Earpiece Anjani memberinya gambaran yang tidak bisa dilihat Sudibyo, dan ia memutuskan untuk menggunakannya.
“Penontonnya lima belas ribu, Pak,” katanya, mengutip angka yang baru saja dibisikkan Bayu. “Dokumen Bapak udah nyebar ke grup-grup wartawan di luar kota. Ada yang mulai datang ke kantor pusat. Dan ada—” ia berhenti sejenak untuk efek, “ada yang mulai datang ke sini. Ke gardu pusat. Orang-orang. Mereka mau lihat sendiri.”
Ia tidak tahu pasti apakah yang terakhir itu benar. Tapi ia melihat efeknya di wajah Sudibyo, dan itu cukup.
Pria itu telah berdiri dari kursi lipatnya beberapa waktu lalu dan kini mondar-mandir di ruang sempit gardu, ponsel di tangan, layar yang terus ia periksa lalu ia palingkan seakan berharap angka di sana akan berubah kalau ia tidak melihatnya. Setelan abu-abunya kusut sekarang. Keringat membuat kerah kemejanya gelap. Ketenangan yang ia bawa turun ke sini—ketenangan orang yang terbiasa menang dengan tanda tangan dan jadwal—telah menguap, dan yang tersisa adalah sesuatu yang lebih kasar, lebih telanjang, lebih berbahaya.
Karena orang yang panik, Anjani tahu, melakukan hal yang tidak masuk akal.
“Matikan siarannya,” kata Sudibyo, tapi tidak pada siapa-siapa, atau pada semua orang. Salah satu petugas keamanan menatapnya dengan ekspresi kosong yang berarti aku tidak tahu caranya dan aku tidak yakin aku mau. “Aku bilang matikan! Cari pemancarnya, cari—” Ia berhenti, menyadari betapa konyolnya itu. Tidak ada satu pemancar. Ada lima belas ribu.
Matanya jatuh ke panel kendali di dinding gardu.
Anjani melihat pikiran itu terbentuk di wajahnya sebelum ia bergerak, dan ia merasakan dingin yang lebih dalam dari rasa sakit di tubuhnya. Sudibyo menyeberangi ruang menuju panel, menuju deretan sakelar dan tombol yang mengatur proteksi gardu pengunci—satu-satunya hal yang masih berdiri di antara kota dan kegelapan total, satu-satunya simpul yang ditopang oleh tubuh Anjani.
“Pak,” kata Anjani, tajam. “Jangan disentuh.”
“Kalau semuanya gelap,” kata Sudibyo, dan suaranya sekarang memiliki kualitas berbahaya orang yang sudah memutuskan untuk membakar segalanya daripada kalah, “kalau seluruh kota benar-benar gelap, siaran itu mati. Ponsel mati. Menara seluler kehabisan genset dalam beberapa jam. Dan apa yang tersisa? Kekacauan. Kerusuhan. Dan besok pagi, ketika listrik balik, yang orang ingat cuma satu malam mengerikan ketika gardu tua kota akhirnya jatuh. Persis ceritaku.” Tangannya menggantung di atas sakelar proteksi. “Aku cuma perlu menjatuhkan gardu ini sendiri. Kamu pegang jalurnya. Aku putus proteksinya secara manual. Kamu nggak akan bisa nahan dua-duanya.”
“Bapak nggak ngerti apa yang Bapak pegang,” kata Anjani, dan ia berusaha keras menjaga suaranya tetap stabil meski jantungnya kembali tersandung di balik tulang dadanya. “Bapak putus proteksi itu sekarang, beban yang lagi aku lewatin ke tanah bakal lonjak dua kali lipat dalam sedetik. Aku bisa kebakar. Mungkin mati. Tapi Bapak juga—Pak, Bapak berdiri tiga meter dari batang tembaga bertegangan. Bapak nggak pakai isolasi. Bapak bahkan nggak ngerti arah arusnya bakal lewat mana.”
Sudibyo ragu. Tangannya bergetar di atas sakelar.
“Dan satu lagi,” kata Anjani, lebih pelan. “Bapak liat lampu kecil di kameranya Lestari tadi? Yang nyala merah?” Ia melirik ke arah lorong, ke arah pintu samping gardu yang sedikit terbuka. “Ada yang ngerekam dari tadi, Pak. Bukan cuma di luar. Di sini. Apa pun yang Bapak lakuin ke panel itu, ke aku, ada yang lihat. Bapak udah ketahuan ngerancangnya. Sekarang Bapak mau ketahuan ngelakuinnya, langsung, dengan tangan Bapak sendiri, di depan saksi?”
Itu gertakan—tidak ada kamera di lorong, hanya kegelapan—tapi Anjani melemparkannya dengan seluruh keyakinan yang masih ia miliki, dan ia melihat keraguan menyebar di wajah Sudibyo seperti retak di kaca. Pria itu menoleh ke arah lorong, ke arah pintu samping, mencari lampu merah kecil di kegelapan yang tidak ada di sana tapi yang kini ia takuti ada.
Dan dalam keraguan itu, salah satu petugas keamanannya akhirnya bicara.
“Pak,” kata pria itu, suaranya rendah, hati-hati, suara orang yang baru saja menghitung ulang seluruh masa depannya. “Saya rasa kita—saya rasa saya nggak mau ada di dekat panel itu kalau Bapak—” Ia mundur selangkah. Lalu petugas di sebelahnya mundur juga.
“Berdiri di tempat kalian!” teriak Sudibyo, dan suaranya pecah, dan dalam pecahan itu seluruh kewibawaan yang dibangun bertahun-tahun di ruang rapat berber-AC runtuh menjadi seorang lelaki paruh baya yang berkeringat dan ketakutan di lubang gardu, mengancam orang-orang yang tidak lagi takut padanya.
Anjani menatapnya, tangan terbakar di baja, jantung tersandung tapi masih berdetak, dan untuk pertama kalinya ia melihat Sudibyo bukan sebagai sosok di atas yang tak tersentuh, melainkan sebagai apa yang selalu ia ketahui tapi tak pernah ia lihat: seorang manusia kecil yang ketakutan, yang menjual sebuah kota demi selisih angka, dan yang sekarang tidak punya tempat untuk lari.
“Bapak udah kalah,” kata Anjani pelan. “Tinggal Bapak yang belum sadar.”