Membongkar skrip itu menjadi pekerjaan yang sama sekali asing bagi Anjani, dan untuk pertama kalinya sejak ini bermula, ia harus menjadi orang yang menunggu sementara orang lain bekerja.
Mawar yang mendapatkannya, sepotong demi sepotong, di sela shift malamnya. Ia tidak berani menyalin seluruh tugas terjadwal itu sekaligus—itu pasti memicu peringatan yang sama yang nyaris membongkarnya berminggu lalu. Maka ia melakukannya seperti ia membuka jalur pembumian: pelan, samar, satu fragmen tiap malam, disamarkan sebagai pemeriksaan rutin operator senior. Ia memotret layar dengan ponsel yang ia sembunyikan di pangkuan, menyalin parameter ke kertas dengan tangan, membawa pulang serpihan-serpihan itu, dan setiap pagi menyerahkannya ke Bayu di bengkel.
Bayu menyatukannya seperti menyatukan teka-teki tanpa gambar acuan. Ia begadang malam demi malam, mahasiswa teknik yang tiba-tiba harus memahami sistem kendali industri yang tak pernah ia pelajari di kampus, dan Anjani menyaksikan adiknya menua di depan matanya, kantung di bawah matanya menghitam, kopi menumpuk di sudut meja. Apa yang mereka tak punya adalah Reza, yang akan memahami ini dalam hitungan menit, dan yang terkunci di sel menunggu sidang yang dipercepat. Ketiadaan Reza terasa seperti lubang di tengah ruangan.
Butuh hampir seminggu sebelum Bayu, suatu subuh, memanggil kakaknya dengan suara yang kosong dari tidur dan penuh dengan sesuatu yang lebih buruk dari kelelahan. “Aku ngerti,” katanya. “Astaga, Mbak. Aku ngerti apa yang dia tanem.”
Mereka berkumpul di sekitar laptop, ketiganya, dan Bayu menjelaskan dengan istilah sesederhana mungkin agar Anjani yang membaca tembaga bukan kode bisa mengikutinya. Skrip itu, katanya, adalah tugas terjadwal yang tertanam dalam sistem kendali. Pada jam yang telah ditentukan di malam yang telah ditentukan, ia akan mulai mengirim perintah ke gardu-gardu, satu per satu, dalam urutan yang sudah dihitung—bukan untuk merusaknya secara fisik, melainkan untuk menonaktifkan proteksinya. Mematikan rele pengaman. Membuka jalan bagi beban liar untuk menyapu jaringan yang tak lagi punya rem. Dalam satu sapuan, seluruh kota akan kehilangan perlindungannya, dan kaskade yang dirancang Sudibyo akan berjalan dengan sendirinya, bersih, tanpa satu tangan pun di gardu mana pun.
“Dan ini bagian yang bikin aku merinding,” kata Bayu. “Skrip ini pinter. Dia ngecek dirinya sendiri. Kalau ada yang nyoba ngapus dia, dia ngirim sinyal—semacam laporan ke akun yang aku yakin punya Sudibyo. Kalau ada yang ngutak-atik parameternya, sama, dia lapor. Dia kayak ranjau yang kalau kamu cabut salah, dia teriak ke yang masang. Jadi kita nggak bisa cuma masuk dan ngapus dia. Begitu kita sentuh, Sudibyo tahu rencananya kebongkar.”
Keheningan turun di bengkel itu, berat dan dingin.
“Kalau Sudibyo tahu kebongkar,” kata Anjani pelan, menyusun konsekuensinya seperti menyusun urutan pembumian, “dia majuin tanggalnya. Mungkin dijalanin malam itu juga, sebelum kita siap. Atau dia ganti rencana sama sekali, dan semua yang udah kita susun jadi sia-sia.”
“Bener.”
“Tapi kalau kita biarin skripnya,” kata Mawar, “dia bakal jalan di malam-H, persis kayak yang dia rancang, dan dia bakal matiin proteksi seluruh kota dalam satu sapuan.”
