Ruangan tempat ia memberi kesaksian bukan ruang sidang megah seperti yang orang bayangkan, hanya aula serbaguna di kantor pengawas yang catnya mengelupas di sudut dan kipas anginnya berderak pelan di langit-langit. Tapi yang membuatnya berbeda dari ruang interogasi mana pun yang pernah Anjani masuki adalah kamera Lestari di sudut, yang sah, yang sudah ia setujui sendiri, yang akan membawa apa yang ia katakan ke seluruh kota tanpa bisa disaring oleh tangan-tangan yang ingin menguburnya. Lestari sudah belajar dari malam gardu pengunci: kebenaran yang tidak disiarkan langsung selalu bisa ditekan dan dihapus. Maka kali ini mereka membuatnya hidup, terbuka, sekali jalan tanpa bisa ditarik kembali.
Anjani datang dengan tangan yang masih diperban, masih harus dibantu berjalan oleh Bayu, masih pucat. Ia tidak mengenakan apa pun yang dramatis, hanya kemeja kerja yang dijahit ulang Bu Tarmi karena yang lama hangus malam itu. Ia duduk di kursi di depan meja para pengawas, dan untuk sesaat, ketika semua mata di ruangan dan semua mata di balik kamera tertuju padanya, seluruh instingnya menjerit untuk menunduk, untuk menjadi kecil, untuk menghilang. Ia membiarkan jeritan itu lewat, seperti ia membiarkan arus lewat, dan ketika sudah lewat, ia mengangkat kepalanya.
Ia tidak membuka rinci tentang kekuatannya. Itu keputusan yang ia ambil bersama Reza dan Lestari setelah berjam-jam berdebat. Bukan karena malu, melainkan karena ia menolak menjadikan cerita ini tentang keajaiban di tubuhnya. Begitu orang sibuk pada manusia listrik, mereka berhenti memperhatikan aliran uang, lahan, nama-nama di atas Sudibyo. Cahaya di tangannya akan menelan kebenaran yang lebih penting. Maka ia berbicara sebagai apa adanya dirinya secara hukum dan secara hati: seorang teknisi pemeliharaan yang membaca jaringan, yang melihat pola sabotase yang tak mau dilihat atasannya, yang turun tangan karena tidak ada orang lain yang bisa atau berani.
Ia menceritakan gardu yang jatuh bukan karena tua melainkan karena rele yang sengaja diakali. Ia menjelaskan, dengan bahasa yang dibuatnya cukup sederhana agar kota mengerti tapi cukup tepat agar tak bisa dibantah teknisi mana pun, bagaimana setiap gardu yang jatuh menaikkan urgensi dan harga proyek peremajaan. Ia menyebut nama Sudibyo, dan ia menyebut bahwa Sudibyo tidak bekerja sendiri, bahwa ada persetujuan yang harus lewat tangan yang lebih tinggi, ada pembebasan lahan yang harus diloloskan, dan ia menyerahkan, di depan kamera yang menyiarkan langsung, salinan dokumen dan rekaman yang selama berbulan-bulan dipertaruhkan nyawa untuk mengumpulkannya. Ia menyebut Pak Hadi bukan hanya sebagai pelaku tapi sebagai korban yang dibeli oleh utang medis istrinya, dan ia membacakan, dengan suara yang nyaris pecah hanya sekali, bagian dari surat yang mentornya tinggalkan, pengakuan dari balik kubur seorang lelaki yang dosanya manusiawi.
Ruangan itu hening. Kipas angin berderak. Di luar, di warung-warung dan rumah-rumah dan gang-gang Karangwetan, di ponsel-ponsel yang sebulan lalu menerima dokumen di kegelapan, orang-orang menonton seorang perempuan kurus berperban menyebut nama demi nama, menyusun potongan demi potongan, dan menjelaskan dengan tenang mengapa lampu mereka padam berbulan-bulan, bukan karena kota mereka tua dan ditakdirkan gelap, melainkan karena ada orang yang memilih memadamkannya demi uang dan tanah.
Narasi gardu tua, yang Sudibyo dan struktur di atasnya bangun selama bertahun-tahun, yang sudah menjadi semacam kebenaran malas yang diterima semua orang, runtuh di aula bercat mengelupas itu, dalam siaran yang tak bisa ditarik kembali. Tidak dengan ledakan, tidak dengan kekuatan super, hanya dengan seorang teknisi yang akhirnya berdiri di terang dan berkata: ini bukan kebetulan, dan inilah siapa yang melakukannya.
Ketika ia selesai, Anjani merasa kosong dengan cara yang berbeda dari malam ia mengosongkan tubuhnya di gardu. Itu kekosongan yang nyaris menyenangkan, kekosongan orang yang akhirnya meletakkan beban yang terlalu lama ia panggul sendirian. Tanggung jawab atas korupsi yang melumpuhkan kota itu, untuk pertama kalinya, dialamatkan ke tempat yang benar, dengan nama, di depan saksi yang tak terhitung. Ia tidak menang. Belum. Tapi ia telah memastikan bahwa kebenaran ini tak lagi bisa dikubur diam-diam, karena terlalu banyak orang sudah mendengarnya, dan kebenaran yang sudah didengar terlalu banyak orang, seperti arus yang sudah menemukan jalannya ke tanah, sulit sekali dipaksa berbalik.