“Siap,” kata Mawar, tapi Anjani mendengar sesuatu di suaranya yang membuat dadanya mengerut, dan itu bukan kelegaan.
“Anjani. Ada masalah, dan ini—ini yang paling besar dari semua malam ini.” Di ruang SCADA, Mawar menatap peta jaringan yang baru bisa ia akses penuh setelah Sudibyo ditangkap dan otoritasnya dicabut. Dan apa yang ia lihat membuatnya dingin. “Selama berjam-jam ini, seluruh beban kota ketahan. Gardu mati, tapi mati yang tertahan, karena kamu pegang simpulnya. Itu bagus. Tapi artinya semua beban itu—listrik yang harusnya ngalir ke ribuan rumah, pabrik, jalan—numpuk. Nunggu. Ketunda. Dan begitu kita mulai mulihin proteksi, begitu gardu-gardu nyala lagi, semua beban yang ketunda itu bakal nyerbu balik sekaligus. Jaringannya udah goyah parah. Kalau beban itu masuk semua dalam satu gelombang, dia bakal ngerusak gardu-gardu yang baru nyala, dan kaskadenya jalan lagi—kali ini beneran, dan nggak ada skrip yang bisa kita salahin. Cuma fisika.”
Anjani menutup matanya. Tentu saja. Tentu saja malam ini tidak akan selesai dengan penangkapan. Listrik tidak peduli siapa yang diborgol. Beban tetaplah beban, dan beban yang ditahan terlalu lama menjadi bendungan, dan bendungan harus dialirkan dengan hati-hati atau ia menjebol segalanya.
“Berapa besar,” katanya. “Gelombang baliknya. Dibanding yang udah aku tahan semalem.”
Diam sesaat. Lalu Mawar, dan suaranya hampir tak terdengar: “Lebih besar. Jauh lebih besar. Ini bukan satu gelombang dari skrip. Ini seluruh beban kota yang ketunda berjam-jam, dilepas pas gardu mulai nyala. Anjani, ini—ini yang paling gede yang bakal kamu hadapin.”
Ia teringat malam pertama. Busur putih di gardu yang sama ini, yang seharusnya membunuhnya. Ia teringat seluruh perjalanan dari sana ke sini—ketakutan pada tangannya sendiri, blok-blok yang ia padamkan, orang-orang yang membencinya sebagai hantu, latihan yang nyaris membunuhnya, Pak Hadi, Reza, Galih, Bayu yang memergokinya, Mawar yang merelakan kariernya. Semuanya, seluruh berbulan-bulan ini, mengerucut ke satu titik yang sama tempat ia berdiri sekarang. Lingkaran yang menutup. Hanya saja kali ini ia tahu apa yang ia hadapi, dan kali ini ia memilihnya.
“Bayu,” katanya ke radio.
“Aku di sini, Mbak.”
“Kamu denger Mawar?”
“Denger.” Suara adiknya gemetar. “Mbak, jangan. Tubuh kamu udah hampir habis. Jantung kamu udah fibrilasi sekali malem ini. Kalau kamu lepas sebesar itu—”
“Kalau aku nggak lepas, semua yang kita lakuin malem ini sia-sia,” kata Anjani pelan. “Sudibyo ketangkep, kota tetep ancur. Rumah sakit yang tadi kita selametin tetep mati waktu gardu-gardu jebol balik. Semua yang kita tahan, lepas percuma.” Ia menelan ludah. “Kita udah sampe sini, Bayu. Tinggal satu. Beban terakhir.”
Ia mengatur posisinya. Tangan kiri di baja, jalur masuk dari jaringan. Tangan kanan di tembaga, jalur ke tanah, ke kedalaman Karangwetan, ke tempat di mana arus pada akhirnya selalu ingin pulang. Di antara keduanya, tubuhnya. Got. Jembatan. Jalan.
“Mawar,” katanya. “Mulai pulihin proteksinya. Pelan. Gardu per gardu, urutan yang udah kita peta. Tiap gardu yang nyala, bebannya bakal nyari aku duluan sebelum nemu jalannya sendiri. Aku lewatin ke tanah, satu-satu, sampai cukup banyak gardu yang berdiri buat nampung sendiri. Begitu jaringannya cukup kuat berdiri tanpa aku, baru aku lepas.”
“Anjani—”
“Bayu itung ritme jantungku. Kayak tadi. Naik, buang, buka, lewatin, turun, tarik, jeda. Kita udah pernah. Kita bisa lagi.” Ia menarik napas yang terasa seperti menelan seluruh malam. “Mulai.”
Dan Mawar mulai. Di ruang kendali, satu per satu, ia memulihkan proteksi gardu yang ditandai pertama dalam urutan mereka. Dan di kedalaman gardu pengunci, Anjani merasakannya datang—bukan satu gelombang seperti skrip, melainkan pasang yang naik dan terus naik, beban berjam-jam yang menunggu, menyerbu ke titik tempat ia berdiri, mencari jalan pulang ke tanah, dan menemukannya: dirinya.
Ia membuka. Tidak menahan, tidak menyimpan, hanya menjadi jalan yang paling lebar yang pernah ia buat. Arus melintasi tubuhnya dengan besaran yang membuat malam pertama terasa seperti percikan. Telapaknya, yang ia kira sudah tak bisa lebih sakit, menemukan tingkat baru. Dunia memutih. Jantungnya tersandung, dan Bayu meneriakkan tarik napas, dan ia menarik napas di celah antara gelombang, dan jantung itu menangkap dirinya sendiri, dan gelombang berikutnya datang.
Gardu pertama berdiri. Lalu kedua. Di tepi kota, di sebuah gang yang gelap berjam-jam, sebuah lampu teras menyala—berkedip, ragu, lalu mantap. Seorang anak yang terbangun karena gerah melihat lampu kamarnya hidup kembali. Sebuah warung menyala. Lampu lalu lintas di persimpangan yang mati berdetak kembali menjadi merah, kuning, hijau.
Dan Anjani, di kedalaman gardu yang dulu hampir membunuhnya, berdiri di antara dua titik kontak dengan seluruh kota mengalir melaluinya dan keluar ke tanah, membakar dari dalam, jantung berpacu di garis tertipis antara hidup dan mati, melepaskan—bukan memadamkan, kali ini, untuk pertama dan terakhir kalinya, menyalakan—satu gelombang demi satu gelombang, sampai kota di atasnya, blok demi blok, mulai pulang ke cahaya.