Surat Pak Hadi mengubah segalanya, tapi bukan dengan memberi mereka jalan yang lebih mudah. Ia justru memperjelas betapa sempitnya jalan yang tersisa.
Selama tiga malam berikutnya Anjani memverifikasi sendiri apa yang ditulis mentornya, karena ia tidak pernah lagi percaya pada satu sumber saja, bahkan dari orang mati. Ia dan Mawar duduk berjam-jam di bengkel, membentangkan diagram penyulang, menelusuri tiap jalur beban, mensimulasikan di atas kertas apa yang akan terjadi jika gardu ini jatuh, lalu yang itu, lalu yang berikutnya. Mawar menghitung dengan otak belasan tahun di ruang kendali; Anjani membaca dengan jari seorang teknisi yang membaca jaringan seperti darah daging. Dan setiap kali simulasi mereka berakhir di tempat yang sama. Pak Hadi benar.
“Lihat,” kata Mawar, menunjuk garis-garis yang menyebar dari kotak biru gardu induk pusat. “Kalau gardu pengunci ini—” ia memakai istilah yang sudah mereka sepakati untuk menyebut gardu induk pusat, karena memang itu fungsinya, mengunci urutan, “—kalau dia jatuh dulu atau pas bersamaan dengan kaskade, seluruh kota gelap. Tapi kalau dia bertahan, walaupun semua cabang di sekelilingnya rontok, dia akan terus ngebagi beban yang tersisa, mecah aliran, ngerem keruntuhan. Yang mati cuma blok-blok yang penyulangnya udah putus. Bukan kota. Dan blackout sebagian itu—”
“—bisa diperbaiki dalam beberapa jam,” sambung Anjani. “Malu buat perusahaan, tapi nggak kiamat. Dan Sudibyo butuh kiamat. Dia butuh kota yang mati total, yang nakutin sampai ke tingkat provinsi, yang bikin orang teriak peremajaan darurat tanpa mikir harganya. Blackout sebagian nggak ngasih dia itu. Cuma blackout total.”
Untuk pertama kalinya sejak ia menghitung skala blackout dan menyadari tubuhnya terlalu kecil untuk menahannya, Anjani merasakan sesuatu yang nyaris menyerupai harapan. Ia tidak perlu menahan seluruh kota. Ia tidak perlu menjadi raksasa yang menyerap arus dari ratusan gardu. Ia hanya perlu menjaga satu titik tetap hidup. Satu gardu. Selama gardu pengunci itu berdiri, seluruh rencana Sudibyo runtuh menjadi kekacauan biasa yang bisa dibereskan dengan sapu dan kunci pas.
Tapi harapan itu hanya bertahan sampai mereka menatap apa artinya itu dalam praktiknya.
“Masalahnya,” kata Bayu, dan ia memutar laptopnya untuk menunjukkan denah gardu induk pusat yang ia susun dari ingatan Anjani dan data Reza, “gardu pengunci ini bukan gardu paling sembarangan. Dia gardu paling penting di kota. Yang artinya dia juga gardu paling dijaga dan paling berbahaya di kota. Tegangannya paling tinggi. Bebannya paling besar. Dan habis kejadian Reza, Sudibyo pasti naruh perhatian khusus di sini, karena dia juga ngerti gardu ini titik kuncinya. Dia nggak akan biarin gardu ini gampang dimasukin.”
Anjani menatap denah itu dan merasakan beratnya kembali. Bayu benar. Kelemahan dalam rencana Sudibyo terletak persis di tempat yang paling sulit dijangkau. Itu bukan kebetulan. Itu logika. Justru karena gardu pengunci begitu vital, Sudibyo telah membungkusnya dengan lapisan pengamanan paling tebal. Kartu akses ganda. Kamera di setiap sudut. Penjaga yang bukan satpam mengantuk seperti di gardu pinggir kali, melainkan tim keamanan internal yang sudah waspada sejak kebocoran data. Dan di malam-H, ketika seluruh kota mulai jatuh, gardu itu akan menjadi tempat paling kacau, paling panas, paling penuh tegangan mematikan di seluruh Karangwetan.
