Mereka membawanya ke rumah sakit yang ia selamatkan. Tidak ada yang merencanakannya begitu, tidak ada simbol yang sengaja dibuat; rumah sakit itu hanya yang terdekat dari gardu pengunci, satu-satunya yang ventilator dan ICU-nya menyala penuh malam itu karena tangan yang kini terbaring di brankar telah menjaga gensetnya tetap hidup beberapa jam sebelumnya. Tapi Bayu, yang berlari menyusul ambulans dengan motor sampai roda depannya nyaris terlepas di tikungan, menyadarinya ketika ia membaca papan nama di gerbang darurat, dan untuk sesaat ia harus berhenti dan mengatur napasnya sebelum bisa masuk, karena lingkaran itu terlalu sempurna dan terlalu kejam.
Di ruang gawat darurat, di balik tirai yang ditarik rapat, jantung Anjani melakukan apa yang sudah lama ia takuti akan dilakukannya. Ia berhenti. Bukan sekali, sebagaimana malam-malam sebelumnya, lalu menangkap dirinya sendiri. Kali ini ia berhenti dan tidak kembali, dan mesin di samping brankar yang menggambar garis itu mendatar dan berbunyi panjang, satu nada yang membekukan darah Bayu di ruang tunggu meski tirai memisahkan mereka.
Ia mendengar suara-suara yang ia kenal dari kuliahnya tapi tak pernah ia kira akan ia dengar diteriakkan tentang kakaknya. Ia mendengar hitungan. Ia mendengar perintah agar semua mundur. Dan ia mendengar, lalu merasakan di tulang dadanya sendiri, dentuman tumpul defibrilator, alat yang melepaskan arus ke dada untuk memaksa jantung yang bingung agar mengingat ritmenya. Bayu nyaris tertawa di tengah ketakutannya, tawa pahit yang nyaris menjadi isak, karena dari semua hal di dunia, yang dipakai untuk menyelamatkan kakaknya malam ini adalah listrik. Listrik yang sama yang merebut tubuhnya, yang ia tahan berjam-jam, yang ia salurkan sampai kosong, kini ditembakkan kembali ke dadanya dalam dosis yang dihitung untuk memanggilnya pulang.
Di dentuman kedua, garis di mesin bergetar. Di dentuman ketiga, ia menemukan ritmenya. Tidak rapi, tidak kuat, tersandung di sana-sini seperti mesin tua yang dipaksa hidup, tapi ada. Dokter di balik tirai mengembuskan napas yang ia tahan, dan menyuruh memindahkan pasien ke perawatan intensif, dan berkata kepada perawat dengan suara rendah bahwa ia belum pernah melihat jantung serusak ini pada perempuan seumur itu, seolah ada yang membakarnya dari dalam, berulang kali, selama berbulan-bulan.
Bu Tarmi datang menjelang subuh, dibawa Mawar dari rumah aman tempat Anjani memindahkannya berminggu lalu demi melindunginya dari Sudibyo. Perempuan tua itu tidak menangis di lorong, tidak meratap; ia hanya berdiri di kaca jendela ICU memandangi anak perempuannya yang terbaring di antara selang dan kabel, telapak tangan diperban tebal sampai ke pergelangan, dada naik turun dengan bantuan mesin. Lalu ia berkata, pelan, lebih kepada dirinya sendiri daripada kepada Bayu di sampingnya, bahwa suaminya dulu juga begitu, selalu pulang dengan tangan yang terbakar dan tak pernah mengeluh, dan ia kira ia sudah selesai mengurus orang yang membakar dirinya demi mesin orang lain, dan ternyata belum.
Hari-hari berikutnya berjalan tanpa bentuk. Anjani tidak sadar. Tubuhnya, kata dokter, sedang melakukan hal yang sama yang dilakukan kabel yang kelebihan beban setelah arusnya diputus: mendingin, perlahan, sambil menghitung kerusakan yang sudah terjadi dan tak bisa lagi diperbaiki. Jantungnya distabilkan dengan obat dan mesin. Luka di telapak tangannya, yang dokter sebut luka bakar listrik dengan kedalaman yang tak masuk akal untuk seseorang yang katanya hanya jatuh di gardu, dirawat dan diawasi terhadap infeksi. Dan di luar kamarnya, kota yang ia selamatkan mulai membicarakan dirinya tanpa tahu ia sedang sekarat di rumah sakit yang sama tempat ventilator-ventilator yang ia jaga masih bekerja.
Bayu tidak pulang. Ia tidur di kursi plastik lorong, bangun setiap kali ada langkah perawat, dan memandangi grafik jantung kakaknya di monitor seolah dengan menatapnya cukup lama ia bisa memaksanya tetap teratur, seperti ia memaksa ritme napasnya teratur lewat radio malam itu. Mawar datang dan pergi, membawakan makanan yang tak ada yang menyentuh, membawa kabar dari kota, membawa kabar bahwa polisi resmi menahan Sudibyo dan teknisi kontraktornya, bahwa pengawas independen sudah menyegel ruang kendali untuk diperiksa, bahwa siaran Lestari menjadi pembicaraan seluruh provinsi.
Dan pada hari ketiga, ketika Bayu hampir kehilangan harapan bahwa kakaknya akan kembali, jari Anjani bergerak. Hanya satu jari, telunjuk tangan kanan yang tidak diperban, mengetuk pelan ke sisi ranjang. Dua kali. Aku masih di sini. Bayu, yang sudah belajar membaca dua ketukan itu sebagai bahasa, langsung berdiri dan menggenggam tangan kakaknya, dan menahan agar suaranya tidak pecah saat ia berkata bahwa kota sudah menyala, bahwa semua orang selamat, bahwa ia boleh istirahat sekarang, sungguh, untuk pertama kalinya boleh istirahat. Dan jari itu mengetuk sekali lagi, lebih lemah, sebelum diam, dan monitor di atas mereka, untuk pertama kalinya dalam tiga hari, menggambar garis yang nyaris teratur.