Tepat tengah malam, sistem mulai membunuh dirinya sendiri.
Mawar melihatnya pertama. Di layar besar ruang kendali, di antara deretan angka dan indikator yang ia tatap setiap malam selama belasan tahun, satu nilai berubah. Lalu yang lain. Lalu sebuah indikator proteksi di gardu sisi timur berkedip dari hijau ke abu-abu, mati, seolah seseorang baru saja mencabut nyawanya. Ia tahu apa yang ia lihat. Skrip itu telah bangun. Pada jam yang telah ditentukan, persis seperti yang dijanjikannya, ia mulai mengirim perintah ke gardu-gardu kota, satu per satu, mematikan proteksi mereka dalam urutan yang sudah dihitung sebagai sebuah eksekusi yang dingin dan sabar.
Mawar tidak berteriak. Ia tidak menekan tombol darurat. Ia melakukan apa yang telah ia latih dalam pikirannya ratusan kali: ia mulai bekerja seolah ini adalah anomali biasa yang sedang ia tangani secara rutin, sambil diam-diam menyabotase kecepatan skrip itu dari dalam. Ia tidak bisa menghentikannya—itu akan memicu peringatan ke Sudibyo. Tapi ia bisa memperlambatnya. Ia mengirim perintah verifikasi palsu yang memaksa sistem menunggu konfirmasi sebelum melanjutkan ke gardu berikutnya. Ia membuka tiket pemeliharaan yang menyita sumber daya sistem. Setiap detik yang ia curi adalah satu detik bagi Anjani. Detik demi detik, ia menyeret kaki raksasa itu, sementara di sebelahnya operator lain mulai menyadari ada yang tidak beres.
“Bu Mawar, ini—” operator muda itu menatap layarnya dengan ngeri. “Proteksi mati di mana-mana. Ini kaskade. Ini—”
“Tenang,” kata Mawar, suaranya datar dan tegas seperti komandan yang sudah melewati ini seribu kali. “Ikutin SOP. Kita isolasi satu-satu. Jangan panik.” Dan ia memberi operator itu tugas-tugas yang sibuk dan tak berguna, menjauhkannya dari panel yang akan menunjukkan apa yang sebenarnya ia lakukan.
Di bengkel, layar Bayu menyala dengan peringatan yang sama, dipantulkan dari data yang masih bisa ia akses. Ia melihat gardu-gardu kota kehilangan proteksinya satu demi satu, titik-titik di petanya berubah merah dalam gelombang yang merayap dari timur ke barat, menuju jantung kota, menuju kotak biru gardu pengunci tempat kakaknya berdiri. Ia meraih radio dengan tangan yang gemetar.
“Mbak. Udah mulai. Skripnya jalan. Proteksi mati dari timur, nyebar ke arah kamu. Mawar lagi ngerem dari dalam, tapi dia nggak bisa nahan lama. Kamu punya—” ia menatap kecepatan gelombang merah di petanya, menghitung, “—mungkin delapan menit sebelum kaskade nyampe gardu pengunci. Mungkin kurang. Kamu harus siap sebelum itu.”
Di dalam gardu induk pusat, suara Bayu sampai ke telinga Anjani lewat radio, pecah dan berdesis di antara dengung tegangan tinggi yang memenuhi ruangan. Ia berdiri di tempat ia hampir mati setahun lalu. Ruangan itu sama persis dalam ingatannya: panel-panel raksasa menjulang di kegelapan, rangka baja yang menyangga semuanya tertanam ke pondasi, terminal-terminal yang berkilau samar di bawah lampu darurat. Tubuhnya mengenali tempat ini dengan cara yang membuat kulitnya meremang. Di sinilah busur putih itu lahir. Di sinilah ia berubah. Dan ke sinilah, akhirnya, ia kembali.
“Aku denger,” katanya ke radio, dan suaranya lebih tenang daripada yang ia rasakan. “Aku udah di posisi. Aku di samping rangka pembumian utama. Pandu aku, Bayu. Begitu kaskade nyampe, aku nggak bisa liat seluruh jaringan. Cuma kamu yang bisa. Jadi jadi mataku.”
“Aku di sini,” kata Bayu. “Aku nggak akan ke mana-mana.”
Anjani melepas tas kecilnya, mengenakan sarung tangan peredam di tangan kanan saja—ia membutuhkan satu tangan telanjang untuk membaca, untuk merasakan arus langsung di kulitnya—dan menyiram tengkuknya dengan air dari botol untuk mulai mendinginkan tubuh yang sebentar lagi akan membara. Lalu ia meletakkan telapak tangan kirinya yang telanjang di permukaan dingin rangka baja, jalur yang ia siapkan untuk menjadi corong, jalan bagi arus untuk pulang ke tanah tanpa melewati jantungnya. Ia merasakan getaran rendah jaringan di bawah telapaknya, denyut seluruh kota yang masih hidup, dan untuk sesaat ia hampir bisa membayangkan setiap rumah yang lampunya bergantung pada apa yang akan terjadi di ruangan ini dalam beberapa menit ke depan.
Gelombang merah di peta Bayu merayap lebih dekat. Gardu demi gardu kehilangan proteksinya. Di sisi timur kota, blok-blok mulai berkedip—bukan padam total, belum, tapi mulai goyah saat beban yang tak lagi terlindungi mengalir liar mencari jalan. Mawar di ruang kendali menyeret skrip itu dengan setiap trik yang ia punya, jari-jarinya menari di papan ketik, keringat menetes ke kerah seragamnya, sementara operator muda di sebelahnya mulai menelepon supervisor dengan suara panik dan supervisor tak menjawab karena ia, seperti yang sudah Mawar perkirakan, sedang berada di tempat lain di kompleks ini menghadapi kekacauan yang sama.
“Empat menit, Mbak,” suara Bayu pecah di radio. “Kaskadenya udah lewat penyulang tengah. Sekarang dia ngarah ke gardu pengunci. Pas dia nyampe, proteksi gardu kamu juga bakal dimatiin sama skripnya, dan seluruh beban kota yang nggak ketahan bakal numpuk ke titik kamu sekaligus. Itu momennya. Itu yang harus kamu tahan.”
“Berapa besar,” tanya Anjani, meski ia sudah tahu jawabannya tak akan menghiburnya.
Bayu diam sejenak, dan ketika ia menjawab, suaranya hampir tak terdengar di antara desis radio. “Lebih besar dari apa pun yang pernah kamu tahan. Jauh lebih besar.”
Anjani menutup matanya. Di luar gardu, kota mulai jatuh, blok demi blok, gelap merayap dari pinggir ke tengah. Di dalam, ia berdiri sendirian dengan satu tangan di baja dan satu tangan terangkat di udara, satu-satunya hal di seluruh Karangwetan yang berdiri di antara kaskade dan kegelapan total, dan ia menunggu gelombang yang akan datang untuk membunuhnya atau diteruskannya ke tanah. Tubuhnya, yang seumur hidup ia latih untuk menjaga arus tetap aman dan tersembunyi, kini menjadi got terakhir tempat seluruh kota akan mengalirkan bebannya.
“Aku siap,” bisiknya, lebih ke dirinya sendiri daripada ke radio. “Datang.”