Anjani memutuskan ia tak akan membiarkan Galih hadir di malam-H. Seorang teknisi sedingin itu, di gardu yang sudah cukup mematikan tanpa tambahan apa pun, adalah variabel yang tak boleh ia tanggung. Galih harus dilumpuhkan beberapa malam sebelumnya, di tempat dan waktu yang Anjani pilih sendiri, bukan yang dipilihkan Sudibyo.
Masalahnya, Galih tidak bisa dipancing dengan cara biasa. Ia bukan Pak Hadi yang digerakkan rasa bersalah dan bisa diraih lewat hati nurani. Galih digerakkan oleh perhitungan dingin dan upah. Untuk memancingnya, Anjani harus berpikir seperti dia: apa yang akan membuat seorang profesional yang cermat keluar dari sarangnya. Jawabannya bukan emosi. Jawabannya pekerjaan yang belum selesai.
“Dia tahu aku selalu datang waktu ada yang disabotase,” kata Anjani pada Bayu, membentangkan rencana di lantai. “Selama ini dia manfaatin itu buat nguras aku. Sekarang aku balik. Aku kasih dia satu gardu yang kelihatan kayak target sempurna buat dia, di tempat yang aku kontrol penuh, dan aku pastiin dia denger kalau aku bakal jauh dari situ malam itu. Dia bakal mikir gardu itu kosong dari aku. Dia bakal datang sendiri, tenang, ngerasa aman.”
Gardu yang ia pilih adalah gardu kecil di tepi koridor industri, tua, sepi, jauh dari permukiman, dengan satu jalur masuk dan satu jalur keluar. Selama tiga hari Anjani mempelajarinya seperti ia dulu mempelajari batas tubuhnya: setiap rele, setiap panel, setiap titik di mana arus mengalir. Lalu ia melakukan sesuatu yang hanya bisa dilakukan oleh seseorang yang membaca jaringan lebih baik daripada lawannya. Ia tidak memasang jebakan kasar. Ia tidak menggali lubang atau merentang kawat. Ia mengakali rele proteksi gardu itu sendiri—membaliknya, mengaturnya untuk bertindak berlawanan dari yang akan diharapkan teknisi mana pun yang menyentuhnya.
“Galih bakal datang dan baca relenya kayak teknisi biasa,” jelas Anjani. “Dia bakal liat setelan yang kelihatan normal di permukaan. Dia bakal lakuin apa yang selalu dia lakuin buat jatuhin gardu: ngakalin proteksinya supaya beban liar bikin trafonya jebol. Tapi rele itu udah aku puter logikanya. Pas dia pikir dia matiin proteksi, dia justru ngunci dirinya sendiri di dalam sirkuit. Gardu itu bakal nge-lock, isolasi semua, dan dia bakal terkurung di dalam ruang yang dia kira udah dia kuasain. Bukan kekuatan. Bukan adu pukul. Cuma rele yang dia sentuh sendiri.”
Mawar menyebarkan umpan dari dalam: sebuah catatan pemeliharaan yang terlihat resmi, menandai gardu tepi koridor itu sebagai “terjadwal perbaikan,” yang dalam bahasa kode rencana Sudibyo berarti tersedia untuk dijatuhkan. Lalu, lewat saluran yang ia tahu akan sampai ke telinga Galih, tersebar kabar bahwa Hantu Gardu sedang diawasi ketat di sisi lain kota malam itu, jauh dari koridor. Semua tampak sempurna. Sebuah gardu rapuh, kosong dari pelindungnya, matang untuk dipetik.
Galih datang persis seperti yang diperhitungkan Anjani, dini hari, tenang, dengan tas alat dan langkah seseorang yang sudah melakukan ini puluhan kali. Anjani mengamati dari balik tembok pos jaga yang sudah lama tak berpenghuni, jantungnya berdetak terlalu cepat, mengingatkannya bahwa tubuhnya bukan tubuh yang dulu. Ia tidak bergerak. Ia menunggu. Inilah perbedaannya dari Galih: kesabaran seorang teknisi yang tahu bahwa membaca selalu lebih kuat daripada bertindak terburu.
Galih membuka panel. Ia memeriksa rele dengan senter kecil, mengangguk pada dirinya sendiri seperti seseorang yang menemukan apa yang ia harapkan, dan mulai bekerja. Tangannya terampil, dingin, tanpa keraguan yang dulu menggetarkan tangan Pak Hadi. Ia menyentuh setelan, memutarnya, melakukan apa yang selalu ia lakukan untuk membunuh sebuah gardu.
Dan gardu itu menutup di sekelilingnya.
Rele yang sudah Anjani balik logikanya bekerja persis seperti yang ia rancang. Alih-alih melumpuhkan proteksi, sentuhan Galih memicu penguncian penuh. Pemutus daya menjepret tertutup. Pintu isolasi otomatis—yang dipasang puluhan tahun lalu untuk keselamatan dan tak pernah dipakai—mengatup dengan dentang logam yang menggema di ruang sempit itu. Galih, untuk pertama kalinya sejak Anjani mengenalnya, terkejut. Senternya berputar mencari jalan keluar yang sudah tertutup.
Anjani keluar dari balik tembok dan berjalan masuk ke dalam cahaya temaram gardu, tenang, tangannya di saku jaket. Ia tidak membutuhkan kekuatannya sama sekali. Itulah kemenangan yang paling memuaskannya.
“Rele itu udah aku puter tiga hari lalu,” katanya. “Kamu baca gardu kayak orang yang ngerti jaringan. Tapi kamu nggak ngerti gardu ini. Aku yang nyetel ulang dia. Jadi pas kamu pikir kamu lagi matiin proteksi, kamu sebenernya lagi ngunci diri sendiri.”
Galih menatapnya, dan di wajah dinginnya untuk sesaat ada sesuatu yang menyerupai penghormatan masam, pengakuan seorang profesional pada profesional lain yang baru saja mengalahkannya di lapangannya sendiri. Ia tidak panik. Ia tidak memohon. Ia hanya duduk di atas kotak alatnya dan menatap perempuan yang telah memerangkapnya.
“Pintar,” katanya akhirnya. “Aku akui. Kamu emang lebih bagus baca jaringan daripada aku.” Ia diam sejenak. “Tapi kamu pikir nangkep aku itu menang? Aku cuma tangan, sama kayak si tua itu. Kamu putus satu tangan, Sudibyo tumbuhin yang lain.”
“Kamu nggak ada lagi di papan,” kata Anjani. “Itu udah cukup.”
Galih tertawa pendek, tanpa kehangatan. “Kamu nggak ngerti. Kamu pikir malam-H itu soal tangan-tangan kayak aku yang datang ke gardu malam-malam? Itu cara lama. Itu cara si tua. Sudibyo udah lewat dari situ.” Ia menatap Anjani lurus, dan untuk pertama kalinya Anjani merasakan tanah bergeser di bawahnya. “Kamu boleh kurung aku di sini sampai pagi. Kamu boleh kurung sepuluh orang kayak aku. Nggak ngaruh. Malam itu nggak butuh siapa-siapa di gardu. Semuanya udah ditanam. Tinggal jalan sendiri.”
Anjani berdiri diam, dan dingin yang merayap naik kali ini bukan dari gardu yang sepi. Ia datang malam ini untuk memutus tangan terakhir Sudibyo, dan ia berhasil. Tapi Galih, terkurung dan kalah, baru saja membuka pintu ke sesuatu yang jauh lebih menakutkan daripada teknisi mana pun: gagasan bahwa malam terakhir tak lagi membutuhkan tangan sama sekali.