Di gang Mawar Tiga, lampu teras milik keluarga Suhenda menyala lebih dulu dari yang lain, berkedip dua kali seolah ragu apakah ini sungguhan, lalu mantap. Anak bungsu Suhenda yang sejak sore rewel karena gerah berhenti menangis dan menatap bohlam di langit-langit kamarnya yang hidup kembali, dan ibunya, yang sudah berjam-jam mengipasinya dengan koran, menurunkan tangannya dan duduk diam, mendengarkan dengung kulkas tua yang kembali menyala di dapur seperti orang mendengarkan napas yang pulih.
Di seberang kota, di kawasan padat sektor barat, terang itu menjalar seperti air yang menemukan dataran. Satu rumah, lalu rumah di sebelahnya, lalu seluruh deret. Orang-orang yang sejak malam keluar ke gang membawa lilin dan radio kecil, yang sebagian sudah mendengar suara perempuan jurnalis di siaran menyebut nama Sudibyo dan kata sabotase dan kata gardu yang tidak tua melainkan dibunuh, kini berdiri di bawah lampu jalan yang menyala satu per satu dan menengadah. Tidak ada sorak. Hanya keheningan yang aneh, keheningan ribuan orang yang sama-sama menyadari bahwa kegelapan yang mereka kira nasib kota tua mereka ternyata punya nama dan punya tangan, dan bahwa malam ini, untuk alasan yang belum sepenuhnya mereka mengerti, tangan itu kalah.
Lampu lalu lintas di persimpangan besar dekat pasar, yang mati sejak sore dan membuat lalu lintas menjadi kekusutan klakson dan umpatan, berdetak kembali. Merah. Kuning. Hijau. Seorang tukang ojek yang sejak tadi menggerutu di tepi jalan menatap lampu itu berganti warna dan, tanpa tahu kenapa, merasa matanya panas. Lampu lalu lintas. Benda paling biasa di dunia. Tapi malam ini, melihatnya hidup kembali terasa seperti melihat sesuatu yang nyaris hilang dikembalikan oleh tangan yang tak terlihat.
Di rumah sakit di tepi utara, yang genset ICU-nya nyaris mati beberapa jam lalu sebelum Pak Wiryo, dipandu lewat radio, membuka sakelar transfer gardu selatan dengan tangan gemetar dan keringat membanjiri keningnya yang tua, lampu jaringan utama kembali masuk. Genset darurat itu, yang sudah berderak di ambang kehabisan solar, perlahan turun nadanya saat beban beralih kembali ke listrik kota. Perawat di ICU, yang sepanjang malam berdiri di samping ventilator pasien sambil menghitung sisa bahan bakar di kepalanya seperti orang menghitung sisa waktu, menyandarkan punggung ke dinding dan menutup mata. Pasien-pasiennya bernapas. Mesin-mesin yang menjaga mereka bernapas. Itu cukup. Itu lebih dari cukup.
Di ruang kendali yang dingin, Mawar duduk di depan layar SCADA yang, untuk pertama kalinya sejak ia mulai bekerja di tempat itu, menampilkan peta jaringan yang benar. Bukan data palsu yang dimanipulasi, bukan angka yang dipoles untuk menutupi sabotase. Hanya kota, dengan beban yang mengalir ke tempat seharusnya, gardu demi gardu menyala hijau di petanya. Ia memandangi peta itu sampai matanya buram, lalu menyadari bahwa yang membuat matanya buram bukan kelelahan. Ia menghapus pipinya dengan punggung tangan dan menekan tombol radio.
"Bayu. Jaringannya stabil. Seluruh kota. Beban masuk semua, nggak ada gardu yang jebol. Kita... berhasil."
Hening di ujung radio. Lalu suara Bayu, dan suara itu tidak seperti suara orang yang berhasil. "Mawar. Mbakku nggak jawab. Dari tadi nggak jawab. Aku terus manggil, dia nggak ngetuk lagi."
Mawar terdiam. Di petanya, kota menyala. Tapi di kedalaman gardu pengunci, di titik tempat seluruh terang itu lewat malam ini, satu orang tergeletak di lantai beton dan tidak menjawab radio.
"Tim medis udah masuk gardu," kata Mawar cepat, sudah berdiri, sudah berlari ke pintu ruang kendali. "Polisi udah amanin lokasi. Bayu, aku ke sana sekarang."
Di luar, Karangwetan terang. Untuk pertama kalinya dalam sejarah kekuatannya, Anjani Larasati telah meninggalkan jejak yang bukan kegelapan. Sepanjang berbulan-bulan ini, setiap kali ia turun tangan, ia juga meninggalkan blok yang padam, rumah yang gelap, orang yang membencinya sebagai hantu yang merampas listrik mereka. Malam ini ia membalik arah aliran itu. Ia tidak memadamkan satu rumah pun. Ia menyalakan kota, blok demi blok, dengan tubuhnya sendiri sebagai jalan.
Ironi yang menghantuinya sejak ia menyentuh stopkontak pertama dan membuat seluruh bloknya padam, ironi bahwa ia adalah penyelamat yang setiap penyelamatannya merampas, akhirnya terpatahkan di gardu yang dulu hampir membunuhnya. Tapi tidak ada yang merayakannya di sana. Karena di lantai gardu pengunci, di bawah seluruh kota yang menyala, tubuh yang menyalakannya tergeletak diam, telapak tangan hangus menempel ke lantai, dada nyaris tak bergerak, dan dua orang petugas medis berlutut di sampingnya, salah satunya menempelkan jari ke leher Anjani lalu menengadah ke rekannya dengan wajah yang membuat seluruh malam yang baru saja dimenangkan terasa belum selesai.
"Nadinya ada," kata petugas itu, suaranya cepat. "Lemah, putus-putus, tapi ada. Cepat. Tandu. Yang ini nggak bisa nunggu."
Dan kota di atas mereka, yang tidak tahu, terus menyala.