Penangkapan Sudibyo seharusnya menjadi akhir. Itu yang Anjani izinkan dirinya percaya selama beberapa hari di ranjang rumah sakit, ketika kabar tentang sel tahanan dan penyegelan ruang kendali datang silih berganti. Otak konspirasi sudah diborgol, tangan kontraktornya sudah ditahan, narasi gardu tua sudah runtuh di depan kota. Tapi Reza, yang kembali bekerja membaca dokumen begitu namanya pulih, datang pada hari kesepuluh dengan map tebal dan wajah yang memberitahu Anjani bahwa ia salah, bahwa akhir yang ia kira ada ternyata hanya satu simpul dari jaring yang jauh lebih besar.
"Sudibyo bukan puncaknya," kata Reza, membuka map di atas meja samping ranjang. "Dia manajer perencanaan aset. Dia yang ngatur jadwal, yang milih gardu mana yang jatuh, yang bayar Pak Hadi dan Galih. Tapi proyek peremajaan yang dia bikin urgent itu, yang nilainya ratusan miliar, harus lewat persetujuan di atas dia. Harus ada yang ngelolosin pembebasan lahan di koridor industri. Harus ada yang ngegolin tendernya. Sudibyo nggak punya kuasa segitu sendirian."
Anjani sudah tahu sebagian ini, dari dokumen yang ia curi berbulan lalu di kantor perencanaan aset, dari benang yang ia lacak bersama Bayu. Tapi mendengarnya disusun di depan matanya sekarang, ketika ia mengira pertarungan sudah usai, terasa seperti menemukan retakan kedua di balok yang baru saja kau kira sudah kau pasang. Ada pejabat daerah. Ada pemain yang lebih tinggi dari Sudibyo, yang namanya tidak pernah muncul di gardu mana pun, yang tangannya tidak pernah menyentuh rele, yang keuntungannya jauh lebih besar dan jejaknya jauh lebih bersih.
"Dan mereka belum tersentuh," lanjut Reza. "Lebih dari itu, mereka udah mulai gerak. Pengacara mahal udah datang buat Sudibyo. Ada tekanan ke pengawas independen biar batesin penyelidikan cuma ke sabotase teknis, jangan masuk ke aliran uang. Dan ini yang bikin aku ke sini buru-buru." Reza menggeser satu lembar. "Mereka lagi nyari kamu. Bukan buat dipelajari kayak lembaga negara. Buat dibungkam. Selama ada saksi hidup yang bisa nyambungin sabotase ke proyek, ke lahan, ke nama-nama di atas, kasus ini bahaya buat mereka. Dan kamu, sama Mawar, sama aku, kita saksi-saksi itu."
Anjani menyandarkan kepala ke bantal dan menatap langit-langit. Ia ingat sesuatu yang Lestari katakan, jauh sebelum malam besar itu, ketika mereka pertama kali menyusun bukti: bahwa menjatuhkan satu nama tidak pernah cukup, bahwa orang-orang sekuat ini punya banyak tangan dan satu tangan yang dipenjara selalu bisa diganti, persis seperti Galih menggantikan Pak Hadi tanpa beban. Ia mengira pelajaran itu hanya berlaku sampai malam gardu pengunci. Ternyata tidak. Kota tidak sakit karena satu Sudibyo. Kota sakit karena ada struktur yang melahirkan Sudibyo, yang akan melahirkan Sudibyo lain begitu yang ini disingkirkan, selama struktur itu sendiri tidak dibongkar.
"Jadi kita belum menang," katanya pelan.
"Kita menang satu malam," jawab Reza. "Kita selametin kota satu malam. Tapi yang bikin kota bisa dijatuhin gitu, yang bikin orang berani matiin listrik puluhan ribu rumah demi tanah, itu masih utuh. Dan sekarang mereka tahu ada yang ngelawan. Mereka nggak bakal sembrono kayak Sudibyo. Mereka bakal pelan, rapi, dan kalau bisa, mereka bakal bikin seolah-olah Hantu Gardu yang sebenernya berbahaya. Bikin kamu jadi cerita yang nakut-nakutin, bukan yang nyelametin."
Malam itu Anjani tidak bisa tidur. Bukan karena rasa sakit di tangannya, yang sudah menjadi teman lama, bukan karena jantungnya yang tersandung, yang sudah ia kenal ritmenya. Melainkan karena ia menyadari betapa kecil kemenangan satu malam itu dibanding hal yang sebenarnya harus dilawan. Ia membayangkan dirinya selama ini seperti orang yang memutus satu kabel yang korslet, lega karena percikannya berhenti, lalu menengadah dan melihat bahwa seluruh instalasi di belakang kabel itu busuk, dan memutus satu kabel tidak memperbaiki apa pun selama instalasinya sendiri tidak diganti.
Dan ia, yang tubuhnya nyaris hancur, yang jantungnya tak lagi sanggup pelepasan besar, yang seluruh instingnya menyuruh menghilang sebelum tatapan kota menemukan namanya, harus memutuskan apakah ia masih punya satu pertarungan lagi di dalam dirinya, pertarungan yang kali ini tidak bisa ia menangkan dengan tubuhnya.