Pintu sel itu terbuka pada pagi yang basah, dan Reza tidak langsung melangkah keluar. Ia berdiri sebentar di ambangnya, memandangi lorong tahanan yang selama berminggu-minggu menjadi seluruh dunianya, seolah tak percaya bahwa orang yang sama yang memasukkannya kini berdiri canggung di sampingnya menyodorkan surat pelepasan dan tidak berani menatap matanya. Tuduhan pencurian data yang dipakai untuk mengubur Reza, untuk menjadikannya kambing hitam atas seluruh kebocoran, runtuh dalam hitungan hari setelah Sudibyo, terdesak dan disiarkan langsung, membenarkan motifnya sendiri di depan kamera. Bukti yang Reza sembunyikan dengan tangan gemetar berbulan lalu, yang dulu hanya bukti tanpa saksi, kini ditopang oleh pengakuan otak konspirasinya sendiri. Ironi yang tidak lucu: kebenaran yang ia pertaruhkan kebebasannya untuk menyelamatkan baru dipercaya setelah pelaku utamanya mengakuinya sendiri.
Ia tidak pulang ke rumahnya lebih dulu. Ia minta diantar ke rumah sakit, dan ketika ia sampai di lorong ICU dan melihat Bayu tertidur di kursi plastik dengan kepala bersandar ke dinding, ia hampir berbalik pergi, merasa tak berhak masuk ke kesedihan keluarga yang bukan keluarganya. Tapi Bayu terbangun, mengenalinya, dan berdiri dengan kaku karena terlalu lama duduk, dan keduanya berdiri di lorong itu tanpa tahu harus bilang apa. Mereka tidak pernah benar-benar berteman, Reza dan keluarga Anjani. Mereka hanya orang-orang yang terlempar ke perahu yang sama oleh badai yang sama. Tapi badai itu, ternyata, mengikat lebih kuat daripada banyak persahabatan yang tumbuh dalam cuaca tenang.
"Dia... " Reza tidak menyelesaikan pertanyaannya.
"Hidup," kata Bayu. "Jantungnya berhenti sekali di IGD. Mereka balikin. Sekarang dia tidur. Bukan koma, kata dokter. Tidur. Tubuhnya nutup buat mulihin diri." Ia menggosok wajahnya yang lelah. "Kamu boleh masuk. Tapi sebentar aja. Dia masih lemah banget."
Reza masuk ke kamar dan untuk pertama kalinya melihat sosok di balik Hantu Gardu sebagai sekadar manusia. Bukan sosok bercahaya di rekaman buram yang dulu ia analisis di layar SCADA, bukan kekuatan yang menahan kaskade dan menyalakan kota. Hanya seorang perempuan kurus yang terbaring dengan tangan diperban dan selang di hidung, kulit pucat, kelopak mata bergetar dalam tidurnya. Tangan yang menyelamatkan seluruh kota terbungkus kain kasa, dan di bawah kain itu, Reza tahu dari apa yang ia baca di data dan dengar dari Bayu, ada luka bakar yang tak akan pernah sembuh sepenuhnya, harga yang ditulis di daging untuk sesuatu yang akan ditulis sejarah sebagai keberuntungan kota tua.
Ketika Anjani membuka mata, beberapa jam kemudian, Reza masih di sana. Ia menatap analis muda itu lama, mengumpulkan suaranya yang serak dan nyaris habis, lalu berkata satu hal yang membuat Reza harus berpaling ke jendela sebentar agar bisa mengatur dirinya.
"Kamu nggak lari," kata Anjani. "Aku kira kamu bakal lari terus."
"Aku udah pernah lari," jawab Reza. "Nggak ada yang lebih capek dari itu."
Mereka tidak banyak bicara setelah itu. Tidak perlu. Mereka menyebut nama-nama yang tidak ada di ruangan itu, pelan, satu per satu, seolah menghitung yang selamat dan yang tidak. Mawar, yang merelakan kariernya untuk membuka jalur dari dalam. Lestari, yang menyiarkan kebenaran ketika setiap saluran resmi menutupnya. Pak Hadi, yang mati sebagai pelaku dan menebus sebagian dosanya lewat surat dari balik kubur. Bayu, yang menghitung ritme jantung kakaknya di radio sampai suaranya habis. Dan Pak Wiryo tua, yang membuka sakelar transfer dengan tangan gemetar dan menyelamatkan ICU tempat Anjani sekarang berbaring.
"Kita berhasil," kata Reza akhirnya, dan kalimat itu terasa janggal di mulutnya, seperti pakaian yang belum ia kenakan. "Aku masih nggak percaya, tapi kita berhasil."
Anjani menutup matanya. Di luar jendela, kota Karangwetan menjalani harinya yang biasa, lalu lintasnya, pasarnya, pabriknya yang setengah hidup, lampunya yang menyala. Orang-orang pergi bekerja tanpa tahu betapa dekat mereka semalam dengan kegelapan total, tanpa tahu nama perempuan di kamar ini. Dan untuk Anjani, yang seumur hidup dilatih agar arus tetap tersembunyi di balik dinding, tidak terlihat dan tidak terpikir oleh siapa pun selama ia bekerja, ada sesuatu yang nyaris seperti kelegaan dalam ketidaktahuan itu. Kota tidak perlu tahu siapa yang menjaga lampunya. Lampu yang menyala sudah cukup.
Tapi ia tahu, bahkan dalam kelelahannya, bahwa kelegaan itu pinjaman. Karena ada rekaman. Ada siaran. Ada ribuan ponsel yang merekam malam itu. Dan cepat atau lambat, kota yang sekarang tidak tahu namanya akan mulai bertanya.