Pertanyaan itu mulai sebagai potongan video berdurasi sebelas detik. Seseorang di luar gardu pengunci malam itu, salah satu dari kerumunan yang berkumpul ketika polisi dan ambulans datang, telah mengarahkan ponselnya ke pintu gardu pada saat yang salah, atau benar, tergantung dari sisi mana orang memandangnya. Sebelas detik: pintu baja terbuka, petugas medis mengangkat tandu, dan di tandu itu, sesaat sebelum selimut menutupinya, terlihat tangan yang masih memancarkan sisa pendar lemah di ujung jari, cahaya yang tak punya penjelasan dalam tubuh manusia mana pun.
Sebelas detik itu, ketika Anjani mulai bisa duduk di ranjangnya seminggu kemudian, sudah ditonton jutaan kali. Orang menyebutnya manusia listrik. Orang menyebutnya bukti bahwa Hantu Gardu nyata. Sebagian menyebutnya rekayasa, sudut kamera, pantulan lampu ambulans. Tapi sebagian besar, terutama setelah disandingkan dengan siaran Lestari yang menjelaskan apa yang terjadi malam itu, percaya. Dan kepercayaan itu menarik perhatian yang jauh lebih besar dari sekadar warga Karangwetan yang penasaran.
Mawar yang membawa kabarnya, dengan wajah yang tidak bisa ia sembunyikan dari kekhawatiran. Bukan lagi media lokal yang menulis tentang hantu gardu sebagai bumbu blackout. Stasiun televisi nasional sudah mengirim tim. Dua kementerian disebut-sebut tertarik. Ada lembaga yang namanya bahkan Mawar tidak yakin betul, sesuatu tentang aset strategis dan keamanan, yang mulai mengajukan permintaan resmi ke perusahaan untuk akses rekaman CCTV gardu, log SCADA, dan, yang membuat Anjani dingin, daftar lengkap teknisi yang bertugas di area itu malam kejadian dan malam-malam blackout sebelumnya.
"Mereka belum tahu kamu siapa," kata Mawar cepat, melihat wajah Anjani. "Tandunya ketutup. Yang kelihatan cuma tangan. Tapi mereka lagi nyilang data. Siapa teknisi yang selalu kebetulan ada di lokasi tiap blackout. Siapa yang masuk gardu pengunci malam itu. Lingkarannya nyempit, Anjani. Lambat, tapi nyempit."
Anjani memandangi tangannya yang masih diperban. Sepanjang berbulan-bulan ini ketakutannya selalu spesifik dan teknis: jantung yang fibrilasi, kulit yang terbakar, blok yang padam. Ketakutan-ketakutan yang bisa ia ukur dan, dengan caranya, ia kelola. Ketakutan ini lain. Ini bukan arus yang bisa ia salurkan ke tanah. Ini tatapan, dan tatapan tidak punya jalur pembumian.
Ia memikirkan apa artinya bagi hidupnya yang biasa, kalau ia masih boleh menyebutnya begitu. Ia memikirkan Bu Tarmi, yang seumur hidup hanya ingin anak-anaknya pulang dengan selamat. Ia memikirkan Bayu, yang sebentar lagi harus kembali kuliah, yang masa depannya tak boleh ditelan oleh rahasia kakaknya. Ia memikirkan kemungkinan menjadi objek, dibawa entah ke mana, dipelajari, diukur, dijadikan sesuatu selain manusia, persis ketakutan terdalam yang ia simpan sejak awal hidup barunya: bahwa ia bukan orang, melainkan alat, dan alat dimiliki, dan dipakai, dan kalau perlu dibongkar.
"Aku pernah baca," kata Reza, yang ikut datang sore itu, dengan hati-hati, "di forum-forum, orang-orang bikin teori. Sebagian mau cari kamu buat dipuja. Sebagian buat dipelajari. Sebagian buat dibungkam, karena buat orang-orang tertentu, sesuatu yang bisa nahan jaringan listrik kota itu bukan keajaiban, itu ancaman." Ia berhenti. "Maaf. Aku cuma mau kamu siap."
Anjani tidak marah. Reza benar; ia perlu siap. Tapi siap untuk apa, ia belum tahu. Bersembunyi total, menghilang, membakar setiap jejak dan kembali menjadi teknisi anonim, kalau perusahaan masih mau menerimanya, kalau ia masih punya tubuh yang sanggup memanjat tiang. Atau yang lain, sesuatu yang seluruh instingnya tolak, sesuatu yang bertentangan dengan setiap pelajaran yang ditanamkan ayahnya dan setiap pelatihan keselamatan yang ia jalani: keluar, terlihat, mengakui.
Malam itu, sendirian di kamar rumah sakit setelah semua orang pulang, ia menyalakan ponsel lama yang Bayu titipkan dan menonton sebelas detik itu. Tangan yang berpendar di tandu. Tangannya sendiri. Ia menatapnya lama, perempuan yang seumur hidup menjaga agar arus tetap tak terlihat, kini menjadi sebelas detik yang ditonton jutaan orang justru karena ia gagal menyembunyikan cahayanya. Ada sesuatu yang nyaris lucu di situ, dan ada sesuatu yang sangat menakutkan, dan ia berbaring dalam gelap dengan keduanya, sambil di luar jendela kota yang ia selamatkan, tanpa tahu, mulai memburu jejak penyelamatnya.