Earpiece di telinga Anjani berderak, dan suara Mawar masuk, tegang dan cepat, suara orang yang sedang menatap layar yang menunjukkan kabar buruk.
“Anjani. Dengar. Ada masalah.”
Di ruang SCADA yang remang oleh lampu darurat, Mawar memelototi peta jaringan yang tergambar di monitornya. Sebagian besar kota berwarna abu-abu—mati, tapi mati yang tertahan, mati yang tidak menyebar karena gardu pengunci memegang simpulnya. Tapi di tepi utara kota, di kawasan tempat rumah sakit berdiri, satu titik mulai berkedip merah. Lalu titik di sebelahnya. Lalu yang berikutnya.
“Kaskadenya bocor di tepi utara,” kata Mawar. “Beban yang kamu tahan di pusat, sebagiannya nyari jalan lain. Lewat jalur sekunder yang nggak kepikiran. Dan jalur itu—” ia menelan ludah, “—jalur itu yang nyuplai rumah sakit. Gensetnya jalan, tapi gensetnya cuma cukup buat unit kritis. Kalau jalur ini ikut tumbang, beban genset naik, dan genset itu nggak dirancang nanggung sebanyak itu. Dia bakal trip. Anjani, kalau gensetnya trip, ICU mati. Ventilator mati. Bukan satu orang. Banyak.”
Anjani menutup matanya. Ia tahu rumah sakit itu. Ia telah mempertaruhkan jantungnya berbulan-bulan lalu untuk menjaganya menyala. Ironi yang membuatnya hampir tertawa kalau ia masih punya napas untuk itu: malam ini ia menahan seluruh kota, dan justru satu tempat yang paling ia jaga yang terancam jatuh duluan.
“Ada dua pilihan,” kata Mawar, dan suaranya berat. “Satu. Kamu lepas sedikit tahanan kamu di pusat, kamu alirin beban itu balik ke jalur utara biar lebih ringan. Tapi kalau kamu lepas, kaskade di pusat bisa lolos. Seluruh kota jatuh. Dua—” ia berhenti.
“Dua apa,” kata Anjani.
“Dua. Kamu tahan terus di pusat, kota selamat, tapi jalur utara tumbang dan rumah sakit—” Mawar tidak menyelesaikannya.
Seluruh kota, atau rumah sakit. Anjani berdiri di antara dua titik kontak, tangan terbakar di baja dan tembaga, dan untuk sesaat ia merasakan beban pilihan itu lebih berat daripada arus yang melewati tubuhnya. Ia teringat malam ia membiarkan satu blok padam karena umpan Galih, teringat lansia yang meninggal karena alat bantu napasnya mati, teringat bahwa setiap keputusan yang ia ambil di tempat seperti ini ditimbang dengan nyawa orang yang tak tahu namanya pernah ada di mulut seseorang.
Lalu ia teringat kenapa mereka melatih Mawar berbulan-bulan. Kenapa mereka memetakan ulang seluruh jaringan. Kenapa Pak Hadi menyebut gardu pengunci dalam suratnya tapi Mawar menambahkan lapis demi lapis di atas pengetahuan itu.
“Jalur cadangan,” kata Anjani, matanya masih terpejam. “Yang kita siapin buat skenario tepi kota. Yang dari gardu selatan. Masih ada?”
Diam sesaat di earpiece. Lalu suara Mawar berubah, dan Anjani bisa mendengar harapan masuk kembali ke dalamnya. “Masih. Tapi itu butuh—itu butuh dua sakelar dibuka manual, dan satunya di luar akses aku dari sini, di panel yang—”
“Bayu,” kata Anjani ke radio, memotong. “Kamu denger?”
“Denger, Mbak.” Suara adiknya, tajam, sudah berdiri.
“Panel pembagi selatan. Yang di gardu kecil deket pasar. Yang kita survei bulan lalu. Sakelar transfernya manual. Kamu inget posisinya?”
“Inget. Tapi Mbak, itu jauh, aku—” Bayu berhenti, dan Anjani bisa mendengar adiknya menyadari sesuatu. “Ada yang lebih deket. Pak Wiryo. Teknisi tua yang rumahnya deket gardu selatan itu. Dia kenal panel itu, dulu dia yang sering benerin. Aku bisa telepon—nggak, listriknya mati, aku—grupnya, dia ada di grup warga.”
“Telepon dia lewat apa pun yang bisa,” kata Anjani. “Kasih tahu sakelar transfer mana yang harus dibuka, urutannya, jangan kebalik. Mawar bakal pandu dari datanya. Cepet, Bayu. Genset rumah sakit nggak punya waktu.”
Detik-detik berikutnya adalah yang terpanjang dalam hidup Anjani, dan ia menghabiskannya menahan gelombang yang terus datang sambil mendengar potongan-potongan suara di earpiece dan radio. Bayu menjelaskan dengan terburu. Mawar membaca posisi sakelar dari layarnya. Dan kemudian, jauh di selatan kota, di sebuah gardu kecil dekat pasar yang sudah ratusan kali ia lewati, seorang lelaki tua yang dulu hanya ingin lampu rumahnya menyala berjalan dalam gelap dengan senter ke panel pembagi, membuka penutupnya yang berkarat, dan menarik dua sakelar transfer dalam urutan yang dibisikkan padanya lewat ponsel.
Di monitor Mawar, titik-titik merah di tepi utara berhenti berkedip. Lalu, satu per satu, berubah dari merah menjadi abu-abu yang stabil—mati yang aman, mati yang tertahan, mati yang tidak menyeret rumah sakit bersamanya. Beban dari jalur utara dialihkan ke gardu selatan yang masih punya sisa kapasitas, dan genset rumah sakit, yang sudah mendekati batasnya, mendapatkan kembali ruang napasnya.
“Berhasil,” bisik Mawar, dan suaranya hampir tak terdengar. “Jalur utara stabil. Genset turun bebannya. Rumah sakit aman, Anjani. Rumah sakit aman.”
Anjani menyandarkan dahinya sesaat ke baja yang panas, membiarkan napasnya keluar, dan untuk satu detik mengizinkan dirinya merasakan sesuatu yang bukan rasa sakit. Berbulan-bulan persiapan. Peta yang mereka gambar ulang sampai jam tiga pagi. Sakelar yang mereka survei satu per satu sambil berpura-pura pemeliharaan rutin. Semua itu, malam ini, menjadi selisih antara orang-orang di balik dinding ICU yang tetap bernapas dan yang tidak.
Sudibyo mengawasinya dari kursi lipat, tidak tahu apa yang baru saja terjadi, hanya melihat perempuan terbakar itu menyandarkan kepalanya ke logam dan kemudian mengangkatnya kembali dengan sesuatu di matanya yang tidak ia mengerti.
“Kamu pikir kamu menang sesuatu,” katanya.
“Nggak menang apa-apa, Pak,” kata Anjani. Telapaknya berdenyut, jantungnya tersandung, dan ia tahu tubuhnya semakin dekat ke batasnya. “Cuma nahan rumah sakit tetep nyala. Lagi. Kayak dulu.” Ia menatap pria itu. “Bedanya, malam ini nggak ada blok yang harus aku padamin buat ngelakuinnya. Kali ini aku nggak ngambil dari siapa-siapa.”
Dan untuk pertama kalinya sepanjang malam itu, untuk pertama kalinya dalam seluruh cerita yang dimulai dari busur putih di gardu yang sama ini, ia menyadari bahwa itu benar.