Gelombang kedua datang lebih cepat dari yang ia kira, dan Anjani sudah belajar satu hal dari yang pertama: tidak ada gunanya bersiap. Tubuh tidak bisa bersiap untuk dibakar dari dalam. Yang bisa ia lakukan hanya mengeratkan telapak ke baja, mengulang kata yang sudah kehilangan arti tapi belum kehilangan gunanya—ngalir, ngalir, ngalir—dan membiarkan arus melintasi lengannya seperti air bah melewati gorong-gorong yang terlalu sempit.
Ketika gelombang itu surut dan ia masih hidup, ia mendengar suara langkah di lorong gardu.
Bukan satu pasang. Banyak. Sepatu lapangan yang berderap di lantai semen, senter yang menyapu dinding kabel, dan di antara semua itu satu langkah yang lebih lambat, lebih tenang, langkah orang yang tidak pernah harus tergesa karena seluruh hidupnya orang lain yang tergesa untuknya. Anjani mengenali ritme itu sebelum ia melihat wajahnya. Ia pernah berdiri di ruang rapat mendengar langkah itu mendekat ke podium.
Sudibyo berhenti di ambang ruang gardu pengunci. Setelan abu-abunya rapi seperti biasa, tapi simpul dasinya sedikit longgar, dan di bawah lampu darurat yang berkedip, wajahnya yang biasa licin tampak seperti lilin yang mulai melunak. Di belakangnya, empat petugas keamanan internal berhenti dengan senter terangkat, dan cahaya itu jatuh ke arah Anjani—ke perempuan dengan rambut basah keringat menempel di pelipis, sarung tangan peredam hangus di ujung jari, satu telapak menempel ke rangka baja dan satu lagi menekan batang tembaga pembumian.
Ia melihat momen pengenalan itu bergerak di wajah Sudibyo. Lambat, hampir lucu kalau bukan di tempat ini. Mata pria itu menyipit, lalu melebar, lalu sesuatu seperti tawa pendek yang tak jadi keluar.
“Teknisi pemeliharaan,” katanya akhirnya, suaranya rendah, hampir kagum. “Anjani Larasati. Anak buahnya Hadi.” Ia melangkah selangkah lebih dekat, dan Anjani melihat para petugas ikut maju. “Selama ini. Hantu gardu yang ditakuti separuh kota. Cuma kamu.”
Anjani tidak menjawab. Ia tidak punya napas untuk dibuang ke kata-kata. Gelombang ketiga sedang menumpuk; ia bisa merasakannya naik dari telapaknya seperti pasang yang mulai memenuhi muara. Ia menahannya, mengarahkannya, membiarkannya lewat. Bau tembaga panas dan kulit hangus memenuhi ruang sempit itu.
“Tangkap dia,” kata Sudibyo, sudah memutar tubuhnya setengah, sudah selesai dengan keterkejutannya. “Bawa keluar. Borgol kalau perlu.”
Petugas paling depan maju dua langkah, tangan terulur ke arah lengan Anjani. Dan Anjani, dengan sisa tenaga yang ia tak tahu masih ia punya, mengangkat wajahnya dan berbicara untuk pertama kalinya.
“Kalau kamu sentuh aku,” katanya, suaranya parau tapi cukup jelas, “kota mati.”
Tangan itu berhenti di udara.
“Aku lagi nahan jalur,” lanjut Anjani, dan ia memaksa matanya tetap pada Sudibyo, bukan pada petugas. “Seluruh beban yang harusnya nyebar ngancurin kota, sekarang lewat aku ke tanah. Detik ini. Tarik aku dari sini, lepasin tanganku dari baja ini, jalur ini putus. Beban itu balik ke jaringan. Dan nggak ada proteksi yang nyala buat nahannya, karena skrip kamu udah matiin semuanya.” Ia menelan ludah yang terasa seperti pasir. “Kaskade jalan. Beneran jalan. Bukan blackout sebagian. Seluruh Karangwetan. Gelap total.”
