Tanggalnya sudah pasti sekarang, dan itu jatuh dua hari lagi, dan Anjani melakukan apa yang tak pernah ia kira akan ia lakukan di malam sebelum sesuatu sebesar ini: ia berhenti bekerja.
Seharian itu mereka menyelesaikan semua yang bisa diselesaikan. Mawar telah membuka jalur-jalur pembumian terakhir, samar di antara tugas rutinnya, sampai pada malam-H ia tak perlu menyentuh apa pun lagi. Bayu telah menghafal setiap angka, setiap ritme, setiap garis pada peta sampai ia bisa memandu kakaknya dengan mata tertutup. Lestari, jurnalis itu, telah menyiapkan segalanya untuk menyiarkan begitu tanda diberikan. Tak ada lagi yang bisa dilatih, dihitung, atau diperbaiki. Maka di malam terakhir sebelum konfrontasi, Anjani melepas pakaian kerjanya, mandi, dan keluar dari bengkel sendirian.
Ia pergi ke makam ayahnya terlebih dahulu.
Pemakaman umum di pinggir Karangwetan sepi di senja hari, hanya ada penjaga tua yang mengangguk padanya tanpa bertanya. Ia berjalan di antara nisan-nisan yang ia kenal jalannya tanpa harus melihat, sampai ke makam sederhana dengan nama ayahnya terukir di batu yang sudah mulai berlumut. Pak Laras. Tukang servis dinamo yang mengajarinya membaca tembaga sebelum ia bisa membaca huruf, yang tangannya selalu kotor oli, yang percaya bahwa memperbaiki yang rusak adalah satu-satunya kemuliaan yang ia butuhkan dari hidup.
Ia jongkok di samping makam itu, membersihkan daun-daun kering yang menutupi nisan, dan untuk waktu yang lama ia tidak berbicara. Lalu, pelan, ia mulai, seperti ia dulu berbicara pada ayahnya di bengkel sambil keduanya bekerja, kata-kata di sela dengung mesin.
“Besok malam aku balik ke gardu yang hampir matiin aku, Pak,” katanya. “Yang malam itu. Tempat semuanya mulai.” Ia menyeka pasir dari batu nisan dengan ibu jarinya. “Aku takut. Bukan kayak waktu kecil takut gelap. Takut yang dewasa. Takut aku nggak balik. Takut Bayu sendirian. Takut Ibu.” Ia berhenti, dan suaranya menipis. “Tapi aku juga ngerti sekarang. Bapak nggak pernah ngajarin aku jadi pahlawan. Bapak ngajarin aku benerin yang rusak. Dan kota ini rusak, Pak. Aku satu-satunya yang bisa baca rusaknya. Jadi aku harus benerin. Itu aja. Kayak Bapak benerin dinamo orang sampe larut, walaupun dibayar murah, walaupun capek, karena nggak ada orang lain yang bisa.”
Langit di atas pemakaman berubah jingga, lalu ungu, lalu kelabu. Ia duduk di sana sampai gelap, dan ketika ia bangkit, sesuatu di dalam dadanya telah berubah. Bukan ketakutannya hilang—itu masih ada, akan selalu ada. Tapi di sebelahnya kini ada sesuatu yang lebih tenang. Penerimaan seorang pekerja terhadap ongkos dari pekerjaan yang harus dilakukan.
Dari pemakaman ia pergi ke bengkel, sendirian, dan menyalakan satu lampu kerja saja. Tempat itu telah membentuknya. Di lantai inilah ayahnya mengajarinya. Di sudut inilah ia bereksperimen dengan tubuhnya yang berubah, merakit sarung tangan dan sepatu peredam dari alat-alat tua. Di dinding inilah peta kota tergantung, penuh garis dan titik, kesaksian atas berbulan-bulan ketakutan dan tekad. Ia menyentuh meja kerja yang permukaannya berlubang oleh bekas solder dan tetesan timah, dan ia membiarkan tangannya beristirahat di situ.
Lalu ia duduk, mengambil pena dan kertas, dan menulis dua surat.
Yang pertama untuk Bayu. Ia menulis bukan instruksi, karena instruksi sudah habis. Ia menulis tentang betapa ia bangga, betapa ia tahu adiknya akan menjadi insinyur yang jauh lebih baik daripada teknisi mana pun yang pernah ada, betapa ia menyesal telah menyeret adiknya ke dalam semua ini dan betapa ia tahu Bayu tak akan pernah memaafkannya jika ia tidak melakukannya. Ia menulis agar Bayu menjaga ibu. Ia menulis agar Bayu hidup, benar-benar hidup, dan tidak menghabiskan masa mudanya di balik layar menghitung beban orang lain.
Yang kedua untuk Bu Tarmi, dan surat itu lebih sulit. Ibunya tak pernah tahu sepenuhnya apa yang terjadi pada putrinya sejak malam busur putih itu. Ia hanya tahu putrinya menjadi pendiam, menjadi sibuk, menjadi jauh. Anjani menulis sederhana saja, dalam kata-kata yang ibunya akan mengerti tanpa harus paham soal rele dan kaskade. Bahwa ia melakukan apa yang ayahnya akan lakukan. Bahwa apa pun yang orang katakan tentang Hantu Gardu, ibunya harus tahu putrinya tidak pernah ingin menyakiti siapa pun, hanya ingin agar lampu orang-orang tetap menyala. Bahwa ia menyayanginya, dan bahwa segala hal kecil yang tak sempat ia ucapkan selama ini—maaf, terima kasih, semuanya—ada di surat ini.
Ia melipat keduanya, menulis nama di muka tiap amplop, dan menyimpannya di laci yang sama tempat surat Pak Hadi ditemukan, di celah yang sama, di tempat yang sama yang hanya akan ditemukan jika dirinya tiada. Lalu ia tersenyum kecil pada ironinya. Pak Hadi telah mengajarinya, tanpa sengaja, di mana menyembunyikan kata-kata terakhir.
Ia mematikan lampu kerja dan duduk di kegelapan bengkel untuk waktu yang lama, mendengarkan kota di luar yang lampunya masih menyala, kota yang besok malam akan ia coba selamatkan dengan tubuh yang mungkin tak sanggup. Tidak ada kemenangan dalam keheningan itu, tidak ada pidato, tidak ada keberanian yang berkobar. Hanya ketenangan seorang anak tukang servis yang telah menerima bahwa pekerjaan terbesar dalam hidupnya menunggu, dan bahwa ia akan datang ke pekerjaan itu seperti ayahnya selalu datang ke setiap pekerjaan—tepat waktu, dengan tangan yang siap, tanpa banyak bicara, karena yang rusak tidak peduli pada perasaan orang yang memperbaikinya. Ia hanya minta diperbaiki.