Suara pertama yang Anjani dengar dari luar bukan sirene. Itu suara orang banyak.
Gumaman rendah yang awalnya ia kira dengung di telinganya sendiri, lalu mengeras menjadi sesuatu yang tak salah lagi: kerumunan. Langkah kaki di aspal, suara-suara yang saling memanggil, gemerincing pagar yang digoyang. Bayu telah benar tentang yang tadi ia kira gertakan—orang-orang memang datang ke gardu pusat, mengikuti siaran Lestari, ingin melihat sendiri tempat di mana kota mereka ditahan tetap setengah hidup dan tempat di mana orang yang memadamkannya akhirnya tersudut.
“Anjani,” kata Bayu lewat radio, dan untuk pertama kalinya semalaman ada sesuatu yang menyerupai lega di suaranya. “Ada mobil masuk. Banyak. Aku liat dari kamera lalu lintas yang masih nyala pakai genset. Polisi. Beneran polisi, Mbak, bukan keamanan perusahaan. Dan ada satu mobil lagi—plat pemerintah. Pengawas. Lestari bilang pengawas independen dari pusat, yang udah lama mau masuk tapi selalu dihalangin. Siarannya maksa mereka. Mereka nggak bisa pura-pura nggak tahu lagi.”
Sudibyo mendengarnya juga—atau setidaknya ia mendengar kerumunan, dan ia bisa membaca sisanya dari wajah Anjani. Ia mundur ke sudut ruang gardu, ponsel terlupakan di tangannya, dan untuk sesaat Anjani hampir merasa sesuatu yang menyerupai kasihan. Seorang lelaki yang seumur hidup berdiri di atas, di ruang ber-AC, di balik tanda tangan, sekarang terpojok di lubang gardu yang berbau tembaga panas dan kulit hangus, ditunggu oleh kota yang ia jual.
Hampir kasihan. Tapi Anjani teringat pola luka di tubuh Pak Hadi yang dilaporkan sebagai kecelakaan, dan rasa kasihan itu padam.
Petugas keamanan yang tadi membelot membuka pintu lorong, dan cahaya senter yang lebih banyak menyapu masuk—senter polisi, tajam dan resmi, diikuti sosok-sosok berseragam yang turun ke ruang gardu dengan kehati-hatian orang yang tahu mereka memasuki tempat berbahaya tapi tidak tahu seberapa.
“Semua diam di tempat,” kata yang paling depan, seorang perwira dengan suara yang terbiasa dipatuhi. Matanya menyapu ruangan—Sudibyo di sudut, para petugas keamanan yang mengangkat tangan, Lestari dengan kameranya yang masih merekam, dan kemudian berhenti pada Anjani. Pada perempuan dengan telapak menghitam menempel di baja gardu, wajah pucat keringat, tubuh yang nyaris tak bisa berdiri tapi tetap berdiri.
“Jangan sentuh saya,” kata Anjani cepat, sebelum siapa pun mendekat. “Tolong. Jangan sentuh saya, dan jangan tarik saya dari panel ini.” Ia melihat kebingungan di wajah perwira itu dan memaksa otaknya yang lelah menyusun penjelasan yang bisa dipercaya. “Saya teknisi pemeliharaan. Saya lagi menahan gardu pengunci ini supaya kota nggak mati total. Ada sabotase di sistem. Kalau saya lepas sekarang, sebelum operator memulihkan proteksinya satu per satu, kaskadenya jalan lagi. Saya butuh waktu. Saya butuh ruang kendali memulihkan jaringan dulu.”
Perwira itu menatapnya, lalu menatap deretan indikator di panel—sebagian besar gelap atau merah, satu di tengah menyala hijau, stabil, di bawah tangan perempuan yang terbakar itu. Ia tidak mengerti listrik. Tapi ia mengerti bahwa sesuatu yang penting sedang ditahan oleh orang ini, dan ia mengerti dari kerumunan di luar dan siaran yang masih merekam bahwa kesalahan apa pun yang ia buat di sini akan dilihat seluruh negeri.
“Mana yang Sudibyo,” katanya akhirnya.
Lestari mengarahkan kameranya ke sudut, dan tidak perlu lebih dari itu. Dua petugas bergerak ke arah pria yang meringkuk di sana. Sudibyo tidak melawan; perlawanan butuh keyakinan bahwa masih ada yang bisa diselamatkan, dan keyakinan itu telah meninggalkannya bersama setiap kata yang ia teriakkan ke kamera beberapa menit lalu. Ia hanya berdiri ketika tangan menyentuh lengannya, menatap lantai, seorang lelaki yang seluruh strukturnya runtuh dan menyisakan sesuatu yang sangat kecil.
Teknisi kontraktor itu diborgol juga, masih menatap tangannya seakan tak percaya pada apa yang nyaris ia lakukan dengannya.
Pengawas independen turun berikutnya, seorang perempuan setengah baya dengan map dan tampang skeptis, dan ia langsung pergi ke panel kendali, membaca indikator, lalu menatap Anjani dengan pertanyaan teknis yang akhirnya—akhirnya—diajukan oleh seseorang yang berwenang dan mau mendengar jawabannya. “Berapa lama jaringan ini bisa kamu tahan?”
“Nggak lama,” kata Anjani jujur. Tubuhnya bergetar. Jantungnya, di balik tulang dadanya, tersandung dan menangkap dirinya sendiri, tersandung lagi. “Ruang kendali harus mulai mulihin proteksi sekarang. Gardu per gardu. Begitu cukup banyak yang nyala lagi, beban yang aku tahan punya tempat lain buat lewat, dan aku bisa lepas. Tapi kalau dipulihin terlalu cepet atau urutannya salah, semua lonjak balik sekaligus. Harus ada yang manduin. Operatornya namanya Mawar. Dia di SCADA. Dia tahu urutannya.”
Pengawas itu mengangguk, dan untuk pertama kalinya semalaman, ada orang berwenang yang memberi perintah yang benar. “Hubungkan saya dengan ruang kendali,” katanya ke timnya. “Sekarang.”
Sudibyo digiring keluar, melewati Anjani, dan untuk sesaat matanya bertemu mata perempuan yang menggagalkannya. Ia membuka mulut seakan hendak mengatakan sesuatu—kebencian, mungkin, atau pembelaan, atau pertanyaan tentang bagaimana semua ini bisa runtuh karena seorang teknisi pemeliharaan. Tapi tidak ada yang keluar. Kerumunan di luar melihatnya muncul dalam borgol, dan suara mereka naik, bukan tepuk tangan, melainkan sesuatu yang lebih dalam dan lebih lelah—suara kota yang akhirnya melihat wajah dari kegelapannya.
Anjani tetap di gardu, tangan di baja, jantung di ambang. Penegakan hukum telah tiba. Sudibyo telah jatuh. Tapi di luar, kota masih gelap, dan beban yang ia tahan masih menumpuk di ujung lengannya, dan ia tahu bagian tersulit malam ini—bagian yang tidak punya saksi dramatis, hanya tubuh dan arus dan tanah—belum datang.
“Mawar,” ia berbisik ke earpiece. “Mereka udah nangkep Sudibyo. Sekarang giliran kita. Siap mulihin kota?”