Pilihan itu datang kepadanya tanpa drama, di pagi biasa, dibawa oleh seorang petugas pengawas independen yang sopan dan map yang tipis. Mereka memanggilnya, bukan sebagai tersangka, melainkan sebagai saksi: teknisi pemeliharaan Anjani Larasati, yang terdaftar bertugas di area gardu pengunci, yang ditemukan tak sadarkan diri di lokasi malam kejadian. Mereka ingin keterangannya tentang apa yang ia lihat, apa yang ia lakukan, kenapa ia ada di sana. Tidak ada satu kata pun tentang cahaya di tangan, tentang manusia listrik. Untuk sekarang, di mata hukum, ia hanya seorang teknisi yang kebetulan ada di tempat dan waktu yang menentukan.
Di situlah celahnya, Anjani menyadari, dan di situlah jebakannya. Ia bisa memberi keterangan minimal. Mengaku ia masuk gardu karena curiga, mencoba mencegah, pingsan karena kelelahan dan asap. Tidak berbohong sepenuhnya, hanya menahan. Lalu menghilang ke dalam kerumunan teknisi anonim, membiarkan rekaman sebelas detik itu memudar menjadi legenda urban tanpa wajah, membiarkan kasus bergulir tanpa dirinya, melindungi keluarganya, melindungi tubuhnya yang sudah hampir habis. Setiap insting yang ditanamkan ayahnya menyuruh begitu. Arus yang baik adalah arus yang tak terlihat. Teknisi yang baik adalah teknisi yang namanya tak pernah disebut karena tak pernah ada yang salah. Bersembunyi bukan pengecut, bagi seorang teknisi; bersembunyi adalah profesi.
Tapi ada masalah dengan diam, dan ia tahu masalah itu lebih jelas daripada siapa pun. Reza sudah memberinya peta. Orang-orang di atas Sudibyo akan menekan agar penyelidikan dibatasi pada sabotase teknis. Tanpa saksi yang berani menyambungkan secara terbuka, dengan nama dan wajah, sabotase di gardu dengan aliran uang ke proyek dan lahan, kasus akan menyusut menjadi kisah seorang manajer rakus yang bertindak sendiri, dipenjara sebentar, sementara struktur yang melahirkannya tetap utuh dan siap mengulang. Kalau ia diam, ia melindungi dirinya dan membiarkan kota tetap sakit. Kalau ia bicara, ia menyembuhkan sebagian kota dan menyerahkan dirinya pada tatapan yang tak punya pembumian.
Ia duduk lama di tepi ranjang sore itu, memandangi kota lewat jendela. Ia teringat Pak Wiryo, teknisi tua yang dulu, jauh sebelum semua ini, hanya datang ke kantor mengeluh karena lampunya sering padam dan tagihannya tetap mahal, yang tidak peduli pada konspirasi atau tender, yang hanya ingin listrik yang ia bayar menyala saat ia butuh. Ia teringat Pak Hadi, yang dibeli oleh keputusasaan, yang mati sebagai pelaku tapi memilih, di akhir, menulis surat yang menjadi senjata. Ia teringat malam pertama, busur putih, dan seluruh perjalanan dari sana ke sini, ketakutan pada tangannya sendiri, blok-blok yang ia padamkan, latihan yang nyaris membunuhnya. Dan ia teringat satu kalimat yang menempel di benaknya sejak ia mulai turun tangan: bahwa melindungi orang kadang berarti membuat dirinya terlihat, sesuatu yang bertentangan dengan seluruh instingnya.
Selama ini ia terlihat hanya ketika terpaksa. Dilihat orang saat menyelamatkan sekolah, dilihat saat menahan gardu, dilihat di sebelas detik di tandu. Selalu kebetulan, selalu di luar kehendaknya, selalu sesuatu yang ia sesali. Ia tidak pernah memilih untuk terlihat. Yang ia lakukan adalah mencoba, berkali-kali, menjadi tak terlihat dan gagal.
"Kalau aku ngilang," katanya kepada Bayu malam itu, yang duduk di kursi plastik yang sudah menjadi tempatnya, "mereka menang struktur. Sudibyo dihukum, sisanya selamat, dan tahun depan ada Sudibyo baru, gardu jatuh lagi, ada orang lagi yang ke bengkel ngeluh lampunya mati. Aku bisa balik jadi teknisi biasa, dan aku bakal nonton semua itu kejadian lagi, tahu persis kenapa, dan diam."
Bayu tidak menjawab. Ia tahu kakaknya tidak sedang bertanya.
"Aku capek ngumpet, Bayu," kata Anjani, dan suaranya tidak gemetar, untuk pertama kalinya. "Seumur hidup aku ngumpet. Sembunyiin kekuatan, sembunyiin luka, sembunyiin bukti, sembunyiin diri. Dan tiap kali aku ngumpet, ada yang bayar harganya selain aku." Ia menatap tangannya yang diperban. "Mereka mau aku jadi hantu. Cerita yang nakut-nakutin, tanpa nama, tanpa wajah, gampang dilupain. Hantu gampang dikubur. Tapi orang punya nama susah dikubur kalau dia berdiri di terang dan ngomong."
Ia memejamkan mata, dan ketika ia membukanya, keputusan itu sudah ada di sana, tenang, seperti angka yang akhirnya cocok di multitester setelah berjam-jam mencari korslet. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia akan memilih untuk terlihat. Bukan karena terpaksa, bukan kebetulan, bukan gagal sembunyi. Memilih. Sadar. Dengan nama.