Sudibyo diam. Anjani melihat pria itu menghitung, dan ia tahu persis apa yang sedang dihitung, karena ia sudah menghitungnya sendiri berhari-hari di bengkel dengan Bayu. Blackout total bukan masalah bagi Sudibyo—itu justru yang ia mau. Tapi blackout total dengan dirinya berdiri di sini, dengan tim keamanannya menjadi saksi, dengan teknisi pemeliharaan yang mati terbakar di panel di depan empat orang yang punya mata dan mulut. Itu bukan bencana infrastruktur. Itu pembunuhan dengan sidik jari.
“Kamu bohong,” kata Sudibyo, tapi suaranya tidak yakin.
“Kamu manajer perencanaan aset,” kata Anjani. “Kamu yang ngerancang skrip ini. Kamu tahu persis aku nggak bohong. Liat indikator gardu pengunci. Hijau. Sendirian. Di tengah semua yang merah.”
Salah satu petugas mengangkat senter ke panel kendali di dinding, dan Anjani melihat cahaya itu jatuh ke deretan lampu indikator. Sebagian besar gelap atau berkedip merah. Satu, di tengah, menyala stabil. Hijau. Petugas itu menoleh ke Sudibyo, dan dalam tatapan itu ada pertanyaan yang tidak ia ucapkan.
Sudibyo tidak menyuruh mereka maju lagi.
Dan begitulah kebuntuan itu terbentuk, di kedalaman gardu yang dulu nyaris membunuhnya, di bawah lampu darurat yang berkedip seperti jantung yang tak yakin. Anjani tak bisa bergerak; melepaskan tangannya berarti membunuh kota. Sudibyo tak bisa menangkapnya; menyentuhnya berarti menyalakan bencana yang ada saksinya. Dua orang terkunci pada simpul yang sama, masing-masing memegang ujung yang tak bisa dilepas, dan di antara mereka mengalir arus seluruh kota lewat tubuh seorang perempuan yang jantungnya sudah mulai menghitung mundur.
“Kita tunggu,” kata Sudibyo akhirnya, dan ia menarik kursi lipat dari sudut ruang, membukanya, duduk dengan tenang yang dipaksakan. “Aku punya waktu. Kamu yang nggak.” Matanya menyapu tubuh Anjani yang bergetar, telapak yang menghitam, napas yang tersengal. “Tubuh kamu yang bakal nyerah duluan. Aku cuma perlu diam di sini sampai itu kejadian. Lalu kota tetap mati, dan satu-satunya yang ada di sini cuma teknisi gila yang nekat ngutak-atik gardu sendirian dan kesetrum sampai mati.” Ia menyilangkan kaki. “Ceritanya nulis sendiri.”
Anjani menatapnya. Gelombang ketiga pecah melewatinya, dan untuk beberapa detik dunia menyempit menjadi titik putih dan dengung. Ketika ia kembali, Sudibyo masih duduk di sana, menunggu, sabar seperti seseorang yang sudah lama terbiasa menunggu orang lain hancur.
Ia benar tentang satu hal. Tubuh Anjani akan menyerah duluan.
Tapi ia salah tentang yang lain, dan Anjani memutuskan untuk membiarkannya tetap salah selama mungkin. Karena di ruang SCADA, Mawar masih bekerja. Di luar gardu, dalam kegelapan kota, Lestari sedang menyiapkan kameranya. Dan di bengkel ayahnya, Bayu sedang menonton setiap angka di layar, menghitung setiap detik yang Anjani bisa rebut.
Ia cuma perlu mengulur waktu. Ia cuma perlu menjadi got sedikit lebih lama.
“Kalau aku cuma punya waktu,” kata Anjani, dan ia memaksa bibirnya membentuk sesuatu yang nyaris senyum, “berarti kita ada yang mau diomongin sambil nunggu, ya, Pak.”