Gelombang itu datang seperti dinding.
Anjani merasakannya sebelum ia melihat indikatornya berubah—merasakannya naik dari telapak tangannya yang menempel di baja, denyut yang berubah dari getaran rendah menjadi tekanan, lalu menjadi sesuatu yang nyaris hidup, lapar, mendesak. Skrip itu telah mematikan proteksi terakhir di jalur menuju gardu pengunci, dan seluruh beban kota yang tak lagi terlindungi menumpuk ke titik tempat ia berdiri, mencari jalan, mencari rute terpendek ke tanah. Dan rute terpendek itu, untuk pertama kalinya secara sengaja dalam hidupnya, adalah dirinya.
Ia tidak menyimpannya. Itulah seluruh inti dari berbulan-bulan latihan yang nyaris membunuhnya. Tubuhnya bukan lagi kapasitor yang menampung; ia menjadi jembatan, got, corong—jalan yang membiarkan arus lewat tanpa pernah berhenti di dalamnya. Tangan kirinya di baja adalah pintu masuk dari jaringan. Tangan kanannya, dalam sarung tangan peredam, ia tekan ke jalur pembumian yang telah Mawar siapkan, batang tembaga tebal yang menghunjam puluhan meter ke dalam tanah Karangwetan. Dan di antara dua titik itu, melintasi tubuhnya, mengalir arus dengan besaran yang membuat setiap saraf di lengannya menyala seperti kawat pijar.
“Ngalir,” ia memaksa dirinya berkata, gigi terkatup. “Jangan ditahan. Cuma dilewatin. Kamu cuma got, Anjani. Got. Got.”
Rasa sakitnya tak seperti apa pun yang pernah ia kenal. Bukan panas biasa—ini panas yang datang dari dalam, dari tiap pembuluh yang dilewati arus, seolah tubuhnya direbus dari sumsumnya. Bau kulit yang hangus mulai naik dari titik kontak di telapak kirinya meski sarung tangan melindungi yang kanan. Tapi jantungnya—ia memaksa seluruh perhatiannya ke jantungnya—jantungnya masih berdetak. Karena arus tidak melewatinya. Ia telah mengarahkannya melalui jalur yang melintasi lengannya saja, dari kiri ke kanan, di atas garis dadanya, bukan menembusnya. Itulah perbedaan antara hidup dan mati, dan itu hanya berjarak beberapa sentimeter.
“Mbak!” suara Bayu menjerit di radio. “Aku liat di data—gardu pengunci nahan! Bebannya lewat kamu ke pembumian, nggak numpuk! Kaskadenya—kaskadenya berhenti di kamu! Gardu-gardu di belakang kamu masih hidup! Kamu nahan, Mbak, kamu nahan!”
Ia nyaris tak bisa mendengarnya di atas dengung yang memenuhi tengkoraknya, tapi kata-kata itu menembus. Berhasil. Untuk sesaat, untuk satu detik yang membentang menjadi keabadian, ia merasakan seluruh kota mengalir melaluinya dan keluar ke tanah, dan di belakangnya, di blok-blok yang seharusnya sudah gelap, lampu-lampu tetap menyala. Anak-anak yang sudah tidur tak terbangun dalam gelap. Mesin ventilator di rumah sakit tetap berdengung. Warung-warung yang masih buka tetap terang. Seluruh kaskade yang dirancang Sudibyo untuk menelan Karangwetan tertahan di ambang, ditahan oleh satu perempuan dengan tangan terbakar di kedalaman gardu yang dulu hampir membunuhnya.
Di ruang kendali, Mawar melihat indikator gardu pengunci tetap hijau di tengah lautan abu-abu dan merah, dan untuk sesaat ia menutup matanya dan hampir menangis. Skrip itu telah berjalan sempurna, persis seperti yang Sudibyo rancang—dan tetap gagal, persis seperti yang Pak Hadi janjikan dari kuburnya. Selama gardu pengunci berdiri, kota tidak akan mati. Dan gardu pengunci berdiri, ditopang bukan oleh baja dan tembaga semata, melainkan oleh tubuh yang menolak menyerah.
Tapi tubuh itu sudah berteriak.
Anjani merasakannya bahkan dalam kemenangan singkat itu—batasnya, jurang yang menganga di tepi setiap detik. Lengannya bergetar tak terkendali. Penglihatannya menyempit menjadi terowongan gelap dengan titik cahaya di tengah. Dan jauh di dalam dadanya, di tempat yang paling ia takuti sejak hari pertama, jantungnya mulai tersandung—satu detak terlewat, lalu dua yang terburu menyusul, ritme yang ia kenal sebagai pertanda dari latihan-latihan yang hampir membunuhnya. Ia tidak bisa menahan ini selamanya. Tubuhnya tidak dirancang untuk ini. Tak ada tubuh yang dirancang untuk ini.
“Bayu,” ia berbisik, dan suaranya hampir tak ada lagi. “Berapa lama. Berapa lama lagi aku harus nahan.”
Keheningan di radio yang lebih lama dari yang ia inginkan. Lalu suara Bayu, dan ia bisa mendengar adiknya berusaha keras menjaga suaranya tetap tenang, dan ia bisa mendengar adiknya gagal.
“Mbak, ini… ini baru gelombang pertama.”
Kata-kata itu jatuh ke dalam dirinya seperti batu ke sumur. Gelombang pertama. Ia telah menahan dengan seluruh tubuhnya, telah membakar telapaknya, telah membawa jantungnya ke ambang, dan ia baru saja menahan gelombang pertama.
“Skripnya nggak cuma sekali matiin proteksi,” kata Bayu, kata-katanya terburu sekarang, panik yang ditahan. “Dia berputar. Dia bakal nyoba lagi, dan lagi, gelombang demi gelombang, sampai sesuatu jebol. Tiap gelombang dia coba dorong beban lewat. Kamu nahan yang pertama. Tapi bakal ada yang kedua, ketiga—aku nggak tahu berapa banyak. Sampai skripnya dimatiin di sumbernya, atau sampai—” ia tidak menyelesaikannya.
Sampai sesuatu jebol. Anjani tahu apa yang dimaksud. Sesuatu, atau seseorang.
Ia berdiri di kedalaman gardu, tangan terbakar di baja dan tembaga, tubuh bergetar, jantung tersandung, dengan kemenangan yang baru saja ia rebut sudah berubah menjadi pengetahuan yang dingin: bahwa ini bukan satu beban untuk ditanggung sekali, melainkan rangkaian beban tanpa akhir yang akan terus datang sampai ia atau skripnya menyerah lebih dulu. Di luar, kota masih menyala, tak tahu betapa tipis benang yang menahannya. Di dalam, perempuan yang menahan benang itu menarik napas yang terasa seperti menelan bara, mengeratkan telapaknya di logam, dan bersiap untuk gelombang berikutnya.
“Ya udah,” bisiknya, ke kota, ke ayahnya, ke dirinya sendiri. “Satu lagi. Satu-satu aja. Kayak benerin dinamo.”
Dan ia menunggu gelombang kedua datang.