Gelombang ketujuh hampir menjatuhkannya.
Anjani tidak tahu lagi berapa lama ia berdiri di sini. Waktu telah kehilangan bentuknya, melebur menjadi rangkaian denyut—naik, tahan, alir, surut, lalu naik lagi—dan tubuhnya tidak lagi membedakan satu gelombang dari yang berikutnya. Yang ia tahu hanya bahwa setiap kali arus melintasi lengannya, ia harus mengeluarkan lebih banyak dari dirinya untuk mengarahkannya, dan setiap kali ia punya lebih sedikit untuk dikeluarkan.
Lalu jantungnya melakukan hal yang selama ini paling ia takuti.
Bukan satu detak yang terlewat. Bukan dua yang terburu menyusul. Kali ini ritmenya pecah seluruhnya, berubah menjadi getaran cepat dan tak teratur yang tidak ia kenali sebagai detak sama sekali, lebih mirip dengung kabel kendur daripada denyut. Dadanya terasa seperti diisi serangga yang panik. Penglihatannya menyempit dengan cara yang berbeda kali ini, bukan ke titik cahaya melainkan ke abu-abu yang merayap dari pinggir, dan lututnya menekuk tanpa ia perintahkan.
“Bayu,” katanya, dan ia hampir tak mengenali suaranya sendiri. “Jantungku. Salah. Ritmenya salah.”
Di bengkel, Bayu menegakkan punggung dari layarnya, dan seluruh tubuhnya menjadi dingin. Ia tahu apa artinya. Ia sudah membaca tentang ini berbulan-bulan, sudah melihat sendiri kakaknya pingsan di lantai bengkel setelah pelepasan yang salah, sudah menyelamatkannya sekali dengan tangannya sendiri di dada itu. Fibrilasi. Jantung yang lupa cara berdetak bersama-sama.
“Mbak. Dengerin aku.” Ia memaksa suaranya tenang, sekuat yang ia bisa, karena ia tahu panik di suaranya akan menjalar lewat radio ke tubuh kakaknya seperti arus lewat kabel. “Kamu nggak boleh nahan terus sama besarnya. Itu yang bikin jantung kamu kacau. Bebannya konstan, kamu tegang konstan, jantung kamu nggak punya ruang buat ngatur ulang. Kamu harus kasih dia jeda.”
“Nggak bisa,” kata Anjani, dan kata-katanya mulai cadel. “Gelombangnya datang terus. Kalau aku lepas—”
“Kamu nggak lepas. Kamu atur ritmenya.” Bayu menarik kertas, pena, menggambar tanpa sadar apa yang sudah ada di kepalanya. “Inget waktu kita latihan? Kamu jangan nahan rata. Kamu alirin berdenyut. Pas gelombang naik, kamu buka penuh, kamu lewatin semua. Pas gelombang turun, dikit aja, kamu kasih jeda buat jantung kamu nyusun ulang. Ikutin gelombangnya, jangan lawan dia konstan. Kayak—” ia mencari kata yang akan menyentuh sesuatu di dalam kakaknya, “kayak ngepompa air pakai tangan. Kamu nggak narik terus. Ada dorong, ada lepas, ada dorong, ada lepas. Kalau kamu tahan terus, tangan kamu kram. Jantung kamu juga.”
Anjani mencoba memahami lewat kabut yang memenuhi kepalanya. Berdenyut. Jangan rata. Ikuti gelombangnya.
“Tarik napas pas turun,” kata Bayu, dan suaranya sekarang seperti metronom, mantap, berirama. “Buang pas naik. Tarik. Buang. Aku ada di sini, Mbak. Aku liat datanya. Aku bakal kasih tahu kapan gelombang berikut datang. Sekarang turun—tarik napas—pelan—”
Anjani menarik napas. Pelan. Ia membiarkan tahanannya melonggar sedikit, hanya sedikit, di celah antara gelombang, dan untuk pertama kalinya dalam entah berapa menit ia memberi jantungnya ruang. Getaran panik di dadanya tidak berhenti, tapi melambat. Sedikit.
“Naik datang,” kata Bayu. “Buka. Lewatin semua. Sekarang.”
Ia membuka. Arus mengalir deras melalui lengannya ke tanah, dan ia tidak menahannya, tidak menegang melawannya, hanya membiarkannya lewat seperti membuka pintu air. Lalu gelombang surut, dan Bayu berkata turun, dan ia menarik napas lagi, dan jeda itu datang lagi, dan jantungnya mendapat satu kesempatan kecil lagi untuk mengingat caranya berdetak.
Naik. Buang. Buka. Lewatin. Turun. Tarik. Jeda.
Mereka melakukannya bersama-sama lewat radio, adik dan kakak, satu di kedalaman gardu dengan tubuh yang terbakar, satu di bengkel ayah mereka dengan mata terpaku pada angka-angka yang menggambarkan setiap detak jantung saudaranya. Bayu menjadi metronom hidup, membaca gelombang dari data sebelum tubuh Anjani merasakannya, memberinya satu detik kesiapan yang berarti selisih antara mengalir dan tersandung. Pengetahuan teknis yang dulu cuma coretan di kertas bengkel sekarang menjadi tali yang menahan kakaknya tidak jatuh ke jurang.
Dan perlahan—Anjani tidak tahu kapan tepatnya—getaran liar di dadanya mengeras kembali menjadi sesuatu yang menyerupai detak. Tidak kuat. Tidak teratur sempurna. Tapi detak. Satu, lalu jeda, lalu satu lagi. Ritme yang ia kenal sebagai hidup.
“Balik,” bisik Bayu, dan ia bisa mendengar adiknya menahan tangis. “Ritme kamu balik, Mbak. Masih tipis, tapi balik. Kamu nggak jadi—” ia tak menyelesaikannya. “Kamu masih di sini.”
Sudibyo, dari kursinya, telah menyaksikan seluruhnya tanpa mengerti—seorang perempuan yang nyaris ambruk, yang lalu mulai bernapas dengan ritme aneh yang berirama, yang matanya yang tadi kosong perlahan kembali fokus. Ia tidak tahu bahwa ia baru saja menyaksikan seseorang ditarik kembali dari ambang kematian oleh suara di telinganya. Ia hanya tahu bahwa tubuh yang ia harap menyerah barusan menolak menyerah.
“Kamu masih hidup,” katanya, dan ada kemarahan di dalamnya, kemarahan orang yang jam pasirnya menolak habis.
“Masih, Pak,” kata Anjani, napasnya berirama sekarang, denyut yang dipompa dan dilepas. “Ternyata aku punya adik yang lebih pinter dari Bapak.” Ia menegakkan tubuhnya sedikit, telapaknya tetap di baja, jantungnya berdetak satu per satu dalam ritme yang ia bagi dengan seseorang yang ia cintai. “Kita lanjut, Pak. Aku belum capek. Kota juga belum nyerah.”