Sudibyo tidak menggigit umpan pertama. Ia hanya menatap Anjani dengan ekspresi orang yang memutuskan untuk tidak terhibur. Tapi Anjani tahu sesuatu tentang menunggu yang tidak diketahui pria berdasi itu. Ia tahu bahwa diam adalah ruang yang harus diisi seseorang, dan orang yang lebih takut akan mengisinya lebih dulu. Ayahnya dulu bilang begitu tentang menawar harga sparepart di pasar loak. Yang ngomong duluan kalah.
Jadi Anjani diam, dan membiarkan gelombang keempat lewat, dan setelah itu berkata dengan suara yang sengaja ia jaga tetap datar, “Pak Hadi nulis surat sebelum mati.”
Kursi lipat itu berderit pelan. Cuma sedikit. Tapi Anjani melihatnya.
“Makanya aku ada di sini,” lanjutnya. “Makanya aku tahu tentang gardu pengunci. Dia nulis semuanya, Pak. Nama Bapak. Skripnya. Cara nahannya.” Ia menarik napas yang terasa seperti menelan bara. “Bapak kira dia mati bawa rahasia Bapak. Nggak. Dia ninggalin di laci buat aku.”
Sudibyo tertawa, pendek dan kering. “Selembar surat dari orang mati yang sudah jadi tersangka utama sabotase. Itu yang kamu punya?” Ia menggeleng. “Kamu nggak ngerti cara kerja dunia, ya, Nak. Kertas dari penjahat yang sudah meninggal nggak bisa nyentuh siapa-siapa. Apalagi orang yang tanda tangannya ada di proyek ratusan miliar.”
“Mungkin,” kata Anjani. “Tapi Bapak datang ke sini sendiri. Malam ini. Pakai setelan rapi, bawa tim keamanan, ke gardu yang harusnya cuma teknisi yang ngerti.” Ia memaksa matanya tetap pada wajah pria itu. “Kalau Bapak yakin nggak ada yang bisa nyentuh Bapak, kenapa nggak nunggu di kantor aja, minum kopi, nunggu laporan kota udah gelap? Kenapa repot turun ke lubang gardu jam segini?”
Untuk sesaat Sudibyo tidak menjawab, dan dalam keheningan itu Anjani melihat sesuatu yang ia butuhkan: keraguan. Pria itu turun ke sini karena rencananya tidak berjalan, dan rencananya tidak berjalan karena dirinya tertahan, dan tertahannya kota oleh satu tubuh yang seharusnya tidak ada dalam perhitungannya adalah variabel yang tidak ia kuasai. Sudibyo terbiasa mengendalikan dari atas, lewat tanda tangan dan jadwal dan istilah berkode. Di sini, di kedalaman ini, kendali itu tipis.
“Kamu pikir kamu pintar,” kata Sudibyo akhirnya, dan suaranya kehilangan sedikit dari ketenangan yang tadi. “Kamu pikir ngulur waktu ada gunanya. Buat apa? Nungguin siapa? Polisi nggak datang ke gardu yang nggak ada laporannya. Atasan kamu—” ia tersenyum tipis, “mereka semua di bawah aku atau di bawah orang yang di atas aku. Nggak ada yang datang, Anjani. Cuma ada kamu, aku, dan tubuh kamu yang lagi rusak.”
Dan itulah yang Anjani butuhkan untuk ia ketahui. Bukan jawabannya—jawabannya bohong, atau setidaknya pria itu berharap begitu. Yang Anjani butuhkan adalah konfirmasi bahwa Sudibyo tidak tahu tentang Mawar di SCADA, tidak tahu tentang Lestari di luar, tidak tahu bahwa pengulurannya bukan kesia-siaan orang putus asa melainkan bagian dari rencana yang lebih besar daripada lubang gardu ini. Sudibyo mengira ia memegang seluruh papan. Ia tidak tahu separuh bidaknya sudah hilang dari pandangannya.
Gelombang kelima naik, dan kali ini lebih besar dari yang sebelumnya. Anjani merasakannya di pangkal lengannya, di tulang belikat, di tempat yang tidak seharusnya terasa apa-apa. Penglihatannya berkedip. Ia mengeratkan rahang dan mengarahkan arus, kiri ke kanan, melintasi dada bukan menembusnya, ke tanah, ke tanah, ke tanah. Ketika ia kembali, keringat menetes dari dagunya ke lantai semen.
Sudibyo memperhatikan. “Berapa lama lagi, menurutmu?” tanyanya, dan tidak ada lagi kepura-puraan kagum dalam suaranya, hanya perhitungan dingin. “Tubuh kamu. Berapa gelombang lagi sebelum jantung kamu berhenti? Karena dari sini kelihatannya nggak banyak.”
“Cukup,” kata Anjani.
“Cukup buat apa?”
Ia tidak menjawab. Ia tidak bisa menjawab, karena jawaban sebenarnya adalah cukup buat Mawar nemuin titik pembumian cadangan, cukup buat Lestari nyalain siarannya, cukup buat Bayu nyebarin data ke setiap ponsel yang masih hidup di kota yang gelap ini. Dan ia tidak akan memberi Sudibyo satu pun dari nama-nama itu. Jadi ia menyimpannya, dan menatap pria itu, dan membiarkan keheningan kembali menjadi beban yang harus ditanggung salah satu dari mereka.
Di dalam dadanya, jantungnya melewatkan satu detak. Lalu dua yang menyusul terburu. Ia mengenali ritme itu—pertanda yang sama dari latihan-latihan yang hampir membunuhnya di bengkel. Ia menutup matanya sesaat dan menarik napas pelan, panjang, memaksa ritmenya melambat seperti yang Bayu ajarkan. Sudibyo benar. Tubuhnya jam pasir, dan pasirnya sedang turun.
Tapi jam pasir hanya kalah kalau yang ditunggu tidak datang tepat waktu.
“Boleh aku tanya satu hal, Pak?” kata Anjani, membuka matanya. “Selama Bapak ngerancang semua ini. Gardu yang jatuh, pabrik yang bangkrut, lahan yang dijual murah. Bapak pernah mikir nggak, satu malam ada orang tua di rumah susun yang ventilatornya mati pas listriknya padam? Atau Bapak terlalu sibuk ngitung selisih harga tendernya?”
Sudibyo menatapnya lama. Dan untuk pertama kalinya, ada sesuatu di wajah pria itu yang bukan ketenangan dan bukan perhitungan. Sesuatu yang lebih dekat ke amarah, ke pertahanan, ke titik lemah yang Anjani cari sejak ia mulai bicara.
“Kamu nggak ngerti tekanannya,” katanya, lebih cepat dari yang ia mau. “Kota ini sudah mati dari dulu. Jaringannya bangkai. Aku cuma—” Ia berhenti, menyadari ia sudah bicara terlalu banyak, dan menutup mulutnya.
Tapi sudah terlambat. Pintu itu sudah terbuka sedikit. Anjani cuma perlu menahannya tetap terbuka, satu gelombang lagi, dan satu lagi, sampai seseorang di luar sana siap merekam apa yang akan keluar dari mulut pria itu kalau didorong cukup keras.
“Terusin, Pak,” katanya pelan. “Bapak cuma apa?”