rencana mereka itu rapuh di satu titik, dan mereka nggak sadar serapuh apa, karena mereka mikirnya kayak orang kantor: makin banyak gardu dijatuhin, makin pasti kotanya mati. Mereka salah. Aku yang pasang relenya, aku yang tahu. Kaskade sebesar yang mereka mau itu cuma jalan kalau ada satu titik yang ngunci urutannya. Tanpa titik itu, gardu boleh jatuh selusin, tapi kotanya nggak akan mati total. Cuma blackout sebagian. Berantakan, iya. Tapi nggak kiamat. Dan kiamat itu yang mereka butuh buat cairin proyeknya.
Anjani mengangkat wajahnya, dan matanya bertemu mata Bayu, dan keduanya tahu mereka sedang memegang sesuatu yang lebih berharga daripada seluruh tumpukan dokumen di dinding bengkel. Pak Hadi, yang telah mengkhianatinya, yang telah meledakkan gardu-gardu kota, yang telah membuat Anjani membenci nama yang dulu ia hormati, sedang menyerahkan kepadanya, dari balik kubur, senjata yang tak ia duga akan pernah ia miliki.
Aku nggak nyebut titik itu di surat ini, lanjut Pak Hadi, dan jantung Anjani sempat jatuh, karena kalau surat ini ketemu orang yang salah, aku justru bantu mereka. Tapi kamu teknisi, Nak. Kamu anak Pak Laras. Kamu baca jaringan kayak bapakmu baca dinamo. Aku percaya kamu bisa nemuin titik itu sendiri, karena cuma orang yang ngerti jaringan dari dalam yang bisa lihatnya. Cari titik di mana semua arus ngumpul sebelum nyebar. Cari pangkalnya, bukan cabangnya. Di situ. Selama titik itu berdiri, kota nggak akan mati. Jagain itu, dan seluruh rencana mereka jadi sia-sia.
Surat itu ditutup dengan satu baris yang membuat Anjani harus meletakkan kertasnya sebentar dan menutup mata.
Maaf aku nggak cukup berani buat berdiri di samping kamu pas masih hidup. Mungkin ini sedikit penebusan dari pengecut yang sudah merusak terlalu banyak. Tolong jangan biarkan kota ini mati, Nak. Itu satu-satunya yang masih bisa aku minta.
Untuk beberapa saat tak ada yang bicara. Di luar, anjing menggonggong sekali lalu diam. Anjani memegang kertas itu di pangkuannya, dan ia menangis tanpa suara, bukan karena sedih semata, melainkan karena beratnya hal yang baru saja ia terima. Mentornya yang cacat, yang lemah, yang dibeli oleh keputusasaan, telah meninggalkan baginya bukan permintaan maaf yang murah, melainkan kunci. Pengkhianat itu, di akhir hidupnya, memilih untuk menjadi sekutu.
“Dia tahu,” bisik Anjani akhirnya, menyeka pipinya dengan punggung tangan yang penuh noda oli. “Dia tahu titiknya. Dan dia percaya aku bisa nemuin sendiri.” Ia menatap peta di dinding, ke kotak biru di sisi barat yang telah ia lingkari malam-malam sebelumnya. “Dan aku udah nemuin, Pak. Aku udah tahu di mana.”
Ia melipat surat itu kembali, hati-hati, dan menyimpannya bukan di laci, melainkan di saku dadanya, dekat jantung yang akan ia pertaruhkan. Pak Hadi telah memberinya alasan kedua untuk berdiri di gardu induk pusat. Bukan hanya karena di sanalah ia harus menahan kota. Melainkan karena di sanalah seorang pengecut yang menyesal akhirnya menebus dosanya, dan Anjani berhutang padanya untuk tidak membiarkan penebusan itu sia-sia.