“Jadi kita tahu di mana aku harus berdiri,” kata Anjani pelan, “dan kita tahu itu tempat yang paling mustahil buat dimasukin dan paling gampang buat matiin orang.”
“Iya,” kata Bayu, tanpa berusaha melembutkannya. Ia sudah belajar bahwa kakaknya lebih percaya kebenaran pahit daripada hiburan kosong.
Mawar menatap keduanya, lalu berkata sesuatu yang menggeser seluruh percakapan. “Tapi aku kerja di sana.”
Mereka berpaling padanya.
“Ruang kendali SCADA itu sebelahan sama gardu induk pusat. Satu kompleks. Operator masuk tiap hari. Aku punya kartu, aku punya alasan buat ada di sana, dan di malam-H aku memang dijadwalkan shift—aku udah pastiin itu, aku tukeran sama operator lain berminggu-minggu lalu, samar, biasa aja, nggak ada yang curiga.” Mawar menarik napas. “Aku nggak bisa masukin Anjani lewat pintu depan. Tapi aku tahu kompleks itu kayak rumah sendiri. Aku tahu jalur pemeliharaan, terowongan kabel, pintu darurat yang kameranya udah lama mati dan nggak ada yang benerin karena nggak ada anggaran. Aku tahu jam-jam pergantian penjaga. Kalau ada satu orang di seluruh Karangwetan yang bisa nyusun jalan buat Anjani masuk ke gardu pengunci tanpa lewat pintu depan, itu aku.”
Anjani menatap perempuan paruh baya itu, operator yang dulu hanya muak dengan data palsu dan sekarang berdiri di pusat segalanya, dan ia merasakan sesuatu yang hangat dan getir sekaligus. Begitu banyak orang biasa yang menanggung beban ini. Pak Hadi yang menebus dari kubur. Bayu yang menggadaikan masa mudanya untuk angka-angka. Mawar yang mempertaruhkan pekerjaan dan keselamatan dua anaknya demi sesuatu yang lebih besar dari mereka semua.
“Terowongan kabel,” ulang Anjani, dan ia bangkit menghampiri peta, otaknya sudah bergerak, sudah menyusuri rute. “Kalau aku bisa masuk lewat bawah, lewat terowongan kabel ke ruang gardu, aku bisa langsung ke rangka pembumian utama tanpa lewat ruang kontrol sama sekali. Aku nggak perlu sentuh panel atas. Aku cuma perlu ke titik di mana aku bisa nyalurin.” Ia menoleh ke Mawar. “Kamu bisa gambar terowongannya? Persis? Tiap belokan, tiap pintu, tiap titik di mana aku bisa nyentuh pembumian?”
“Aku bisa gambar sambil merem,” kata Mawar.
Malam itu mereka tidak tidur. Mawar menggambar terowongan kabel dari ingatan, lorong demi lorong, dan Anjani menempelkannya di samping peta besar, dan untuk pertama kalinya kelemahan dalam rencana Sudibyo dan kelemahan dalam rencana mereka sendiri saling bertemu dan, di satu titik kecil, saling membatalkan. Mereka tahu di mana harus berdiri. Mereka tahu apa yang harus dipertahankan. Mereka bahkan mulai tahu bagaimana sampai ke sana.
Yang belum mereka tahu adalah seberapa cepat Sudibyo akan menutup celah itu begitu ia menyadari ada celah sama sekali. Dan satu hal lagi yang menghantui Anjani saat ia menatap denah gardu yang akan menampung nyawanya: gardu pengunci masih dijaga oleh tangan baru yang dingin, yang tahu wajahnya, yang menunggu di antara mereka dan malam terakhir. Galih harus disingkirkan dari papan, dan Anjani tahu ia tidak bisa menunggu sampai malam-H untuk melakukannya.