Sudibyo tidak menyentuh panel proteksi gardu pengunci. Tapi ia tidak menyerah, dan keputusasaan menemukan jalan lain.
“Kamu,” katanya, menunjuk petugas yang tadi mundur, yang ternyata punya seragam sedikit berbeda dari yang lain—bukan keamanan biasa, tapi seseorang dengan lambang kontraktor di dadanya, teknisi yang dibawa Sudibyo sebagai cadangan. “Kamu teknisi. Panel pembagi cadangan, yang di ujung lorong. Yang nyuplai ulang kalau pusat tumbang. Putus.”
Teknisi itu menatapnya. “Pak, kalau saya putus itu—”
“Aku bayar kamu buat ngerjain, bukan buat mikir,” desis Sudibyo. “Putus panel cadangan. Sekarang. Kalau gardu pusat sama cadangannya dua-duanya jatuh, dia nggak bisa nahan dua tempat sekaligus. Selesai.”
Anjani mendengar itu dan langsung mengerti bahayanya. Panel pembagi cadangan di ujung lorong adalah simpul kedua—bukan yang ia tahan sekarang, tapi yang menjadi katup pengaman kalau gardu pengunci goyah. Selama ini ia hanya perlu menjaga satu titik. Kalau teknisi itu memutus panel cadangan, beban akan mencari jalan baru, dan ia harus menahan dua aliran sekaligus dari satu tubuh yang kapasitasnya sudah nyaris kosong.
“Mawar,” katanya cepat ke earpiece. “Panel pembagi cadangan, ujung lorong. Ada yang mau diputus dari sini, manual. Bisa kamu kunci dari SCADA?”
Di ruang kendali, jari Mawar sudah terbang di papan ketik. “Bisa coba. Tapi aksesnya—akses ke panel itu masih lewat user-nya Sudibyo. Kalau aku kunci dari sini, dia bisa buka paksa dari fisiknya. Ini bakal jadi rebutan, Anjani. Aku kunci, dia buka, aku kunci lagi.”
“Kunci aja,” kata Anjani. “Beli aku waktu sedetik per kali.”
Teknisi kontraktor itu sudah bergerak ke ujung lorong, ke panel cadangan, ragu tapi patuh karena uang dan ketakutan adalah dua tali yang sudah mengikatnya jauh sebelum malam ini. Anjani mendengar penutup panel dibuka. Mendengar gerakan. Lalu mendengar suara teknisi itu, bingung: “Terkunci. Sistemnya nolak.”
“Paksa!” teriak Sudibyo.
Dan begitulah pertarungan kedua dimulai, pertarungan yang tidak terlihat oleh siapa pun di ruang gardu itu kecuali Anjani yang bisa membaca arus. Di ujung lorong, teknisi kontraktor memaksa sistem membuka kunci panel cadangan. Di ruang SCADA, Mawar mengunci ulang setiap kali ia membukanya, jarinya menari di papan ketik melawan akses yang dicuri dengan nama Sudibyo. Buka. Kunci. Buka. Kunci. Dua tangan manusia bertarung lewat kabel, dan di tengah-tengahnya, beban kota mencari celah setiap kali kunci terbuka sepersekian detik.
Anjani merasakan setiap celah itu di tubuhnya. Setiap kali panel cadangan terbuka sesaat, seberkas beban lolos dan mencari jalan, dan jalan terdekat adalah dirinya. Ia harus menahan jalur pusat dengan tangan kirinya seperti sebelumnya, dan sekaligus, lewat tubuhnya, menangkap dan mengarahkan lonjakan kecil yang lolos dari panel cadangan ke pembumian yang sama. Dua aliran. Satu tubuh. Kapasitas yang hampir habis.
“Bayu,” ia tersengal, “itung aku. Ritmenya jadi nggak teratur. Dua sumber.”
“Aku liat,” kata Bayu, dan suaranya tegang tapi mantap. “Dengerin. Kamu nggak bisa nahan dua-duanya berdenyut barengan. Beda fasenya. Kamu harus—Mbak, kamu harus satuin mereka. Jangan tahan dua jalur kecil. Buka penuh, biarin dua-duanya numpuk lewat kamu sekaligus, sekali, jadi satu aliran gede ke tanah. Sekali dorong gede, bukan dua dorong kecil. Kamu cuma punya tenaga buat satu lonjakan besar lagi. Pakai sekarang.”
Satu lonjakan besar lagi. Anjani tahu apa artinya itu. Itu artinya mengosongkan apa pun yang masih tersisa di dalam dirinya dalam satu pelepasan, mengubah tubuhnya untuk satu detik dari got menjadi air bah, membiarkan seluruh beban dari kedua sumber melintas sekaligus dan keluar ke tanah dalam satu gelombang yang akan membakar setiap saraf di lengannya. Itu pertaruhan yang sama yang nyaris membunuhnya di malam pertama, hanya saja kali ini ia memilihnya dengan sadar.
“Mawar,” katanya. “Pas aku bilang, lepas kuncimu. Biarin panel cadangannya kebuka penuh sedetik. Aku mau dua-duanya lewat aku sekaligus.”
“Kamu yakin?”
“Nggak,” kata Anjani jujur. “Tapi nggak ada pilihan lain. Bayu, itung mundur.”
“Tiga,” kata Bayu, dan ia bisa mendengar adiknya berdoa di antara angka. “Dua. Satu. Sekarang, Mbak. Buka penuh. Lepas semua.”
Mawar melepas kuncinya. Teknisi kontraktor, yang sedang menekan, merasakan panel akhirnya menyerah dan terbuka penuh. Dan dalam sepersekian detik itu, seluruh beban dari kedua sumber menyerbu ke dalam tubuh Anjani sekaligus.
Ia membuka dirinya untuk itu. Tidak menahan, tidak menyimpan, hanya menjadi jalan—jalan yang paling lebar, paling pendek, paling lapang yang bisa ia buat dari pangkal lengan kiri ke ujung tembaga yang menghunjam ke tanah Karangwetan. Arus melintasi tubuhnya dengan besaran yang membuat seluruh dunia menjadi putih dan menderu. Ia merasakan kulit di telapaknya pecah. Ia merasakan jantungnya berhenti—berhenti penuh, untuk satu detak, dua—dan ia mendengar Bayu meneriakkan namanya dari kejauhan yang terdengar seperti dasar sumur.
Lalu arus itu lewat. Keluar ke tanah. Habis.
Dan jantungnya, dengan satu sentakan yang terasa seperti ditampar dari dalam, mulai berdetak lagi.
Anjani jatuh berlutut, satu tangan masih menggenggam baja, satu lagi mencengkeram dadanya, napasnya berderak. Tapi panel cadangan, yang terbuka penuh sesaat lalu menyalurkan seluruh isinya lewat tubuhnya ke tanah, kini kosong—bebannya sudah habis dilewatkan, tidak ada lagi yang tersisa untuk dijatuhkan. Mawar mengunci ulang ke sistem yang sekarang tidak melawan. Teknisi kontraktor mundur dari panel yang tak lagi berarti apa-apa, menatap tangannya sendiri.
“Selesai, Pak,” kata Anjani, terengah, dari lantai. “Cadangannya udah aku kosongin. Nggak ada lagi yang bisa Bapak jatuhin.”
Sudibyo menatapnya, dan untuk pertama kalinya, ia tidak punya apa-apa lagi untuk diperintahkan.