“Bener juga.”
Dua pilihan, dan keduanya berujung pada kekalahan. Menghapus skrip berarti memperingatkan musuh dan kehilangan kendali atas kapan pertarungan terjadi. Membiarkannya berarti membiarkan kota kehilangan seluruh perlindungannya pada malam yang telah ditentukan. Anjani menatap peta, lalu menatap layar Bayu, lalu menatap kedua orang yang telah mempertaruhkan segalanya untuk berdiri di ruangan ini bersamanya, dan ia merasakan beban dari keputusan yang tak satu pun dari mereka ingin pikul.
Lalu, perlahan, sesuatu mulai membentuk dirinya dalam pikiran Anjani. Bukan jalan keluar yang aman. Tidak ada yang aman lagi. Tapi sebuah jalan ketiga, yang lebih nekat daripada dua yang lain.
“Gimana kalau kita nggak ngapus dia,” kata Anjani pelan, dan keduanya menoleh. “Dan kita nggak biarin dia jalan tanpa lawan juga.”
Bayu mengernyit. “Maksud Mbak.”
“Kita biarin skripnya jalan. Persis kayak yang Sudibyo rencanain. Kita nggak sentuh dia, nggak ada peringatan, nggak ada yang kebongkar. Sudibyo bakal ngerasa di atas angin sampai detik terakhir, ngira semuanya berjalan sesuai rencananya.” Anjani berdiri, menghampiri peta, jarinya berhenti di kotak biru gardu pengunci. “Tapi pas skrip itu mulai matiin proteksi gardu satu per satu, dan kaskade mulai jalan, kita udah ada di posisi. Mawar di ruang kendali, ngeperlambat dia dari dalam sebisanya, ngulur waktu. Bayu mandu dari sini. Dan aku—” ia mengetuk kotak biru itu, “—aku ada di gardu pengunci. Pas skripnya udah ngerontokin semua cabang, dan kaskade nyampe ke titik kunci, di situ aku berdiri. Aku nahan gardu ini tetep hidup. Skripnya boleh matiin proteksi seluruh kota, tapi selama gardu pengunci bertahan, kaskadenya nggak nyapu. Skrip Sudibyo jalan sempurna—dan tetep gagal.”
Mereka menatapnya. Itu rencana paling berani dan paling gila yang pernah ia ajukan: membiarkan senjata musuh menembak penuh, lalu menahannya dengan tubuh sendiri di titik di mana ia paling tak boleh meleset. Tidak ada jaring pengaman. Tidak ada pencegahan. Hanya satu tubuh, satu gardu, dan margin kesalahan yang sudah lama menyusut menjadi nol.
“Kalau kamu telat semenit aja sampai ke gardu,” kata Bayu pelan, “kaskadenya udah lewat dan kota mati.”
“Aku tahu.”
“Kalau jantung kamu nggak kuat nahan selama skripnya jalan—”
“Aku tahu, Bayu.” Anjani menatap adiknya, dan suaranya melembut. “Aku tahu semua yang bisa salah. Aku udah ngitung semuanya. Tapi dari semua jalan yang ada, cuma ini yang bikin Sudibyo nggak sempet ganti rencana, nggak sempet majuin tanggal, nggak sempet nyadar kita ada sampai semuanya udah selesai. Kita biarin dia mikir dia menang sampai detik dia kalah.”
Mawar menatap perempuan muda yang akan berdiri sendirian di gardu paling berbahaya di kota itu, dan ia mengangguk pelan, perlahan, seperti seseorang yang menerima beban yang ia tahu terlalu berat. Bayu menutup laptopnya, dan untuk waktu yang lama tak ada yang berbicara. Di luar, subuh mulai retak menjadi pagi. Mereka telah memilih rencana yang paling berbahaya dari semua yang mungkin, dan dalam keheningan bengkel itu, ketiganya tahu tak ada jalan kembali lagi.