Malam-H datang seperti malam biasa, dan itulah yang paling menakutkan tentangnya.
Karangwetan tidak tahu. Lampu-lampu menyala seperti biasa di jendela rumah padat, di warung-warung yang masih buka, di pabrik yang shift malamnya baru saja dimulai. Orang-orang menonton televisi, menidurkan anak, menutup toko. Tidak ada tanda, tidak ada firasat, tidak ada perubahan di udara. Hanya beberapa orang di seluruh kota yang tahu bahwa malam ini berbeda dari semua malam, dan mereka bergerak ke posisi masing-masing dalam keheningan yang lebih berat daripada kata-kata apa pun.
Mawar masuk ke ruang kendali SCADA pada awal shift malamnya, persis seperti yang ia lakukan ribuan malam selama belasan tahun. Ia menyapa operator yang ia gantikan, menukar catatan serah terima, duduk di kursi yang telah membentuk lekuk tubuhnya. Di permukaan ia tidak berbeda sedikit pun dari malam-malam lain. Di dalam, jantungnya berdebar sampai ia takut orang lain bisa mendengarnya. Ia tahu jam berapa skrip itu akan aktif. Ia telah menghafalnya. Dan ia tahu bahwa ketika jam itu tiba, tugasnya bukan menghentikannya—itu mustahil tanpa membongkar segalanya—melainkan memperlambatnya, mengulur tiap detik yang bisa ia ulur, memberi Anjani waktu untuk sampai dan bertahan. Ia membuka kotak kopinya, menuang dari termos, dan tangannya hanya sedikit gemetar.
Bayu mengambil posisi di bengkel, yang malam ini berubah menjadi pusat kendali yang lain. Di depannya peta kota, laptop dengan sambungan ke data yang masih bisa diakses Reza tinggalkan, dan radio genggam dua arah yang ia rakit untuk berbicara dengan Anjani di gardu yang dindingnya tebal dan sinyal ponselnya buruk. Ia telah menguji semuanya tiga kali. Ia menatap jam dinding tua ayahnya yang berdetak pelan di atas pintu, dan untuk pertama kalinya dalam hidupnya ia berdoa, bukan dengan kata-kata, melainkan dengan seluruh tubuhnya yang menegang. Tugasnya adalah menjadi suara di telinga kakaknya. Mata yang melihat seluruh jaringan saat kakaknya hanya bisa melihat satu titik. Pengetahuan yang menjaga jantung Anjani tetap berdetak ketika ritmenya mulai tersandung. Ia tahu bahwa nyawa kakaknya, malam ini, akan bergantung sebagian pada seberapa cepat dan seberapa tenang ia bisa berbicara ke dalam sepotong plastik dan kawat.
Lestari menunggu di mobilnya, diparkir beberapa blok dari kompleks gardu, dengan ponsel terisi penuh, baterai cadangan, dan koneksi yang telah ia uji untuk menyiarkan langsung. Di kursi penumpang ada map berisi salinan dokumen tender, transkrip rekaman rapat, dan bukti aliran uang—semua yang ia kumpulkan selama berminggu-minggu, semua yang medianya takut menerbitkan tanpa momen yang tak bisa disangkal. Ia adalah jurnalis yang sudah belasan tahun melihat berita dikubur sebelum sempat dicetak, dan malam ini ia menunggu untuk menyiarkan sesuatu yang tak bisa dikubur siapa pun: kebenaran yang terjadi di depan mata seluruh kota, di saat kota itu paling membutuhkannya. Ia tidak tahu persis apa yang akan terjadi. Ia hanya tahu bahwa ketika tanda datang, ia harus menekan tombol dan tidak berhenti berbicara apa pun yang terjadi.
Dan Anjani menuju gardu induk pusat.
Ia tidak masuk lewat pintu depan. Mawar telah menggambarkan jalannya sampai ke detail terkecil, dan Anjani mengikutinya dalam gelap: menyusuri tepi kompleks di titik buta antara dua kamera yang salah satunya sudah lama mati tanpa anggaran untuk memperbaikinya, melewati pintu darurat yang engselnya berkarat, turun ke mulut terowongan kabel yang menganga seperti kerongkongan di bawah kota. Ia membawa tas kecil berisi sarung tangan dan sepatu peredam yang ia rakit sendiri, sebotol air untuk pendinginan, dan sedikit lagi. Yang ia butuhkan paling banyak bukan alat, melainkan tubuhnya sendiri, dan tubuhnya berdebar dengan ketakutan dan kesiapan yang berbaur menjadi satu rasa.
Terowongan kabel itu sempit, panas, penuh dengung rendah arus yang mengalir di kabel-kabel raksasa di sepanjang dindingnya. Bagi orang lain itu tempat yang menakutkan. Bagi Anjani itu hampir terasa seperti pulang. Ia bisa membaca arus di dinding-dinding itu seperti membaca napas seseorang yang tidur, dan ia menyusuri lorong demi lorong mengikuti peta Mawar dalam kepalanya, menuju jantung jaringan, menuju tempat ia hampir mati setahun yang lalu, menuju terminal yang sama, rangka baja yang sama, pondasi pembumian yang sama yang menghunjam puluhan meter ke dalam tanah Karangwetan.
Jauh di atas kota, di sebuah kantor dengan jendela menghadap lampu-lampu yang masih menyala, Sudibyo menunggu. Ia tidak melakukan apa-apa. Itulah keindahan rencananya: ia tak perlu melakukan apa-apa. Skrip akan berjalan sendiri, kota akan jatuh sendiri, dan besok ia akan berdiri di hadapan para pejabat dengan wajah prihatin seorang manajer yang gardunya yang tua akhirnya menyerah, dan menyodorkan proyek peremajaan darurat bernilai ratusan miliar sebagai satu-satunya penyelamat. Ia merasa di atas angin, dan ia berhak merasa begitu, karena sejauh yang ia tahu, tak ada satu pun yang bisa menghentikan baris-baris kode yang sudah ia tanam berbulan-bulan lalu di jantung sistem yang mengatur seluruh kota.
Dua rencana yang saling bertentangan bergerak menuju satu titik dan satu jam, dan tak satu pun pihak bisa mundur lagi. Di ruang kendali, Mawar menatap jam di sudut layarnya. Di bengkel, Bayu menggenggam radio sampai buku jarinya memutih. Di mobilnya, Lestari menahan ponsel di pangkuan. Dan di kedalaman terowongan kabel, Anjani mencapai pintu yang membuka ke ruang gardu pengunci, berhenti sejenak, meletakkan tangannya di permukaan logam yang dingin, dan menutup matanya. Di balik pintu itu adalah tempat segalanya bermula. Di balik pintu itu, malam ini, segalanya akan berakhir, satu atau lain cara.
Ia mendorong pintu itu, dan masuk.