Lima ratus meter dari gardu pengunci, di sudut gelap parkiran kosong di pinggir kawasan industri, Lestari menyalakan lampu kecil di atas kameranya dan mengarahkannya ke wajahnya sendiri.
Kota di belakangnya gelap. Bukan gelap biasa yang masih ada titik-titik lampu rumah dan reklame; gelap total, gelap yang membuat langit malam terlihat lebih banyak bintang daripada yang pernah dilihat warga Karangwetan dalam dua puluh tahun. Hanya rumah sakit di kejauhan yang masih bercahaya, kotak terang tunggal di lautan hitam, dan Lestari tahu sekarang kenapa rumah sakit itu satu-satunya yang menyala. Ia tahu siapa yang sedang berdiri di kedalaman gardu menahannya tetap hidup.
“Selamat malam, Karangwetan,” katanya ke kamera, dan suaranya bergetar sedikit sebelum ia menstabilkannya. “Kalian sedang dalam gelap. Kalian dibilang ini kegagalan kaskade gardu tua. Bencana yang nggak terhindarkan. Nasib kota yang infrastrukturnya bobrok.” Ia menarik napas. “Itu bohong. Dan malam ini saya akan tunjukkan kenapa.”
Siaran itu kecil pada awalnya. Beberapa puluh penonton yang ponselnya masih punya baterai dan masih punya sinyal data dari menara seluler yang punya genset sendiri. Tapi Bayu, di bengkel, sudah menyiapkan ini berhari-hari. Ia melempar tautan siaran itu ke setiap grup percakapan yang ia tahu—grup warga RT, grup buruh pabrik pengecoran, grup alumni teknik, grup pengemudi ojek yang malam ini menganggur karena lampu lalu lintas mati. Dan ia melampirkan, satu per satu, dokumen yang sudah berbulan-bulan mereka kumpulkan. Foto laporan pemeliharaan yang ternyata jadwal sabotase. Aliran dana dari rekening kontraktor pemenang tender. Salinan surat pengakuan Pak Hadi, dipindai, dengan tanda tangan yang dikenali siapa pun yang pernah bekerja dengan pria itu.
“Namanya Sudibyo,” kata Lestari ke kamera, dan ia mengangkat selembar dokumen ke cahaya. “Manajer perencanaan aset di perusahaan yang seharusnya menjaga listrik kalian. Setiap gardu yang jatuh, harga proyek peremajaan yang ia awasi naik. Setiap pabrik yang bangkrut karena blackout, lahannya bisa dibeli murah. Blackout kalian bukan kecelakaan. Ini bisnis. Dan kalian yang bayar dengan listrik di rumah kalian, dengan pekerjaan di pabrik kalian, dengan—” ia menelan ludah, “—dengan nyawa kalau ventilator mati.”
Di gang-gang sempit kota yang gelap, orang-orang yang tak bisa tidur karena gerah tanpa kipas angin mulai membuka ponsel mereka. Notifikasi masuk dari grup-grup. Tautan dibuka. Wajah-wajah yang dipenuhi cahaya layar muncul di kegelapan, satu per satu, di teras, di jendela, di warung yang menyalakan lampu dari aki mobil. Pesan diteruskan. Dokumen disebar. Satu menjadi sepuluh, sepuluh menjadi seratus, dan angka penonton di sudut layar Lestari mulai naik dengan kecepatan yang membuatnya, untuk sesaat, lupa pada rasa takutnya sendiri.
Bayu mengabari lewat radio. “Mbak. Penontonnya tembus dua ribu. Tiga ribu. Naik terus. Lestari udah nyebut nama Sudibyo, udah sebar dokumennya. Orang-orang udah mulai—” suaranya pecah sedikit, antara cemas dan tak percaya, “—orang-orang udah mulai keluar rumah, Mbak. Mereka ngumpul. Ada yang ke arah kantor perusahaan. Ada yang ke arah—” ia berhenti. “Ada yang nanyain, gardu pusatnya di mana.”
Di kedalaman gardu pengunci, Anjani mendengarnya lewat earpiece kecil di telinganya, dan untuk pertama kalinya sejak Sudibyo turun, ia membiarkan dirinya tersenyum. Tipis, dan dengan bibir yang pecah-pecah, tapi senyum.
Sudibyo melihatnya. “Apa yang lucu?”
“Nggak ada, Pak,” kata Anjani. “Atau mungkin ada. Tergantung Bapak masih percaya nggak ada yang datang.”
Wajah Sudibyo mengeras. Ia mengeluarkan ponselnya dari saku, dan Anjani melihat layarnya menyala di kegelapan ruang gardu. Melihat jempol pria itu bergerak, membuka sesuatu, dan kemudian melihat warna wajahnya berubah. Ia tahu persis apa yang sedang dilihat Sudibyo. Wajah Lestari. Namanya sendiri, dieja di layar untuk dilihat seluruh kota. Dokumen-dokumennya, yang ia kira terkubur, terbang dari ponsel ke ponsel seperti percikan dari kabel yang putus.
“Ini—” Sudibyo berdiri dari kursi lipatnya, dan ketenangan itu akhirnya retak, terbelah seperti isolasi yang sudah lama getas. “Ini nggak ada artinya. Spekulasi. Fitnah. Aku bisa—pengacaraku bisa—”
“Bapak bisa apa?” kata Anjani pelan. “Nyuruh medianya berhenti? Yang mana, Pak? Sekarang medianya bukan satu koran yang bisa Bapak telepon. Sekarang medianya tiga ribu ponsel di kota yang Bapak bikin gelap. Bapak nggak bisa matiin itu. Bapak udah matiin listriknya, dan ternyata orang masih bisa ngomong dalam gelap.”
Salah satu petugas keamanan menurunkan senternya, dan Anjani melihat pria itu melirik ponselnya sendiri, lalu melirik Sudibyo, lalu cepat-cepat memalingkan wajah. Retakan pertama di dinding yang tadi solid. Orang-orang yang dibayar untuk patuh mulai bertanya pada diri mereka sendiri apa sebenarnya yang sedang mereka jaga, dan untuk siapa, dan apa yang akan terjadi pada nama mereka kalau ini semua—seperti yang baru saja diteriakkan seluruh kota—benar.
“Tetap di posisi,” desis Sudibyo pada petugasnya, dan suaranya tidak lagi suara orang yang memegang seluruh papan. “Ini belum selesai.”
“Betul, Pak,” kata Anjani, sambil menahan gelombang berikutnya yang naik melalui telapaknya yang menghitam. “Belum selesai. Tapi sekarang seluruh kota nonton gimana selesainya.” Ia menatap lurus ke arah pria itu, dan untuk sesaat ia tidak merasakan rasa sakit di tubuhnya sama sekali. “Ayo, Pak. Ke kamera. Ada yang nanya, tadi Bapak mau ngomong apa. Bapak cuma apa?”