“Apa maksudnya semuanya udah ditanam,” kata Anjani, dan suaranya kehilangan ketenangan yang ia bawa masuk ke gardu itu.
Galih tidak langsung menjawab. Ia masih duduk di atas kotak alatnya, terkurung di dalam ruang yang dikunci relenya sendiri, dan ia menatap Anjani dengan tatapan seseorang yang sedang menimbang harga sebuah informasi. Anjani mengenali tatapan itu. Itu tatapan orang yang sedang menghitung apa yang bisa ia tukar untuk menyelamatkan dirinya sendiri.
“Buka kuncinya,” kata Galih. “Biarin aku pergi, dan aku kasih tau apa yang sebenernya kamu hadapi. Karena percaya deh, kamu nggak tahu. Kamu masih ngira ini soal nangkep orang di gardu. Kamu masih main catur lama.”
Anjani tidak bergerak. Ia tahu satu hal tentang menawar dengan orang seperti Galih: begitu kau menunjukkan kau menginginkan sesuatu, harganya naik. Maka ia berdiri diam, membiarkan keheningan gardu bekerja, membiarkan Galih menyadari bahwa malam masih panjang dan tak ada yang akan datang menolongnya.
“Kamu nggak bakal aku lepas,” kata Anjani akhirnya. “Besok pagi tim pemeliharaan datang dan nemuin kamu di sini, di gardu yang ditandai sabotase, dengan tas alat dan jejak tangan di rele. Itu ceritanya. Mau kamu ngomong atau nggak, ceritanya tetep itu. Bedanya cuma: kamu mau masuk sebagai orang yang diem, atau orang yang akhirnya ngomong dan dapet sedikit keringanan? Aku nggak butuh kamu bebas. Aku cuma butuh kamu di sini. Jadi sebenernya kamu yang nggak punya kartu, bukan aku.”
Galih menatapnya lama, dan sesuatu di rahangnya mengeras, lalu mengendur. Ia teknisi yang cukup cerdas untuk membaca posisinya sendiri, dan posisinya buruk. Ia tertawa kecil, getir, seperti orang yang baru menyadari ia kalah dua kali dalam satu malam.
“Ya udah,” katanya. “Aku kasih tau, bukan buat kamu, tapi biar kamu ngerasain gimana rasanya tahu kamu udah kalah dari awal.” Ia mencondongkan badan. “Sudibyo nggak bodoh. Dia tahu tangan bisa goyah. Dia liat sendiri si tua mulai ragu, makanya dia panggil aku. Tapi dia juga tahu aku bisa ketangkep, bisa goyah, bisa apa aja. Manusia itu titik lemah. Jadi dia bikin rencana yang nggak butuh manusia.”
Dada Anjani mengencang. “Maksudnya.”
“Semuanya udah ada di dalam sistem. Di SCADA. Skrip. Program yang dijadwalin. Di malam yang udah ditentuin, jam yang udah diset, sistem itu jalan sendiri—matiin proteksi gardu satu per satu, dalam urutan yang udah dihitung, tanpa ada satu orang pun yang perlu nyentuh apa-apa. Nggak ada tangan di gardu. Nggak ada teknisi yang bisa kamu pergokin. Nggak ada wajah yang bisa kamu tangkep basah. Cuma kota yang tiba-tiba mulai mati sendiri, dan log-nya bakal nunjukin cuma kegagalan kaskade gardu tua. Sempurna. Bersih. Nggak ada sidik jari.” Ia menyandar kembali. “Itu sebabnya aku ketawa pas kamu kurung aku. Kamu pikir kamu motong tangan Sudibyo. Padahal Sudibyo udah nggak butuh tangan berbulan-bulan lalu.”
Anjani berdiri membatu di dalam gardu yang temaram itu, dan untuk beberapa saat ia tidak bisa berpikir sama sekali. Seluruh rencana mereka, seluruh persiapan, seluruh perhitungan mereka tentang bagaimana mencegah Galih atau tangan lain hadir di malam-H—semuanya dibangun di atas asumsi yang baru saja runtuh. Mereka telah menyiapkan diri untuk melawan manusia. Mereka telah memetakan jam pergantian penjaga, jalur masuk, cara melumpuhkan teknisi. Dan ternyata tidak akan ada teknisi. Tidak akan ada manusia di gardu mana pun untuk dipergoki, ditangkap, atau dihentikan. Lawan mereka di malam terakhir bukan tangan dan kaki. Lawan mereka adalah baris-baris kode yang sudah tertanam jauh di dalam sistem yang mengatur seluruh kota, menunggu dengan sabar untuk jam yang telah ditentukan, tak peduli siapa yang hidup atau mati.
Ia keluar dari gardu itu meninggalkan Galih terkunci, menelepon Bayu sebelum ia bahkan sampai ke motornya, dan suaranya gemetar ketika ia berbicara. “Bayu. Bangunin Mawar. Sekarang. Semuanya berubah.”
Di bengkel, satu jam kemudian, ia menjelaskan semuanya, dan ia melihat wajah Bayu memucat persis seperti wajahnya sendiri saat mendengarnya pertama kali. Mawar, yang baru datang dengan rambut masih kusut dari tidur yang terputus, mendengarkan dengan diam yang panjang, dan ketika Anjani selesai, ia tidak terkejut. Justru itu yang paling menakutkan.
“Aku… aku pernah liat hal aneh,” kata Mawar pelan. “Beberapa bulan lalu. Ada tugas terjadwal di sistem yang aku nggak ngerti, dilabelin pemeliharaan rutin, tapi parameternya aneh. Aku laporin, dijawab itu pembaruan dari tim pusat, jangan diutak-atik. Aku nggak mikir lebih jauh waktu itu. Aku kira itu emang dari atas.” Tangannya naik menutup mulut. “Itu dia. Itu skripnya. Udah ada di depan mataku berbulan-bulan dan aku nggak tahu apa yang aku liat.”
“Berarti kita nggak lagi ngelawan Sudibyo,” kata Bayu pelan, menatap layar laptopnya yang kosong seolah skrip mematikan itu sudah ada di sana. “Kita ngelawan sesuatu yang Sudibyo udah pasang dan tinggalin. Sesuatu yang bahkan Sudibyo nggak perlu ada buat jalanin. Sesuatu yang nggak punya rasa takut, nggak punya rasa bersalah, nggak bisa dibujuk, nggak bisa diancem. Cuma jam dan baris perintah.”
Anjani menatap peta di dinding, ke kotak biru gardu pengunci, dan untuk pertama kalinya ia menyadari bahwa pertarungannya telah bergeser dari sesuatu yang bisa ia baca dengan tangannya ke sesuatu yang hidup di tempat yang tak bisa ia sentuh. Ia bisa membaca rele. Ia bisa membaca arus. Ia bisa membaca jaringan tembaga dan baja seperti membaca napasnya sendiri. Tapi ia tidak bisa membaca kode. Itu dunia Reza, yang terkunci di sel. Itu dunia Bayu, yang masih belajar. Itu dunia di balik layar yang selama ini ia abaikan karena ia percaya pada kabel, bukan pada perintah.
“Kita harus masuk ke sistemnya,” katanya akhirnya. “Bukan ke gardunya. Ke sistemnya. Kita harus nemuin skrip itu sebelum dia jalan, dan kita harus ngerti dia, sebelum dia ngerti kita.” Ia menatap Mawar, lalu Bayu. “Dan kita harus lakuin itu tanpa Sudibyo tahu kita udah tahu. Karena begitu dia sadar rahasianya kebongkar, dia majuin tanggalnya, dan kita kehabisan waktu yang udah hampir nggak ada.”