Balasannya datang tiga malam setelah kesaksian, dan datang persis dengan cara yang Reza ramalkan: pelan, rapi, dan dirancang untuk mengubah Anjani dari penyelamat menjadi ancaman di mata kota yang baru saja mulai mempercayainya. Mawar yang menelepon pertama, suaranya tertahan, dari ruang kendali tempat ia kembali bertugas di bawah pengawasan baru. Ada anomali di sektor timur. Gardu Dua Belas dan tiga gardu di sekitarnya menunjukkan tanda-tanda yang ia kenal terlalu baik: proteksi yang diutak-atik, beban yang sengaja didorong ke ambang, pola yang sama persis dengan sabotase Galih, padahal Galih sudah ditahan.
"Ini dipasang biar kelihatan kayak Hantu Gardu balik lagi," kata Mawar. "Diatur biar jatuh malam ini, pas kota lagi rame ngomongin kamu. Biar orang bilang, tuh kan, makhluk itu masih bahaya, masih bikin lampu mati. Biar keraguan masuk lagi. Biar kesaksian kamu keliatan kayak omongan orang yang sebenernya penyebab masalahnya."
Anjani memejamkan mata di ranjangnya. Tentu saja. Mereka tidak perlu membunuhnya. Lebih bersih, lebih aman bagi mereka, untuk membunuh kepercayaan padanya. Satu blackout di malam yang tepat, satu kegelapan yang bisa ditimpakan ke sosok bercahaya yang baru saja kota dengar mengaku turun tangan di gardu, dan seluruh kesaksiannya akan tercemar oleh kecurigaan. Bukan sabotase untuk uang lagi; ini sabotase untuk narasi, untuk membalik penyelamat menjadi tertuduh.
Dan inilah jebakan yang sesungguhnya, yang Anjani pahami dengan rasa dingin sambil duduk di tepi ranjang: cara paling alami baginya untuk mencegah blackout itu adalah turun tangan seperti dulu, masuk ke gardu, menahan jalur dengan tubuhnya, menyalurkan arus, menyelamatkan blok. Tapi tubuhnya tidak bisa lagi. Dokter sudah mengatakannya dengan jelas; satu pelepasan besar lagi dan jantungnya, yang sudah rusak permanen, tidak akan menangkap dirinya sendiri kali ini. Kalau ia turun tangan dengan kekuatannya, ia mati. Dan kalau ia tidak turun tangan, kota gelap dan namanya dicemari. Mereka telah merancang sebuah perangkap di mana setiap pilihan yang melibatkan kekuatannya menghancurkannya, secara harfiah atau secara nama.
Maka ia tidak akan menggunakan kekuatannya. Ia menyadarinya saat itu juga, dan kesadaran itu membawa ketenangan yang ganjil. Sepanjang berbulan-bulan ini ia mengira dirinya berharga karena kapasitor di tubuhnya, karena ia bisa menyerap dan menyalurkan arus seperti tak ada manusia lain. Tapi sebelum tubuhnya menjadi kapasitor, ia sudah menjadi sesuatu yang lain, lebih dulu dan lebih dalam: ia anak tukang servis dinamo, dibesarkan di antara koil dan multitester, teknisi yang membaca jaringan lebih baik daripada hampir siapa pun di kota ini. Dan jaringan tidak hanya bisa diselamatkan dengan tubuh yang menyala. Jaringan bisa diselamatkan dengan otak yang mengerti cara kerjanya.
"Mawar," katanya, dan ia sudah berdiri, menahan pusing, mencari ponsel dan kertas. "Jangan sentuh dulu gardunya dari sistem. Kalau kamu utak-atik dari SCADA, mereka bisa lacak dan bilang itu manipulasi lagi. Aku mau kamu kasih aku semua yang kamu lihat. Beban tiap gardu, setelan proteksinya, urutan yang mereka jadwalin. Aku mau baca polanya."
"Anjani, kamu nggak boleh ke gardu. Jantung kamu—"
"Aku nggak ke gardu buat lepas muatan," potong Anjani. "Aku ke gardu buat benerin rele. Pakai tangan. Pakai obeng. Kayak bapakku, kayak yang aku kerjain seribu kali sebelum tubuhku jadi aneh." Ia menelan ludah, dan ada sesuatu yang nyaris seperti senyum di wajahnya yang lelah. "Mereka kira mereka mojokin aku karena ngira aku cuma kekuatan. Mereka lupa aku teknisi dulu, baru jadi hantu belakangan."
Bayu, yang mendengar semua itu, sudah memakai jaketnya. Ia tahu lebih baik daripada mencoba melarang kakaknya. "Aku nyetir," katanya. "Kamu nggak boleh nyetir, dan kamu nggak boleh sendirian."
Mereka keluar ke malam Karangwetan yang terang, kota yang lampunya masih menyala karena malam besar itu, kota yang malam ini menjadi medan terakhir bukan untuk kekuatan Anjani melainkan untuk pengetahuannya. Di kursi penumpang, dengan kertas-kertas setelan proteksi di pangkuannya dan obeng ayahnya di kantongnya, perempuan yang seminggu lalu menyalakan seluruh kota dengan tubuhnya bersiap menyelamatkannya sekali lagi, kali ini dengan tangan yang gemetar dan kepala yang dingin, tanpa satu watt pun dari dalam dirinya.