Tidak ada lagi simpanan untuk dijaga. Itu hal pertama yang Anjani sadari ketika gelombang ketiga datang, lalu keempat, dan ia berhenti menghitung. Selama berbulan-bulan ia hidup dengan satu aturan yang ia tulis sendiri di buku catatan di bengkel ayahnya: jangan pernah mengosongkan diri sampai dasar. Selalu sisakan, karena tubuh yang kosong total adalah tubuh yang tak bisa menyelamatkan dirinya sendiri kalau jantung tersandung. Ia melanggar aturan itu sekarang, dengan sengaja, satu watt demi satu watt, sampai tak ada lagi yang tersisa untuk dilanggar.
"Gardu lima berdiri," suara Mawar datang dari radio, tipis dan tegang. "Aku lanjut ke enam. Anjani, masih ada kamu?"
Ia tidak bisa menjawab. Mulutnya terasa seperti milik orang lain, rahangnya terkunci oleh arus yang melintasi tubuhnya tanpa henti. Yang bisa ia lakukan hanya mengetuk dua kali dengan jari ke baja, sinyal yang sudah mereka sepakati. Aku masih di sini. Dua ketukan logam yang nyaris tak terdengar di tengah dengung jaringan yang menyerbu pulang.
Arus itu tidak datang seperti yang ia bayangkan. Ia mengira gelombang, satu hantaman besar lalu reda. Yang ia dapat adalah pasang yang tak surut, beban berjam-jam dari seluruh kota yang menemukan jalannya kembali dan, di setiap simpang, menemukan dirinya lebih dulu. Tangan kiri di baja, jalur masuk. Tangan kanan di tembaga, jalur ke tanah. Di antara keduanya, dadanya. Dan setiap kali sebuah gardu di kota dipulihkan, beban yang tertunda di belakangnya menyembur ke titik tempat ia berdiri, mencari rute terpendek ke bumi, menemukan daging.
"Naik," suara Bayu, jernih dan rata, suara yang sengaja dibuat tenang. "Buang. Buka. Lewatin. Sekarang turun, Mbak. Tarik. Jeda."
Ia mengikuti. Tubuhnya tak lagi punya kehendak sendiri; yang ia punya hanya suara adiknya yang menghitung ritme jantungnya seperti orang menghitung ketukan mesin yang oleng, mencari titik di mana ia harus menyentak agar tidak macet. Naik. Buang. Buka. Setiap kali Bayu berkata buka, ia melebarkan dirinya, membiarkan arus lewat tanpa tahan. Setiap kali Bayu berkata jeda, ia menutup celah sepersekian detik agar jantungnya, yang tersandung di garis tertipis, bisa menangkap dirinya sendiri dan berdetak sekali lagi sebelum gelombang berikutnya tiba.
Telapaknya sudah lewat rasa sakit. Itu hal kedua yang ia sadari. Ada tingkat di mana luka bakar berhenti terasa sebagai luka dan menjadi sekadar fakta, seperti angka di multitester yang melampaui skala. Ia mencium bau dirinya sendiri, daging dan kulit dan sesuatu yang lebih dalam, bau yang sama dengan malam pertama di gardu ini, ketika busur putih seharusnya membunuhnya dan tak jadi. Lingkaran yang menutup. Hanya saja malam pertama ia tidak tahu apa yang ia hadapi. Malam ini ia tahu, dan ia berdiri di tempat yang sama, dan ia memilih untuk tetap berdiri.
"Gardu sembilan berdiri," Mawar lagi. "Sepuluh berdiri. Jaringan mulai narik beban sendiri di sektor utara. Anjani, dengar, sebagian beban udah nemu jalannya tanpa kamu. Tahan terus. Tinggal sektor barat sama jantung kota."
Sektor barat. Anjani memejamkan mata yang sudah tak melihat apa-apa selain putih. Sektor barat adalah kawasan padat, rumah-rumah yang berhimpitan, gang-gang yang ia lewati seumur hidup. Beban terbesar dari semua, ribuan rumah yang lampunya padam berjam-jam dan kini menuntut pulang serentak. Ia merasakannya naik di kejauhan, di ujung jaringan, sebuah pasang yang lebih besar dari semua yang sudah lewat.
"Mawar," ia berhasil mengeluarkan satu kata. "Barat. Lepas pelan."
"Aku tahu. Aku bagi tiga. Sabar."
Gelombang pertama dari barat datang, dan dunia Anjani menjadi cahaya tanpa bentuk. Jantungnya berhenti. Ia merasakannya berhenti, cara orang merasakan tangga yang anak tangganya hilang, kaki turun ke kekosongan. Dan jauh, sangat jauh, suara Bayu meneriakkan namanya, lalu meneriakkan satu kata: tarik. Ia menarik napas yang terasa seperti menelan seluruh malam, dan di kedalaman dadanya yang gelap, jantung yang sudah berhenti itu tersandung sekali, ragu, lalu menangkap dirinya sendiri dan kembali berdetak.
Gelombang kedua dari barat. Gelombang ketiga. Ia bukan lagi seorang perempuan yang berdiri di gardu; ia adalah jembatan, dan jembatan tidak berpikir, jembatan hanya menahan beban yang menyeberanginya. Ia membiarkan dirinya menjadi itu sepenuhnya, melepaskan yang terakhir dari dirinya, mengosongkan sumur sampai ke dasar yang berlumpur, sampai tak ada lagi panas terkurung, sampai ia tak bisa membedakan mana arus yang lewat dan mana yang dirinya.
"Barat berdiri," Mawar berbisik, dan suaranya pecah. "Jantung kota narik beban sendiri. Anjani, jaringannya berdiri. Jaringannya berdiri tanpa kamu. Lepas. Lepas sekarang. Kamu udah selesai. Lepas."
Lepas. Kata yang selama ini paling ia takuti. Selama berbulan-bulan melepas berarti memadamkan, berarti meninggalkan jejak gelap, berarti merampas. Tapi malam ini, untuk pertama kalinya, melepas tidak berarti kota menjadi gelap. Kota sudah berdiri. Ia melepaskan tangan kanannya dari tembaga, lalu tangan kirinya dari baja, dan tubuhnya, yang sudah tak punya apa-apa lagi di dalamnya, runtuh ke lantai beton gardu pengunci seperti kabel yang putus dari tiangnya.
Ia tidak merasakan lantai menghantam tubuhnya. Yang terakhir ia rasakan sebelum gelap penuh datang bukan rasa sakit, bukan ketakutan, melainkan keheningan yang ganjil di dalam dirinya, kekosongan yang tak pernah ia kenal sejak malam busur putih itu mengisinya. Untuk pertama kalinya dalam berbulan-bulan, tidak ada panas terkurung di dadanya, tidak ada sumur yang harus dijaga. Hanya kosong. Hanya sunyi. Dan jauh di atasnya, lewat ventilasi gardu yang gelap, jika ia masih bisa melihat, ia akan tahu bahwa langit malam Karangwetan, blok demi blok, mulai memantulkan cahaya yang pulang.