Pintu samping gardu yang sedikit terbuka itu mengayun lebih lebar, dan sosok Lestari melangkah masuk ke dalam cahaya lampu darurat, kamera di tangan, lampu merah kecil di atasnya menyala benar-benar kali ini.
Anjani tidak tahu Lestari telah sedekat ini. Tapi ia mengerti sekarang kenapa Bayu terus mengoceh tentang penonton: Lestari telah meninggalkan parkiran, mendekati gardu mengikuti suara, dan ketika ia mendengar dari earpiece bersama bahwa Sudibyo ada di dalam, ia melakukan satu-satunya hal yang naluri jurnalisnya tahu harus dilakukan. Ia masuk. Dan ia menyiarkan.
“Pak Sudibyo,” katanya, suaranya bergetar tapi tidak mundur, kamera terangkat. “Anda sedang disiarkan langsung. Dua puluh ribu orang menonton. Apa yang Anda lakukan di gardu ini malam ini?”
Sudibyo berputar ke arah cahaya, dan untuk sesaat ia membeku seperti hewan yang tertangkap lampu mobil. Kameranya. Lampu merahnya. Hal yang tadi cuma gertakan Anjani sekarang nyata, dan dalam keterkejutan itu seluruh perhitungan dingin yang menopangnya bertahun-tahun terurai sekaligus.
“Matikan itu,” katanya, melangkah ke arah Lestari, tapi salah satu petugas keamanan—petugas yang tadi mundur—bergerak, bukan untuk membantu Sudibyo, melainkan untuk berdiri di antara pria itu dan jurnalis. Pesan yang tak terucap: cukup. Kami tidak ikut sejauh ini.
Dan Sudibyo, terjepit antara kamera dan petugasnya sendiri yang membelot, antara perempuan terbakar di lantai yang menolak mati dan kota di luar yang sedang meneriakkan namanya, akhirnya retak sepenuhnya.
“Kalian semua nggak ngerti,” katanya, dan suaranya naik, terlepas dari kendali, terlepas dari kehati-hatian yang menjadi seninya seumur hidup. “Kota ini sudah mati dari dua puluh tahun lalu! Jaringannya bangkai, gardunya peninggalan zaman batu, dan nggak ada yang mau bayar buat benerin sampai ada bencana! Aku tahu cara kerja anggaran! Selama lampu masih nyala, nggak ada satu rupiah pun cair buat peremajaan. Harus ada yang jatuh dulu. Harus ada yang rusak dulu. Baru uang datang.”
“Jadi Bapak yang bikin jatuh,” kata Anjani dari lantai, pelan, hanya untuk mendorong pintu itu lebih lebar.
“Aku mempercepat apa yang toh bakal terjadi sendiri!” Sudibyo berputar ke arahnya, mata melebar, jari menunjuk. “Gardu-gardu itu bakal jatuh dalam lima tahun, sepuluh tahun, satu per satu, pelan, sampai kota ini ngesot mati. Aku cuma—aku mempercepat. Aku menjadwalkannya. Supaya uangnya cair sekarang, supaya peremajaannya jalan, supaya—”
“Supaya tendernya jatuh ke kontraktor Bapak,” kata Anjani. “Supaya lahan pabrik yang bangkrut bisa Bapak beli murah. Supaya selisihnya masuk kantong Bapak dan orang-orang di atas Bapak.”
“Iya!” teriak Sudibyo, dan kata itu menggema di ruang gardu yang sempit, dan di dua puluh ribu layar di seluruh kota yang gelap, kata itu didengar. “Iya, dan apa salahnya? Siapa yang dirugikan? Kota dapat jaringan baru! Aku dapat bagianku! Itu cara dunia bekerja! Kalian pikir ada satu proyek di negara ini yang bersih? Kalian pikir—”
Ia berhenti. Ia melihat lampu merah di kamera Lestari. Ia melihat wajah petugas-petugasnya. Ia melihat, mungkin untuk pertama kalinya, apa yang baru saja keluar dari mulutnya dan ke mana ia pergi. Dan seluruh warna meninggalkan wajahnya.
“Siapa yang dirugikan,” ulang Anjani dari lantai, dan ia mendorong tubuhnya untuk berdiri, satu tangan masih di baja, lutut gemetar. “Bapak nanya siapa yang dirugikan.” Ia menegakkan punggungnya dengan susah payah dan menatap pria itu. “Pak Hadi. Yang Bapak peras pakai utang istrinya yang sakit sampai dia jadi tangan Bapak, terus Bapak bunuh waktu dia mau ngaku. Pak Wiryo, yang cuma pengen lampu rumahnya nyala. Buruh pengecoran yang nganggur waktu pabriknya bangkrut. Orang tua di rumah susun yang ventilatornya mati. Reza, yang Bapak penjarakan buat nutupin jejak Bapak.” Suaranya pecah, tapi ia melanjutkan. “Dan kota yang Bapak bikin gelap malam ini, yang harusnya tidur aman, sekarang lagi ngeliat siapa Bapak sebenarnya. Itu siapa yang dirugikan, Pak. Semua orang yang bukan Bapak.”
Ruang gardu itu hening kecuali dengung lampu darurat dan napas Anjani yang berderak. Sudibyo berdiri di tengahnya, terekam, terbongkar, dikepung oleh kebenaran yang baru saja ia ucapkan sendiri dengan mulutnya. Tidak ada lagi istilah berkode. Tidak ada lagi jadwal pemeliharaan yang sebenarnya jadwal sabotase. Hanya seorang lelaki yang telah mengakui, di depan dua puluh ribu saksi, bahwa ia memadamkan sebuah kota demi selisih angka.
Lestari menjaga kameranya tetap mengarah ke pria itu, tangannya mantap sekarang, suaranya pelan ketika ia berkata, lebih ke penonton daripada ke siapa pun di ruangan: “Kalian baru saja mendengarnya sendiri. Dari mulutnya sendiri.”
Dan di luar, di seluruh Karangwetan yang gelap, di gang-gang dan teras dan warung yang diterangi aki mobil, kota yang selama bertahun-tahun diberi tahu bahwa blackout-nya adalah nasib akhirnya mendengar kebenarannya, dan mulai bergerak.